Senin, 21 November 2016

Ambisi Buruh Ilegal di Suburnya Bisnis Jamur Thailand

Profil Pengusaha Than Wai Aung 



Ia berkata, "saya tidak pernah mau menjadi pegawai siapapun." Kisah seorang imigran asal Burma yang kini tinggalnya di Thailand. Pendatang asal Vietnam tersebut terjebak. Dalam rutinitas bekerja menjadi buruh di negara lain. Setelah mendapatkan pelatihan pria 44 ini menjadi pegawai kontruksi sebuah perusahaan.

Than Wai Aung menghabiskan waktu selama hampir 16 tahun -semenjak pindah ke Bangkok, Thailand. Dia juga bekerja tidak cuma membangun perumahaan di Bangkok, termasuk membangun beberapa properti di kawasan North.

Hingga tiga tahun berselang, Than lantas mengunjungi sebuah provinisi, yakni Ratchaburi, sebuah provinsi perbatasan Thailand. Disana dia menemukan sebuah kegiatan menarik hati. Warga sekitar asik menanam jamur untuk bertahan hidup. Dorongan membawa Than menetap di kawasan tersebut, tidak bekerja lagi.

Bekerja konstruksi menurutnya sangat berat. Sementara membudidaya jamur dianggapnya asik. Karena ia mengatakan suka alam. Kecintaan akan alam inilah dia bertahan. Justru ketika passion -nya menemukan jalannya. Ternyata pasaran Ratchaburi justru tidak mampu menampung bisnis budidayanya.

Terlalu bersemangat hingga jamurnya banyak rusak. Tidak mau jamurnya rusak, akhirnya dia memutuskan kembali ke Kota Bangkok.

Bisnis alami


Pertama kali menginjakan kaki di Thailand. Dia tidak bisa berbicara bahasa lokal. Tidak pula mampu bicara bahasa Inggris sempurna. "Itu sangatlah susah," kenang Than. Mencari pekerjaan juga semakin susah. Dia cuma bekerja menjadi pekerja konstruksi. Karena tidak punya surat ijin jadilah dia terkadang ditangkap.

Dari bekerja menjadi buruh konstruksi, Than hanya menghasilkan antara 200 hingga 300 bath -atau di sekitaran $6- 9 per- harinya. Pandangan tentang jamur juga sudah ada. Ketika dia bekerja menjadi buruh konstruksi dia merasa kenapa tidak ditanam. "Kenapa tidak membudidaya itu?"

Pikiran lain, ya, tidak ada satupun teman melakukan hal sama. Dia merasa inilah pekerja utamanya. Dulu, pernah dia bekerja menjadi di perusahaan farmasi Vietnam, angan- angan Than memang sudah menjelajah mau menjadi boss buat dirinya sendiri.

"Dan ketika saya datang ke Thailand, saya tau saya tidak akan pernah kaya bekerja dengan orang lain," ia menambahkan, inilah mimpi besarnya.

Bicara mengenai Vietnam tidak ada masa depan. Dan ketika kamu berbicara buruk tentang militer. Kamu akan ditangkap. Oleh karenanya dia datang ke mari (Thailand). Dia berkata di Vietnam perasaan takutnya sampai 24 jam. Kamu tidak boleh asal ngomong. Sangatlah susah hidup dibalik ketakutan di sana dulu.

Hingga dia datang dan menetap di Ratchaburi, di Barat Thailand, yang mana berjarak dekat dengan garis perbatasan antar dua negara. Berbipikir mengenai bisnis jamur. Awalnya tidak berjalan seperti dia akan bayangkan. Tidak ada seseorang mengajarinya menanam dan memanen jamur, dia belajar otodidak loh.

Dia pernah nih menaruh terlalu banyak air. Alhasil media tanamnya, kantung- kantung baglog, miliknya malah membusuk dan bibit jamur tidak tumbuh. Namun perjalanan waktu hasilnya ternyata menggiurkan. Apalagi pertumbuhan Thailand menaik. Oleh karena itu, banyak orang Vietnam menyusup masuk ilegal.

Disisi lain, ada keburukan disana, banyak perusahaan konstruksi mempekerjakan imigran gelap. Mereka mau dibayar murah karena tidak punya surat. Mangkanya kisah Than termasuk sangat langka. Dia bahkan mampu menjual tinggi ke Thailand. Dia beralih menjadi pengusaha jamur menghasilkan lebih banyak uang.

Bisnis sederhana


Dia menyewa tempat di dekat kota Thailand. Dimana tempat itu dikenal kering, diantara kolam ikan lah dia mendirikan gubug kecil. Biaya sewanya lumayan kecil yakni $16- $32. Karena letaknya dekat Bangkok ia merasa cukup buat memasarkan hasil panennya.

Than juga niat mengikuti pelatihan dari International Labor Organization (ILO), yang menjalankan sebuah program bernama Community Based Enterprise Development (C-Bed), mana tujuannya memberikan dukungan kepada pengusaha kecil kemudian saling berbagi pengalaman.

Ketika awal berbisnis dia buta. Kalau untung uangnya pasti dihabiskan. Lewat pelatihan dia mulai membagi buat disimpan. Sebagian lagi dijadikan modal kembali. Dia memperhitungkan berapa bibit dibutuhkan buat menghasilkan untung. Menghitung berapa kilo dia beproduksi nanti. Berapa banyak jamur dia menjual dan simpan.

Dia kembali ke tempatnya. Mulai mengamati setiap baglog berisi bibit. Rak- rak kayu menampung hasil jerih payah Than. Rajin membersihkan jamur agar akarnya bebas spora. Dia mulai memanen, menimbang, kemudian dia akan mengantar ke tempat distribusi lewat motor, dimana di sana masih dibawah konstruksi.

Pembeli utama Than kebanyakan juga para buruh Burma. "Saya mau menjadi orang kaya -cukup kaya buat membeli mobil. Melalukan apapun yang saya mau lakukan -tanpa kamu takut menjadi melarat," ia berujar.

Sakarang dia bisa menjual apapun dia budidayakan. Than sudah memiliki perlengkapan. Cuma masalahnya dia belum memiliki lahan. Dia butuh lahan lebih luas dan sedang mencari. Than juga bisa jualan baglog ke orang- orang. Ini lebih menambah pendapatan Than. Meski efeknya nanti akan banyak kompetitior, ia tidak takut.

"Saya suka bekerja keras untuk bisnis saya," jelasnya. Dalam sebulan dia menghasilkan omzet sampai 20 ribu bath!

Jika dulu dia menawarkan diri: Sekarang distributor datang sendiri mengunjungi kebunnya. Dia memiliki ide mengurangi harga, tetapi justru dia mengurangi waktu dan biaya, dimana dia menggunakan biaya buat bahan bakar motor. Dia awalnya bekerja tanpa tujuan. Kapanpun dia dapat untung langsung dipakainya!

Untuk memperluas bisnisnya, dia mempekerjakan beberapa pegawai, yang ternyata juga imigran Burma. Ia punya tujuan memperluas produksi. Dia ingin mencapai 70- 80kg per- hari. Pelatihan kewirausahaan telah memberinya pengetahuan soal memperluas bisnis.

"Saya bisa melihat dalam dua sampai tiga tahunan saya akan menjadi entrepreneur (sejati)," tutup.

Artikel Terbaru Kami