Minggu, 13 November 2016

Raja Sapta Oktohari Pengusaha Promotor Tinju

Biografi Pengusaha Ketua HIPMI 


 
Pria punya selera. Bisnis miliknya telah menjangkau adrenalin kelakian. Raja Sapta Oktahari bukan lah pengusaha muda biasa. Dikenal sebagai pebisnis promotor, dikenal pula ketua umum Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), seorang petualang yang menyalurkan adrenalinnya ke bisnis ditekuni.

Mulai menjadi promotor tinju, Formula Asia Drift, kemudian mendatangkan Justin Bieber -yang penuh akan kontroversi-, ataupun mendatangkan David Foster. Tidak cuma mempromotori termasuk menambang dan bisnis penyewaan jet. Penggagas gerakan Bike to Work Kalimantan ini memang pria sejati.

Dia adalah komosaris OSO Group. Berkisah masa SMA dijalaninya dengan bersusah. Dia mulai berbisnis jualan pakaian bersama teman sekolah ke Tanah Abang. Mangkanya sepulang sekolah, di rumah, dia akan menenteng banyak kantung kresek berisi pakaian.

"Jualan pakaian itulah, usaha saya yang pertama," tuturnya kepada Viva.co.id

Belajar berbisnis menurutnya cukup mengalir. Orang tua tidak mengajarinya khusus. Tidak cuma berhenti berbisnis, dia juga disibukan kegiatan OSIS, jadi yah, Okta jarang sekali berada di rumah.

Dari berorganisasi membuatnya lebih percaya diri. Pengalaman berorganisasi dibawa sampai ke Amerika Serikat. Ketika berkuliah di Oklahoma dipercayai menjadi Wakil Ketua Perimpunan Mahasiswa Indonesia -Amerika Serikat (Permias).

Bisnis sejak muda


Dia bangga karena dia adalah perpaduan terbaik. Antara ayah dan ibunya, dimana ayah memberi Okta dalam hal kedisplinan. Dia juga mengingatkan bahwa hidup berlajar dari pengalaman. Jujur Okta sering sekali berontak bahwa kenapa begini, kenapa begitu, akhirnya dia merasakan ada benarnya.

Lingkungan mendorong pola pikirnya. Ketika SMP, ia mengadakan lomba balap tingkat DKI Jakarta, di masa itulah pula dia berminat akan dunia tinju. Terutama ya karena sang ayah juga promotor tinju. Puncak ketika ayah mempromotori Ellyas Pical dan Raul Diaz tahun 1988.

Tinju menjadi bisnis kenapa tidak. Ia memadukan kesukaan akan olah raga menjadi bisnis: Sebut saja ada bersepeda up hill, arung jeram, balap mobil, menembak dan bungee jumping. Selesai SMA dia lanjutkan berkuliah ke Oklahoma City University, Amerika Serikat.

"Padahal cita- cita saya waktu kecil ingin jadi pilot," selorohnya. Usia 22 tahun, selesai berkuliah, dia lalu kembali berbisnis pakaian (garmen) langsung ke pusatnya, Tanah Abang.

Okta tidak malu masuk ke pasar. Pengalaman tersebut begitu luar biasa bagi lulusan luar negeri. Tidak malu merupakan kunci sukses Okta. Baginya bisnis tidak sekedar menjual, berdagang, juga intuisi harulah berperan. Lantaran dia sendiri tau rasanya ditipu, dibohongi orang, dicuri, dicelakai, dijahati, sudah biasa.

"Disitu saya juga nipu, saya juga bohongin. Hahaha. Jadi mereka tak bisa bohongin saya," candanya.

Sebuah pembelajaran besar langsung. Dia tidak menemukan itu di pendidikan formal. Bagi pria kelahiran Jakarta, 19 Oktober 1975, terlahir dari keluarga konglomerat OSO Group, Oesman Sapta Odang, tetapi tidak pernah malu mengakui bahwa dia pernah gagal total!

Bisnis pengusaha muda


Baginya terjun langsung ke bisnis merupakan kenikmatan. Melihat jelas bagaimana transaksi perdagangan berjalan. Uang miliaran berputar di depan mata. Banyak jenis manusia berada di satu tempat tersebut. Dia berhadapan langsung dengan pembeli. Memaksa dirinya berpikir keras akan perkembangan bisnisnya.

