Selasa, 20 Desember 2016

Bisnis Paper Cutting Dewi Kacu Cutteristic

Profil Pengusaha Dewi Kacu


 
Berawal keisengan membuat seni potong kertas. Awalnya dia akan berikan sebagai hadiah buat ponakan. Nah, dari sanalah, Dewi Kucu menemukan ide bisnis. Dia menghasilkan puluhan juta cuma dari hobinya mengukir kertas. Usaha bernama paper cutting, yang mulai ditekuninya sebagai usaha sejak 2010 silam.

Karena latar belakang pendidikan arsitektur. Mangka Dewi gampang memasuki dunia paper cutting. Selain memang kehidupannya tidak jauh dari dunia seni. Dia pernah bekerja menjadi fotografer, juga pernah jadi digitak marketer selama empat tahun.

Pengalaman serta melihat peluang. Mangka sejak tahun tersebut Dewi mulai fokus. Berderet nama- nama beken menghiasi kertasnya, mulai dari pengusaha sampai orang nomor satu Indonesia. Seorang lulusan Universitas Tarumanegara, Jurusan Arsitektur, semakin ahli melalui aneka artikel tentang paper cutting.

Bisnis hobi


Dari hobi, dia mulai menyalurkan bakatnya ke orang terdekat. Mulanya menjadi hadiah buat saudara yang ulang tahun. Kemudian keluarga memintanya membikinkan. Mereka meminta pesanan khusus bahkan rela membayar. Animo akan bisnis meningkat, Dewi mempromosikan lewat Facebook, dan makin dikenal luas.

Gadis kelahiran 1985 ini, tahun 2011, masih sempat bekerja menjadi pegawai. Menjadi desainer dan juga fotografer di Vinotti Living. Kemudian dia makin serius ke sananya. Bahkan membuat brand sendiri, lalu membuat akun sosial media, serta membuat situs toko online sendiri.

Nama usahanya Cutteritic diambil nama alat pemotong cutter. Mencerminkan kreatifitas diatas segalanya, bahkan hanya bermodal peralatan sederhana. Pakai cutter cukup menciptakan produk berkualitas bernilai jual. Situs toko onlinenya dibuat sebaik mungkin, juga segampang mungkin dikases oleh pengunjung.

Dia juga menerapkan search engine optimization (SEO). Strategi yang mampu mengalirkan pesanan baru setiap harinya. Pesana makin banyak dibanding dulu. Tetapi, Dewi, masih bekerja menjadi pegawai dari pagi sampai sore. Pesanan dikejerkan waktu malam harinya. Bukannya lelah, ia malah merasa tenang dan senang.

Pasalnya mengukir kertas sudah menjadi hobi. Disalurkan malah membuatnya seperti meditasi. Berlanjut namanya makin dikenal tidak cuma dikalangan pembeli. Dewi mendapatkan sorotan dari media masa baik cetak maupun elektronik. Nama Cutteristic makin melambung membawa lebih banyak pesanan datang.

Tidak bisa menghindar lagi. Dewi memilih fokus mengerjakan bisnisnya. April 2014, Dewi resign, sudah tidak bekerja lagi menjadi Manajer Pemasaran Digital & Kreatif di Sunpride.

Bakat seni dan bisnis


Dewi mewarisi bakat seni dari sang ibu. Dia dikenal memiliki hobi membuat aneka ketrampilan. Namun, lucunya, ketika Dewi mendalami paper cutting, ibu menjadi orang pertama yang protes. Karena Dewi buat rumah jadi kotor karena banyaknya potongan kertas.

Sekarang ibu Dewi bangga akan anaknya. Lantaran melalui hobi menghasilkan sesuatu. Tidak cuma uang, tetapi kesenian indah eksotis yang membanggakan. Kunci sukses Dewi menurut kami: Adalah fakta dia tidak menganggap ini bisnis memberatkan. Hobi selamanya akan menjadi hobi tutur gadis cantik ini.

Berawal hobi untuk mengisi waktu luang. Disela- sela kesibukannya bekerja menjadi pegawai. Kalau saja, hal yang awalnya cuma kado, tidak menjadi minat besar orang. Mungkin Dewi tidak akan mau melepaskan pekerjaan. Apalagi lewat bisnis ini menghasilkan omzet lumayan yakni Rp.30- 40 juta.

Berawal marketing mulut ke mulut. Dewi mulai mengisi rasa ingin taunya. Seberapa besar orang akan mau mengapresiasi karyanya. Hingga membuka halaman Facebook, aktif di situs jejaring sosial, dan juga mau membuka toko online sendiri. Dari sekedar paper cutting melebar hingga bisnis desain interior kertas.

Ia iseng memention karyanya ke majalah interior. Dari sejumlah majalah desain interior dia mention di akun Twitternya. Salah satunya merespon kemudian mengajaknya kerja sama. Semenjak itu permintaan jadi makin membesar. Padahal jika melihat proses kerjanya dan peralatan cuma pakai peralatan sederhana.

Bedanya cutter dipakai Dewi punya bantalah. Disisi- sisinya ada bantalan khusus buat jari. Fungsinya buat menjaga jari Dewi tidak kapalan. Karena internsitas produksi yang lumayan. Bayangkan untuk membuat satu sisi desainya saja. Bagian terkecil dan detailnya butuh waktu sampai tiga jam pengerjaan.

