Selasa, 27 Desember 2016

Cara Mengajari Wirausaha Anak Romantic Cotton

Profil Pengusaha Monic Subiakto 



Monica Subiakto berbisnis bermula keinginan sang anak. Dia, Amanda, ingin membuka usaha sendiri, dan ia mencoba memfasilitasi hal tersebut. Bisnis mereka berawal sederhana kok. Monica mulau jualan kaus- kaus asal Bangkok, Thailand. Dimana ia mendapatkan kaos tersebut dari seorang teman.

Respon ternyata cukup bagus, hingga Monica memutuskan membuat produk sendiri. Inilah cikal- bakal usaha yang lantas dia namai Romantic Cotton. Monic yang gencar mengikuti aneka pameran telah mampu meraup omzet sampai ratusan juta.

Uang Rp.3 juta digunakan membeli barang. Berdagang selama enam bulan uang berlipat. Lantas memasuki 2008 semakin besar, hingga Monica memutuskan membuka pabrik garmen sendiri, tepatnya mulai bulan Juli 2008. 

Bisnis tersebut didukung latar belakang karir. Ia pernah bekerja di Danar Hadi dan Matahari Department Store selama puluhan tahun. Karena masih bekerja menjadi karyawan. Ada koneksifitas ke pedagangan konveksi. Mangkanya dia kenal banyak pengusaha konveksi yang tersebar di Jakarta.

Monica memanfaatkan sistem maklun atau cut, make & trim (CMT). Dimana pengusaha konveksi tinggal mencontoh barang sample Monica buat. Selanjutnya pengusaha konveksi akan meniru dengan berbagai ukuran standar. Monic tidak juga mendesain sendiri produk bikinannya.

Terkadang merupakan contoh barang hasil buruan di luar negeri. Terkadang sih dia juga mendapatkan ide dadakan jika tidak puas akan barang buruan. Dia lantas merubah bahan. Mengaplikasikan beberapa hal yang berbeda. Modelnya juga tidak jarang dirubah pengusaha ini, yang juga fans desainer dunia Laura Ashley.

Kalau beda dari produk lainnya. Monic memilih cuma beberapa warna, ada dusty pink, mint green, dan juga mustard yellow. Warna lembut tersebut masih belum digunakan desainer asal Indonesia.

Mantan broker


Ternyata nih, Monic juga dikenal sebagai broker, ketika sang anak minta dibikinkan usaha. Monic sempat gugup. Lantaran Amanda masih duduk di bangku SMP. Melihat keinginan wirausaha sang anak yang begitu tinggi. Ia kemudian mengajak Amanda berkolaborasi. Anak Monic sejak remaja udah "ogah" kerja sama orang!

"Mungkin dia tidak nyaman melihat bapak- ibunya bekerja," jelas Monic. Karena ya namanya pegawai bisa berangkat pagi pulang larut malam.

Amanda sendiri sejak kelas 3 SD sudah jualan pernak- pernik. Dukungan Monic sebatas mengarahkan dan mengawasi. Permintaan lugu anaknya, ternyata didukung pengalaman dia sendiri, mulai dari jualan stiker, akesoris rambut, kemudian perlatan sekolah, yang Amanda beli secara grosir buat dijual lagi.

Monic mengakui Amanda lebih jago. Dia mampu merayu teman- temannya yang awalnya tidak mau. Dia mampu membuat konsep beli buat hadiah adik, atau teman yang ditaksir. 

Untuk awal berbisnis bersama mereka tidak mamakai uang besar. Pasalnya dia khawatir Amanda akan bosa ditengah jalan dengan bisnis itu. Uang sebesar Rp.3 juta itu didapat dari kakak dan pinjam asisten rumah tangga. Kenapa pinjam ke pembantu rumah tangga. Ternyata ada alasan khusus bukan semata butuh uang.

Ada tantangan bagaimana Monic harus kembalikan. Usaha mereka nih harus sukses. Uang harus sudah bisa mereka kembalikan kurang dari seminggu -sesuai dijanjikan Monic. "Saya ingin membuktikan, saya bisa berhasil," tegas Monic. Cara jualan Monic standar yakni beli dari kawan barang impor buat dijual kembali.

Waktu cuma seminggu uang tersebut menjadi Rp.6 juta. Monic lantas menepati janjinya mengembalikan uang ke asisten rumah tangga. Dipikir bisnis mereka ternyata menjanjikan juga. Monic merasa tertantang menambah modal sampai Rp.9,5 juta, dimana dia dapat pinjam kepada sebuah bank asing.

Tiga tahun hutang dicicil Rp.425 ribu perbulan. "Tanggung jawab membayar cicilan, saya serahkan kepada Amanda," ia menambahkan. Tujuannya agar Amanda sadar agar tidak bermain- main dengan bisnis. Bisnis mereka menyasar produk wanita berbahan dasar katun, katun lokal, impor Jepang, Korea, dan India.

