Jumat, 21 Oktober 2016

Buka Usaha Diusia 40 Tahun Penyewaan Truk

Profil Pengusaha Bakti Lesmana 



Mungkin dia sudah tidak muda lagi. Kekuatan fisik yang mulai menurun justru alasan tepat. Di umurnya ke 40, Bakti Lesmana, mencoba meyakinkan sang istri bahwa mereka bisa membuka usaha. Meski awalnya meragukan dengan cerdik Bakti mampu meyakinkan istri.

Hidup seorang pria dimulai ketika umur 40 tahun. Sebuah istilah populer oleh penulis Walter B. Pitkin, dengan bukunya berjudul "Life begin at forty". Titik bali Bakti tidak lah mudah. Sekali lagi penulis menulis bahwa menjadi pengusaha diusia tidak muda, sangatlah sulit.

"Saya saat itu berpikir, kalau tidak sekarang terus kapan lagi," jelasnya. Tenaga semakin lemah ketika usia menua. Di umur 40 tahun pada tahun 2014 diputuskan bahwa dia akan berwirausaha.

Meyakinkan keluarga bukan perkara mudah. Terutama sang istri karena mereka bakal "hidup susah". Istri langsung tidak setuju loh. Dia tidak setuju Bakti memilih resign. Niat mengundurkan diri dan membuka usaha sendiri langsung ditentang.

Ketika itu ia masih bekerja di jasa trucking di Jakarta. Yang mana hasilnya lumayan gajinya bagus cukup buat menghidupi keluarga. Bahkan gajinya tujuh kali UMK Jakarta sewaktu itu. Besa gaji dirasa tidaklah cukup.

Meyakinkan istri dia punya cara. Yakni bahwa sebagian besar uang, ya baik dari uang tabungan, uang jasa perusahaan, dan uang jaminan tenaga kerja, sebagian besar akan diberikan ke istri. Ini guna meyakinkan bahwa ketika bisnis Bakti gagal. Mereka akan masih memegang uang agar tetap dapat bertahan.

Di benak Bakti kewirausahaan merupakan jalan pensiun mereka. Ketika tenaga tidak lagi dibutuhkan oleh perusahaan.

Modal pengalaman


Menjadi pengusaha diusia tidak muda. Memiliki kelebihan soal pengalaman di bidang yang ditekuni. Besar gaji memang mencukupi. Tetapi kewirausahaan tidak mengenal batasan waktu. Contohlah kolonel Sanders yang sukses karena ayam goreng. Ia lantas membuka usaha jasa penyewaan truk di Jakarta.

Dia mengajak dua teman di kantornya dulu. Mereka bekerja bersama penuh optimis. Karena ya mereka sudah memiliki pengalaman dibidang truk. Ketiga orang ini lantas sama- sama  menanamkan modal. Yakni Rp.25 juta masing- masing. Uang tersebut digunakan sebagai sewa kantor serta mengangsur truk.

Perusahaan mereka lantas diberi nama United Transport Partner (UTP). Tidak meleset keyakinan mereka betiga. Dalam kurun waktu relatif singkat. Ketiga kawan ini mendapatkan klien pertama yakni operator seluler untuk mengirim barang ke Jakarta dari Bekasi.

Mereka akhirnya dapat tersenyum mengembang. Namun, senyum di bibir mereka tidak dapat bertahan lama. Cuma beberapa jam saja setelah pengiriman barang. Pengiriman peralatan BTS berujung tekor. Ia tidak menduga adanya biaya tidak terduga.

Dari sewa Rp.900 ribu tidak cukup membiayai kebutuhan di lapangan. Pasalnya ada preman dan warga setempat meminta ongkos penurunan barang Rp.2 juta. Dimana sopir mereka sempat dikepung karena enggan mengeluarkan biaya tambahan tersebut.

Bekerja di perusahaan penyewaan truk selama 13 tahun. Faktanya tidak semudah diharapkan. Hafal tentang bisnis penyewaan tetapi tidak fakta di lapangan. Ketika dia bekerja di perusahaan dulu, tidak ada tuh yang namanya uang preman, pasalnya perusahaan mereka mengirim barang konsumsi.

Tidak cukup satu masalah datang tiba- tiba. Masalah kedua datang adalah truk miliknya jatuh di tol. Biaya evakuasinya tidak sedikit. Untung berlipat ternyata cuma bertahan beberapa saat. Kalau dihitung sejak ia membuka usaha, barulah untung Rp.900 ribu. Artinya ke empat orang akan mendapatkan Rp.300 per- tiga bulan.

Atau, Bakti berarti hanya menghasilkan Rp.100 ribu. Bakti sempat berpikir akan berhenti. Untung rekan satu kerjanya memiliki tekat. Dalam hati Bakti ada perasaan terlanjur. Sudah tercebur daripada tenggelam kan lebih baik mencoba berenang ke atas. Akhirnya Bakti tetap melanjutkan usahanya apapun terjadi.

Lebih serius Bakti melempar proposal ke aneka perusahaan lain. Sebanyak mungkin dia mencoba meraup klien baru. Usaha jemput bolah ini ternyata nampak hasil. Beberapa orang kemudian ikutan bergabung, dengan sudah membawa truk dan supir sendiri.

Bakti lalu mulai fokus mencarikan klien baru buat armada baru. Sistem buatanya teruji mampu menarik klien baru. Menjaga kepercayaan merupakan kewajiban. Kepercayaan klien baru menumbuhkan semangat bekerja. Tambah armada membuat usahanya semakin berkembang.

Bayangkan omzet mereka tahun pertama Rp.500 juta. Tahun kedua naik sampai Rp.2 miliar, sampai tahun ketiga Rp.3,5 miliar. Tahun empat malahan naik pesat sampai Rp.7 miliar. Kunci sukses bisnis menurut dia adalah berusaha baik. Manajemen harus baik dan fair dalam pengelolaan klien mereka.

Kunci lainnya terletak kepada pelanggan. Mereka merupakan sumber pendapatan. Nah, yang ketiga, tidak kalah penting yaitu menjaga sopir mereka. Bisnis mereka melayani banyak perusahaan kelas kakap, sebut saja APL Logitic, Santa Fe Relokasi, Heinz ABC, Thai Airways, The Asia Foundation, Roberto Desain.

Angka 70% klien mereka merupakan perusahaan multi- nasional. Dan sisanya atau 30% nya merupakan perusahaan lokal. Meskipun UTP memiliki grafik menanjak; ia tidak berpuas hati. Armadanya ditargetkan sampai 100 truk, atau 17 armada truk sendiri dan 47 merupakan armada rekan, dimana 6- 7 tahun kedepan.

Bukanlah target mudah. Namun Bakti meyakinkan dirinya akan mencapai. "...mewujudkan dengan kerja keras dan kesungguhan," tuturnya.

Artikel Terbaru Kami