Kamis, 17 November 2016

Susahnya Menjadi Pengusaha Kentang Goreng

Profil Pengusaha Robby Widjaya 



Pepatah mengatakan kegagalan awal kesuksesan. Inilah kisah Robby Widjaya. Pengusaha sukses yang satu ini begitu sangat bersemangat. Padahal sekitar lima tahunan lalu, dia sudah hidup nyaman menjadi salah satu pemasok aneka perlengkapan farmasi. Sampai nekad membuka usaha bersama empat kawannya.

Dia bersama kawan pengen membuka usaha gampang. Bikinnya mudah dibanding bisnis lain. Lalu mereka menemukan bisnis kentang goreng. Untuk membuat berbeda tidak memakai saus sambal. Ia memilih buat meracik bumbu sendiri ditambah mayonais, mak nyus.

Aneka rasan toping mengejutkan. Ayah seorang anak yang idenya dadakan. Tetapi ternyata hasilnya cukup menggiurkan. Pada 8 Desember 2005, resmi lah nama bisnis mereka, yaitu K- Patats menjadi merek dagang mereka. Adapun abjad K pada namanya berarti kepanjangan "King" atau raja.

Bisnis tidak gampang


Sementara Patat merupakan bahasa Belanda -bukan berarti jorok loh. Artinya tidak lain yah kentang, atau jika digabungkan maka namanya Raja Kentang. Ia ingin menciptakan sesuatu yang baru dalam tren bisnis kentang goreng kita.

Bisnis ternyata tidak semudah diucapkan. Awal dia bermimpi bisnis miliknya akan menjadi raja. Lalu dia malah mengalami kerugian. Tiga bulan pertama omzet penjualan dibawah Rp.100 ribu. Satu gerai miliknya sepi pembeli. Gerai di Pasar Atum tersebut ternyata dibiyaai patungan, bahkan sampai nilai puluhan juta.

Masa sulit membutuhkan komitmen bersama. Semangat teman Robby ternyata tidak sehabat itu. Bentuk komitmen tidak mampu membendung rasa putus asa. Bisnis mereka dianggap tidak prospektif. Sementara Robby masih ingin melanjutkan K- Patats. Beberapa masih bertahan bersama Robby memilih tetap jalan.

Bendera bisnis mereka harus tetap jalan. Aneka promosi makin gencar dilakukan. Sekitar gerai mereka mulai mempromosikan manfaat kentang. Mengenyangkan tidak menggemukan. Bulan empat bisnis milik mereka mulai naik cepat. Pertumbuhan bahkan mencapai tidak cuma puluhan tetapi ratusan persen.

Komitmen menurut Robby merupakan kunci. Komitmen bisni seseorang akan bisnisnya berbeda. Makin kamu berkomitmen maka akan ada jalan. Inilah perbedaan antara orang berwirausaha mengikuti trend dan mereka yang berhasrat menjadi wirausaha sebenarnya.

Hasilnya dapat dilihat, ketika pertengahan 2006 -an, dia mengingat orang mengantri baik remaja ataupun dewasa buat membeli kentang goreng saja. Anak- anak juga suka kentang goreng mereka. Bahkan antrean satu orang bisa menunggu sampai dua jam. Pelanggan mencapai 80 orang mengular menunggu pesanan mereka.

Sukses bisnis Patats tidak membuat puas. Mereka lantas menerapkan sistem inden. Maksudnya orang bisa memesan, dibayar dimuka, kemudian bisa ditinggal buat belanja dulu. Untuk mengakali mereka lantas memugar agar tempat menjadi lebih luas.

Peralatan diperbanyak untuk menangani pembeli membludak. Lebih cepat memasak tetapi tidak merusak kualitas rasa. Ia juga menambah jumlah pegawai mereka. Setelah masuk September, mereka lantas mulai menawarkan sistem franchise, dimana mereka menemukan mitra pertama yang mau mendukung dua gerai.

Dua gerai di Tanjung Delta Plaza dan Royal Plaza, dibuka bersamaan. Gerai mereka bahkan sampai ke kota lainnya, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Solo, Malang, dan Semarang. Di luar Jawa ada di Manado dan Makassar sampai ke Jayapura, bisnis kentang aneka saus miliknya makin mantap.

Bahkan sampai di Tanjung Selor, yang pengiriman bahannya sulit, dia tetap menerima tantangan tersebut karena komitmen. Membesarkan bisnis sudah pernah dirasakan sulit. Banyak tantangan ditanggapi penuh kepercayaan diri. Penyemangat utamanya adalah komitmen berbisnis agar sukses besar.

Dua tahun sudah bisnsi Robby eksis. Karena daerah pengiriman ada yang sulit. Harga Patats pun melonjak sampai dua kali. Namun justru karena medannya sulit, maka tidak ada perasaingan berarti di sana. Langkah selanjutnya dia ingin membuka bisnis sampai Malaysia dan Singapura juga.

Artikel Terbaru Kami