Ada alasan tertentu kenapa Monic fokus di katun. Kain ini cocok buat Indonesia yang beriklim tropis. Ia menambahkan bahwa terjangkau kalangan menengah. Harga dikisaran Rp.175.000- 700.000. Eksperimen terhadap katun dilakukan Monic lewat tabrak warna, tidak monoton polkadot, bunga, atau garis- garis.

Di sehalai pakaian akan ada variasi warna. Dia terinspirasi pakaian bayi Amanda. Produk bernama Oliliy itu, warnanya lembut, dimana motif bunganya tabak lari. Empat warna bahkan dijadikan satu dalam satu helai pakaian. "Tapi, kok, tetap lucu," selorohnya.

Bisnis katun kuat


Warna tidak ngejreng justru menjadi kalem. Laura Ashley memberikan banyak inspirasi. Desainer yang dikenal memulai dari bisnis kain perca. Masalah utama Monic awal adalah warna itu sendiri. Tabrakan warna membuat satu pakaian butuh banyak kain. Tetap untung loh tak menghabiskan biaya produksi banyak kok.

Kemudian dia memakai uang Rp.12 juta. Uang tersebut dipakai buat memproduksi 50 helai pakaian. Ia serahkan pembuatan ditangan penjahit pilihan. Lahirlah bisnis bernama Romantic Cotton sejak Juli 2011 resmi. Branding kemudian menjadi fokus Monic dengan pengalaman belasan tahun di bisnis dagang.

Ia mencetak katalog. Meski uang terbatas, ia juga membuat paperbag. Koleksi pertama dipajang di sebuah bazar. Macam komentar diluncurkan masyarakat. Mulai yang menganggapnya baju tidur. Adapula yang kaget karena harga mahal buat bahan katun. Meski begitu, toh, jualan Monic habis dibeli masyarakat yang tertarik.

Penjualan berikutnya lewat bazar di sekitar rumah. Koleksi habis. Tinggal marketing mulut ke mulut yang berkembang di masyarakat. Sukses meski sekala masih kecil menaikan percaya diri Monic dan Amanda.

Bisnis mereka makin serius. Uang untung dijadikan modal kembali. Mangkanya rumah mereka di kawasan Kemang Pratam tertumpuk banyak kain katun. Memang sengaja disebar Monic. Warna- warni kain katun akan diseleksi lewat insting dipadu padankan di ruang tamu rumah mereka.

Target berikutnya promosi adalah Inacraft 2009, di Jakarta Convention Center (JCC), tepat pada April 2009 silam. Hasil lebih mengejutkan didapatkan Monic. "Stannya hampir roboh," kenang dia. Kan waktu itu dibantu Amanda dan dua asisten, hasilnya mengejutkan karena omzet nonjok sampai 150 juta!

Meskipun mulai berjalan baik. Pernah nih suatu ketika ada kesalahan warna. Meskipun sepele Monic tetap tidak suka. Dimana penjahit salah memasang warna resleting. Backpack warna kalem kok resletingnya warna hitam. Langsung deh dia kirim semuanya ke panti asuhan -dimana dia biasa juga memberi donasi.

Pokoknya Monic bisa dibilang perfeksionis soal kualitas. Mangkanya kerja sama dengan penjahit benar- benar dia perhatikan. Tidak boleh ada kesalahan. Kerja sama Monic sudah tersebar di Jakarta, Solo, Yogya, sampai Bali. Ia tinggal kirim desain gambar dan ukuran. Kalau di Jakarta dia awasi langsung pekerjaannya.

Jika ada masalah juga bisa menjadi ide bisnis. Contohnya suatu ketika mendapati kiriman kain perca yang tidak sesuai. Ukurannya terlalu kecil yakni 10x20cm dan 3x2cm. Waranya bagus, lucu- lucu, bahannya juga katun berkualitas. Dibuang sayang, akhirnya Monic memutar otak bagaimana biar tidak dia buang.

Dia pergi keliling mencari orang. Siapa saja yang bisa bikin aneka aksesoris, mulai kalung, cincin, bando, jepit, bros, tas, sampai taplak pun jadi. Ketika ada pembeli batal beli pakaian karena tidak ada ukuran. Jadi memilih memberi aksesoris buatan Romantic Cotton.

Sukses mereka memang tidak mudah. Tetapi dilalui karena memiliki passion. Sukses Monic selanjutnya apa yah. Sekembali dari ibadah Haji, Monic kepikiran membuat koleksi pakaian hijab. Tetapi tidak mau gegabah. Perlahan tetapi pasti akan terwujud. Dari 4 potong per- desain, jadi selusin, dua lusin dan terus.

Monic selalu memilih buat berkutat langsung. Selera kain katun berkualitas, kemampuan membaca selera pasar, dan tidak malu menjadi pengsuaha. Tidak malu buat keluar masuk pasar mencari bahan bagus. Cara penjualan juga unik awalnya dimana pelanggan meminta Monic mengirim banyak ke rumah buat dipilih.

Semua layanan terbaik diberikan Monic. Tujuannya adalah membangun kepercayaan kepada brand baru mereka Romantic Cotton.

Artikel Terbaru Kami