Selasa, 18 Oktober 2016

Penjual Mie Ayam Paling Kaya Rasa Waralaba

Profil Pengusaha Wahyu Indra 


 
Ulet berbisnis pantas saja Wahyu Indra sukses. Dia memang dikenal produsen rumah produksi. Tidak malu juga merangkap pengusaha mie ayam. Dari bisnisnya menghasilkan puluhan juta rupiah. Dikisahkan bahwa bisnisnya bermula pemikiran istrinya, pada saat istri hamil, Wahyu melanjutkan usaha mie ayam sang istri.

Dia adalah mantan produsen sebuah production house ternama. Namun karena iklim perfilman waktu itu tengah jenuh. Wahyu harus siap kerja lebih keras. Dia lantas banting stir mencoba bisnis kuliner. Awal ia menggelontorkan modal Rp.27 juta.

Tidak gampang memang. Awal dia sempat frustasi menjalankan bisnis mie ayam. Membosankan sekali ya berjualan gerobak. Dia hampir menyerah loh. Hingga ia bertemu seorang penjual tongseng. Pengusaha itu lantas memberikan dorongan. Ia mengisahkan bagaimana perjuangannya selama 10 tahun berjualan.

Semangat Wahyu kembali, dia sudah kebal kena razia berkali- kali. Dia bersemangat kembali berjualan demi mencapai tujuannya. "Tukang tongseng aja berjuang 10 tahun baru sukses, kok sata baru setahun saja sudah mau tutup," terangnya, kerja keras dilipat gandakan Wahyu.

Pedagang tongseng asal Kukusan, Depok, sudah memiliki ruko sendiri. Dari perjalanan sepuluh tahun jadi semangat Wahyu agar berjuang. Sang pengusaha tongseng menjarkan kesabaran langsung. Yang awalnya hobi makan mie ayam kini telah menjadi bisnis. Ia mensurvei mie ayam lain agar lebih lezat dari lainnya.

Ia cicip mie ayam terkenal sampai jalanan. Berjalan waktu ia menemukan resep mie lembut, enak, dan tak mudah putus. Lantas ada bumbu sedap menyatu. Sangat membaur dengan bahan mie ayam buatan Wahyu. Ia menyebut mie ayamnya akan menari dilidah kamu.

Dan trial and error sudah menjadi makanan sehari- hari. Suami dari Ervina Widamayati ini, sejak 2007 sudah mencari resep mie ayam sendiri. Berkat mesin pembuat mie itulah ia sukses. Mesin berharga Rp6,5 jutaan dan bahan bakunya dia cari sendiri. Awal berjualan menyewa tempat di Jalan Mawar hingga sukses.

Setelah lebaran 2008, ia kembali berbisnis mie ayam. Sambutan masyarakat diluar dugaan. Bayangkan ia langsung menjual 100 mangkok dalam sehari. Harga mie ayam Rp.7000 tinggal dikalikan saja. Lalu dia memutuskan pindah tempat, meski pindah eh masyarakat tetap memburu mie ayam bikinan Wahyu.

Warungan mie ayam


Kira- kira Juni 2010 silam, ia dan istri mulai berjualan bakmi. Yang kemudian mereka beri nama Warung Bakmiku. Awalnya usaha tersebut didirikan sang istri, setelah resign kerja, yang mana kecapean karena bekerja kantoran berarti berangkat subuh dan pulang jam 8. Alasan lain karena Wahyu sendiri penggemar mie ayam.

Pemikiran bahwa mereka butuh mengatur pemasukan keluarga. Apalagi karena Wahyu mulai kehilangan arah di bisnis rumah produksi. Pengusaha rumah produksi itu tidak terlalu fokus di bisnis mienya. Hanya sang istri sampai akhirnya dia hamil.

Setahun usaha dijalankan mereka, namun keduanya berjalan ditempat. Sampai benar- benar Wahyu kepepet berbisnis mie ayam -karena PH -nya sepi. Ia lantas mengingat ilmu tukang tongseng. Berbisnis 10 tahunan barulah tahun kesebelas sukses. Ia memutuskan keluar justru ketika ada seorang teman menawari proyek.

Wahyu sendiri sadar bahwa bukan soal kesempatan. Bisnis rumah produksi dianggapnya tidak dapat dia imbangi lagi. Lantaran fisik juga proyek layar lebar kadang tidak pasti. Nah, justru ketika fokus berbisnis mie ayam, bayangkan dia menghasilkan uang harian.

Kemudian perasaan ingin lebih muncul dari sekedar laku. Opsi Wahyu adalah membuka cabang tetapi ia tidak cukup uang. Atau ia nekat membuat sistem kemitraan dengan bisnis Mie Ayam Gerobakan -nya. Lalu opsi kedua lah yang dilakukan Wahyu, meski terbilang nekat.

Mulai dia membuat website, menyusun SOP, melakukan perjanjian kerja. Kemudian Wahyu pasarkan ke sosial media. Mulailah dia memasarkan ke Facebook. Enam bulan berlanjut, bisnis kemitraan miliknya berjalan sangat lambat, hanya ada 10 mitra disaring Wahyu.

Ia sempat frustasi kerena hal tersebut. Saking frustasi dia sempat berpikir kembali ke bisnis PH. Sampai pada bulan Desember 2010, ia berkenalan dengan suplier gerobak Pondok Gede, menyarankan buat masuk ke Komunitas TDA. Karena domisili dia di Depok bergabunglah dengan TDA Depok.

Dari sanalah ia mulai membangun koneksi bisnisnya disana. Perjalanan membawa Wahyu bersilahturahmi dengan pengusaha sukses TDA. Kemudian ada program mentoring pebisnis pemula. Wahyu nekat meski dia belum menjadi bagian mereka. Banyak orang bertanya karena dia datang tanpa diundang disana.

"Anda siapa dan maksud kedatanganya ke sini untuk apa?" ujarnya. Dengan percaya diri, memperkenalkan diri sebagai pengusaha pemilik Mi Ayam Gerobakan.

Ia bilang ingin tau tentang TDA. Akhirnya mereka setuju menerima dia masuk. Perjalanan di TDA telah membuat Wahyu peduli. Kegiatan TDA tidak pernah dia lewati. Dia juga mendapatkan banyak pengetahuan berkat saling berbagi kewirausahaan.

Berkat TDA bayangkan dalam 1,5 tahun, ia mampu meraup 134 mitra tersebar di Jabodetabek, Bandung, Semarang, dan Pekanbaru. Bahkan dia sudah diangkat menjadi mentor. Mengajari pengusaha pemula yang masih memiliki pekerjaan dan berbisnis cuma sampingan.

Kelebihan mie buatan Wahyu adalah resep rahasianya. Kualitas mie kenyal tetapi tanpa bahan pengawet. Ia menjelaskan kalau kamu mau jadi pengusaha: Mendengarlah lebih banyak. Carilah lebih banyak ilmu dari bertanya. Carilah mentor berbisnis dan bergabunglah dengan komunitas usaha.

Sukses Wahyu karena ketidak enggannya mencari tau. Bahkan ketika makan tongseng, dia langsung tanya ke penjualnya bagaimana bisa punya ruko. Dimana ternyata butuh waktu lama bagi penjual tongseng agar rasanya maknyus, bahkan puluhan tahun. Hingga Wahyu ngotot memperbaiki kualitas mie ayam buatanya.

Artikel Terbaru Kami