Dia menggunakan kemampuan bahasa asing miliknya. Dan tidak malu belajar bahasa India sendiri. Dia juga menggunakan ilmu ekonominya di luar negeri. Bagaimana transaksi antar negara. Termasuk juga bagaimana memilih kain terbaik, memilih produk garmen terbaik, dibawa ke toko dan dijadikan contoh.

Belajar berbisnis dari level pejabat sampai sopir. Belajar komunikasi mereka langsung. Dia belajar cara menempatkan ritme komunikasinya. Pengalaman menjadikan dia komunikatif, banyak idenya, kreatif, dan pandai bergaul, layaknya pembelajaran dari sang ayah.

Kegagalan dianggapnya bukan kekalahan. Pembelajar setiap kegagalan membawanya ke puncak. Tidak ada rasa lelah menjadikan kehidupan nyata layaknya perkuliahan. Awalnya dia sempat berpikir hidup menjadi pegawai. Mencari kerja dianggap akhir perjalanan pendidikan formalnya.

Namun ujungnya ketika bekerja: Dia bekerja sangat keras, tidak ada uangnya. Jugalah bukan pula bisnis buat eksistensi atau cuma buat gaya- gayaan. Ia tidak memungkiri bisnis memang untuk mencari uang. Dia akhirnya mampu memisahkan antara komersialisasi dan idealisme.

Dia memang mengaku sempat idealis. Akan bisnisnya, tetapi akhirnya Okta memilih mengkomersialkan apa benaknya. Kunci bisnis adalah distribusi. "Yang kita mau pasti kita bisa. Tapi kalau kita gak mau ya, pasti jadi enggak bisa."

Namanya besar berkat bisnis promotor. Khusus laga tahun 2008, dimana dia menyelenggarakan tinju kelas dunia, tidak cuma di Indonesia tetapi Amerika. Dia mempromotorkan laga Daud Yordan. Dan mengajak orang Indonesia melihat tinju bukan sekedar hiburan atau tontonan. "Tinju itu seni," papar Okta menambah.

Okta memiliki ambisi jelas. Bagaimana menjadi mandiri secara finansial. Pengen mendapatkan uang buat berpergian ke berbagai tempat. Kekayaan utama menurut Okta adalah koneksi. Kan enak tuh jalan bareng temen ke tempat- tempat seru, yang tidak banyak orang bisa.

Sejak kecil dia sebenarnya ingin menjadi pilot. Nah, dari sanalah, mungkin hasratnya tersalurkan lewat satu bisnis yakni Enggang Air Service. Dimana mereka melayani penerbangan eksklusif. Mereka memiliki banyak jenis pesawat jenisa Legacy, kapasitas 16- 12 penumpang, serta dua pesawat Cessna Citation.

Bersama bisnis lain, termasuk PT. Perikanan Teluk Batang, bisnisnya termasuk penangkapan ikan dan penyimpanan ikan. Punya 17 kapal dengan kapasitas 300 ton per- hari. Tempat penyimpanannya mencapai 3000 meter persegi dan diolah menjadi ikan kalengan.

Untuk bisnis sekuritas dia memiliki PT Reinvestama Surya Optima, yang sudah menyebar ke berbagai pelosok Indonesia. Kemudian PT. Rennaisasance Sinergi Optima, bidang trading, mining, serta investasi. Kemudian ada Mahkota Promotion, bisnis event organizer, yang mengangkat namanya.

Semuanya tidak lain merupakan hasil usaha dari nol. Bayangkan Okto juga sempat berjualan besar loh. Dari Makassar, merambah sampai Pare- Pare, kemudian sampai ke tanah leluhur di Kalimantan. Termasuk usaha properti Mahkota Mayong, dengan hotel megah di pinggir kota Sukadana, Kalimantan Barat.

Semenjak sang istri meninggal, Okto belum kelihatan serius dengan wanita manapun, pada dasarnya dia suka wanita keras, tegas, independen, menghargai diri sendiri, pintar dan punya kharisma. Kalau soal fisik ayah dari Sultan (13) biasanya dekat dnegan cewek- cewek mungil.

Jika ditanya tentang fantasi liar. Maka dia menjawab dia sudah memilikinya. Setiap usaha dijalankan oleh Okta ya berasal dari pemikiran liarnya. "...menjadi orang alim," selorohnya menyebut kalau benar- benar apa yang dia inginkan kelak.

Artikel Terbaru Kami