Cutter merupakan pensil, kuas, pewarna dalam karyanya. Ini bukan sekedar barang dagangan tetapi karya seni. Dia tidak memakai kerta khusus. Cukup kertas biasa bahkan kertas bekas. Dalam pembuatan pola juga tidak spesifik layaknya pabrikan. Dia melakukan seperti maestro melukis di atas kanvas dengan kuas.

Ini tentang apa yang tangan kerjakan. Orang beli karena indah dan karena datang dari tangannya. Tidak ada mesin yang membuat ratusan desain. Meskipun sudah menjadi bisnis menjanjikan. Dewi memilih tidak mau merekrut pegawai. Meskipun banyak orang bisa lukis, karya seni adalah milik mereka pembuatnya.

Semua karya Dewi buatan tangan. Disamping itu, paper cuttingnya tidak semua merupakan barang jualan. Ada yang dijadikan koleksi pribadi. Bisnis ini juga tidak mau mengeksporalif. Maksudnya membuat masal kemudian ditawar- tawarkan. Murni barang dihasilkan merupakan buah pikiran inspiratif manuasia.

"Kalau ada pesanan tapi kepepet deadline, saya prefer tidak ambil," imbuhnya. Jika banyak orang berharap karyanya menjadi booming. Dewi justru menjaga agar paper cutting tetap dijalur semestinya sebagai seni rupa.

Semanjak terekspos media, perasaan khawatir cukup menghinggapi. Banyak media besar mau mengolah apa karyanya. Namun dia memilih menjaga paper cutting sebagai kerajinan. Karena itulah dia mulai jarang aktif di sosial media baik Facebook ataupun Twitter. Dewi hanya tetap memajang desainya tanpa aktif marketing.

Dewi merasa bisnis dijalankan adalah seni. Harus menunggu mood bagus barulah jadi. Layaknya lukisan seni rupa. Dewi tidak mau dipaksa- pakas berproduksi. Namun nama Dewi Kucu sudah terlanur populer di kalanga pencari Google. Alhasil pesanan besar datang tiba- tiba dari pengusaha besar Tomy Winata.

Dia tanya Pak Tomy shio -nya apa. Dewi kemudian mengerjakan buat dia. Pesanan semakin deras mengalir hampir setiap hari karena Tomy Winata bukan orang biasa.

Bisnis jiwa


Cutter adalah soulmate itulah ujar Dewi ke Fimela. Dia punya 8 jenis cutter aneka warna. Pemakaian biar tidak bosan. Namun tidak semua cutter dipakai. Kadang dia minta dibelikan hingga ke Jepang, Singapura, pokoknya kalau ada. Tidak semua juga dipakai karena rasa nyaman tidak ditemukan.

Cutter harus ergonomis nyaman dipakai. Hanya ada satu yang sangat sering dipakai. Karena rasanya sudah nyaman di tangan Dewi.

Ketika dia membuat produk tidak sembarangan. Setiap karya dihasilkan terselip unsur budaya Indonesia, khususnya pola Batik. Pemberian unsur budaya dilakukan sebisa mungkin. Disetiap pesanan akan coba ia telisipkan budaya. Adalah batik megamendung menjadi favorit karena sesuai akan citra paper cutting.

Megamendung menggambarkan kesuburan, harapan akan kelancaran usaha, yang mana merupakan satu buah motif turunan dari budaya China. Cutteristic mengambil pedoman passion and obsession. Passion berarti semangat. Semangat buat tetap fokus meski lelah karena polanya sangat tipis dan sulit dipotong.

Obsession sendiri tentang orang lain. Bagaiman tetap membuat orang selalu tertarik akan karyanya. Juga bagaimana mengubah pola bahwa batik terkesan kuno.

Karya yang menjadi kebanggan? Ia pernah membuat paper cutting ukuran 1x1meter. Berisi foto sepasang suami istri pengusaha Indonesia. Dimana sang pengusaha cuma mengirim foto ukuran 17kb. Karena sudah dipercaya maka Dewi bekerja super- keras buat memuaskan permintaan klien khususnya tersebut.

Karena ada idealisme dibalik karnya. Dewi bisa dibilang seniman. Jangan selalu mengharapkan untunng jika menghasilkan karya. Esensi seni bisa hilang jika kamu mulai mengejar untung semata. Dewi hanya membuat apa di kepalanya. Terkadang membuat tanpa berpikir apa akan laku dijual atau tidak.

Meskipun bahan relatif murah. Dia berani mematok harga tinggi. Awal buat karya ukuran A5 dijualnya seharga Rp.300 ribu. Sekarang ukuran 35x35cm dihargai sampai Rp.1,4 juta. Ukuran 35x35 menjadi favorit dipesan pembeli untuk hadiah pernikahan atau lahiran anak.

Meskipun bahan baku murah. Ia berani mematok harga tinggi. Yah karena dia percaya nilanya setara nilai dengan jerih payahnya. Buktinya dia tidak pernah sepi aliran pesanan. Sejumlah pesanan dari Hong Kong, Australia, Singapura dan Malaysia.

Tidak ada kesulitan berarti dalam bisnisnya. Kalau desain akan diberikan awal. Tiga desain akan ditawarkan kepada pelanggan dulu. Soal desain juga bisa tinggal potong. Desain lama terkadang sudah ada stok buat dipotong nanti. Justru memilik peluang lain seperti dibuatkan kalung atau juga dijadikan hiasan interior.

Artikel Terbaru Kami