Kamis, 03 November 2016

Biografi Made Bali Pemilik Bisnis Kayu Bekas

Profil Pengusaha Made Sutamaya 



Jika orang ke pantainya Bali bersenang- senang. Disebuah sudut, ada sosok Made Sutamaya, yang tengah asik mencari sampah. Barang tidak berguna tersebut dirubahnya menjadi emas. Loh, bagaimana caranya, ya dengan merubahnya menjadi barang daur ulang. Inilah kisah pengusaha asal Bali.

Made mengingat semua bermula puluhan tahun silam: Made tengah asik melamun memandangi tumpukan sampah di tepi pantai. Dia mengingat ada puluhan potong ranting, potongan kayu juga ada, aneka ukuran menumpuk seperti gunung. Tiba- tiba kepikiran mengumpulkan mereka.

Dikumpulkan kemudian dirubah menjadi sesuatu. Made dari sekedar iseng mampu menghasilkan jutaan rupiah.

Bisnis sampah


Alkisah dia bercerita pernah bekerja di galeri seni. Made paham soal mabel, terutama bagaimana membuat kerajinan furnitur. Lantaran tragei bom Bali 2002, bisnis perusahaan tempatnya bekerja mengalami masa sulit. Sepi maka berdampak kepada penghasilan Made pribadi.

Ketika dia melihat tumpukan kayu limbah di tepi pantai. Muncul lah ide membuat furnitur berbahan dasar kayu bekas. Dia memang bukan ahli desain interior. Namun kreatifitasnya melalang buana lebih jauh. Jika penulis istilahkan melampaui mereka yang berpendidikan tinggi.

Bayangkan membuat furnitur berbahan bekas?

Bahannya gratis. Ia tinggal mengumpulkan dan dibawa pulang. Selain itu juga membantu lingkungan pula. Ia menceritakan penuh semangat -sambil memunguti ranting pohon, namun awalnya dia sama sekali tidak membayangkan bentuknya, bahan kayu- ranting bekas mau dibikin apah.

Dia memungut kayu bekas sampai dua kantung. Dibawanya ke rumah, lantas dimasukan ke galeri kecil- kecilan miliknya. Ayah empat anak ini lantas membongkar- bongkar ranting tersebut. Seolah seperti satu permainan puzzle hingga Made menemukan bentuk tepat.

"Saya menjadikan ranting- ranting itu penghias pinggiran kaca rias," jelasnya. Setelah itu Made akan mulai menawarkan dan laku Rp.200.000.

Ia menuturkan terbantu akan pamor Bali. Kerajinan tangannya begitu tersohor dikalangan wisatawan asing. Ya mudah baginya menjual hasil karya tersebut. Mereka bahkan meminta lebih variatif soal model. Inilah peluang usaha dibayangkan Made. Makalah dia pulang, semakin bersemangat buat mencari limbah kayu.

Ia akhirnya mendesain hiasan dinding, meja rias, harganya bervariasi dari ratusan ribu sampai bisa jutaan rupiah. Mungkin terlihat gampang tetapi tidak juga. Made lantas bercerita kepada Indotrading.com soal perjalanan bisnisnya. Dimulai tahun 2003, sempat bekerja di perusahaan mabel sampai 23 tahun lamanya.

Bisni Kiosk Gallery ternyata susah- susah gampang. "Ya saya memang punya mimpi ingin sekali menjadi pengusaha," Made semangat. Modal awalnya memang murah, tinggal kantung plastik, kayu bekas, dan juga paku. Sangat beruntung pengalaman bekerja di toko mebel begitu berasa mendukung bisnisnya kini.

Punya galeri sendiri


Ia yang hanya lulusan sekolah menengah atas. Mendadak menjadi jutawan bermodal sampah. Kayu didapat gampang ketika musim hujan. Kan kayu akan hanyut dari asalnya lewat sungai lalu ke laut. Kemudian dia mengumpulkan mereka jika sudah terbawa ombak ke pantai.

Ia menjelaskan bahan dikumpulkan ialah patahan kayu dan ranting. Membangun bisnis tidaklah mudah. Ia ingat betul awalnya dia cuma ngontrak. Dari uang jerih payah menawarkan kesana- kemari. Uang tersebut dibuat ngontrak satu rumah, yang disulapnya menjadi workshop sederhana. "Awalnya saya ngontrak dulu..."

Sukses kemudian penghasilan Made dijadikan rumah. Membeli rumah, kemudian Made kembali menjadi "pemulung" dipinggiran pantai. Dengan jarinya merakit sendiri produknya. Kebanyakan kayu tersebut ia katakan masih layak pakai. Tinggal dikeringkan karena habis terendam di laut lumayan lama.

Dirakit dulu kemudian barulah didesain bentuk. Kayu dijadikan berbagai perkakas rumahan. Kalau sudah bentuk interior dianggapnya paling susah. Dia menyebutkan butuh lebih dari sekedar merakit. Desain yang dia rencanakan harus detail termasuk penggunaan bahan kayu apa.

Dilanjutkan mau bagaimana agar konstruksinya kuat. Beda jika dia membuat patung burung, ya tinggal ia pakai imajinasi.

Bebekal pengalaman bekerja sebagai pegawai furnitur. Dia juga memiliki pengetahuan tentang desain interior. Kioski Gallery cuma berbekal paku dan kayu bekas. Potongan kayu panen ketika musim hujan tiba. Namun ketika musim panas, makalah dia kebingungan ketika harus mencari kayu- kayu bekas.

Dia hanya memilih kayu terbaik. Interior desain bikinan Kioski Gallery tidak disangka. Wujudnya seolah dibuat oleh lulusan sekolah desain. Keperluan interior produknya ekslusip, harganya bervariatif ya dari bernilai ratusan ribu sampai jutaan. "Macam- macam ya hingga Rp.6 juta," paparnya.

Konstrukis kayu kuat. Ketahanan luar bisa. Dia sudah memilah dahulu. Kayunya keras sekali, kenapa keras ternyata ada rahasia alam, bayangkan saja ikan keras terendam air laut. Ikan diawetkan pakai garam kan? Nah, prinsip ini diaplikasikan kekerasan kayu tersebut, kayu- kayu terendam sampai berpuluhan tahun bisa.

Konstruksi kayu terbentuk karena proses kimiawi. Terombang- ambi di air kemudian mengawetkan produk buatannya tanpa pelapis kayu! Ketahanan kayu menurut Made sampai 20- 30 tahunan. Bisnis yang dijalankan Made merupakan hobi. Jadi senang lah menekuni bisnis tersebut dan menghasilkan uang.

Bahannya kayu bekas di pinggiran pantai. Sambil menyelam minum air laut. Sambil menjadi pengusaha juga menjaga lautan. Sambil menghasilkan uang lingkungan terselamatkan. Beruntung Made tinggalnya di pinggiran panta jadilah kepikiran. Pria kelahiran 10 Oktober 1967 ini memang bukanl sembarangan orang.

Bisnis Eropa


Macam desain interiornya sudah merambah Eropa. Dari lampu sampai meja rias, semuanya adalah hasil pemikirkan kreatif Made Sutamaya. Sejak didirikan 2003 silam, kini, bisnisnya sudah merambah sampai ke Eropa, mulai Belanda, Prancis, Italia, sampai Afrika.

Pertama kali berbisnis dia membayangkan. Dia menunggu sambil melamun di galerinya, di Tegalalang, Bali. Karena sepi sangat dia terpaksa bergerak. Made bergrelia mencari pembali sendiri. Jalan terbaik ia mengikuti aneka pameran. Inilah alternatif mencari pembeli dan meningkatkan brand awerness nya.

Berawal dari pameran satu, ke pameran lainnya Kioski Gallery mulai mendapatkan pesanan. Made sangat menyarankan buat pengusaha pemula seperti kita: Ikutilah pameran bisnis dimanapun. Sukses menjual di event atau pameran, dia banting stir memanfaatkan sosial media Facebook, Twitter, dll.

Made mulai dikenal sebagi desainer interior kayu bekas. Omzetnya mampu nembus Rp.300 jutaan loh. Ia menyabet banyak penghargaan berkat itu. Sebut saja Prama Karya Award 2015 oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Dibantu oleh 30 orang karyawannya, yang kebanyakan merupakan putus sekolah.

Ibu- ibu pengangguran direkrutnya. Ia membina dan mempekerjakan mereka. Kemudian dia memiliki 250 mitra bisnis tersebar di seluruh Indonesia, ada di Bali sendiri, Lombok, Jawa Timur, dan Sumbawa. Dia sendiri aktif mengajak anaknya menjadi penerus bisnis sekarang. Ia mengikutkan banyak pameran bersama dia.

"...mereka juga dilibatkan dalam pembuatan seni ini," Made berharap usahanya tidak akab berhenti disini. Akan ada penerus buat bisnis kelak yakni anak- anaknya.

Tantangan buat Made ialah bahan baku ada ketika naik air. Ketika banjir bahan kayu akan banyak kumpul. Maka ketika musim panas maka dia menyiasati. Termasuk mengumpulkan kayu tersebut dahulu. Saran dari Mada bahwa pengusaha harus agresif memasarkan. Janganlah menunggu pelanggan datang tetapi datangi.

Artikel Terbaru Kami