Sabtu, 29 Oktober 2016

Pemilik Mie Sabuke Muda Pengusaha

Profil Pengusaha Fraga Tanansyah 




Usianya baru 24 tahun tetapi sudah berbisnis sendiri. Fraga Tanansyah, terlahir dari keluarga pecinta mie, maka tidak salah kalau dia berbisnis mie. Untuk usahanya patut diacungi jempol. Karena tidak mudah, apalagi buat konsisten menggeluti bisnis yang sama selama empat tahun.

Ia merasakan betul rasanya salah. Kesalahan strategi bisnis membuatnya jatuh. Namun, pengusaha muda satu ini memiliki passion tinggi akan mie ayam. Hingga menciptakan produk Mie Ayam Sabuke. Ceritanya dimulai sejak 2012 silam.

Bisnis di kampus


Ia barulah menyelesaikan pendidikan teknik telekomunikasi. Menjadi lulusan sebuah universitas negeri, ia tak lantas memilih bekerja, karena apa hasratnya adalah menjadi pengusaha. Ya sejak kuliah dia ingin jadi pengusaha muda sukses.

Demi mewujudkan hal tersebut dia langsung tancap gas. Tidak mau melamar pekerjaan menjadi pegawai. Ia kemudian membuka bisnis mie ayam sangat sederhana.

"Saya emang ingin menjadi pengusaha ketimbang pegawai," seperti yang dilansir oleh Detik.com. Maka dimulailah perjalanan bisnis pemuda tampan satu ini.

Rasanya asik, begitu dia mengomentari kenapa bewirausaha. Ide bisnis gampang tinggal mencari apa yang kita suka. Gampangnya dia melihat keluarganya hobi makan mie ayam. Kenapa enggak berjualan mie ayam saja?

Dia kemudian asik bercerita. Lewat internet dia mencari cara membuat mie ayam. Yah, kan namanya suka mie ayam, bukan pembuat mie ayam jadi dia tidak tau. Meskipun bisa masak tidak mudah bikin mie ayam. Karena niat bisnis sangatlah kuat. Fraga kemudian meracik aneka bahan menjadi mie ayam.

Butuh waktu sampai ia menemukan racikan tepat. Bagaimana membuat mie ayam yang berbeda. Rasanya harus berbeda daripada yang lain. Fraga bekerja sangat keras. Resepnya diolah sampai empat bulanan. Ia akhirnya percaya diri, dan menamainya Mie Ayam Sabuke. 

"Sampai sakit perut. Coba lagi terus cari informasi," paparnya.

Sudah jalan setahun tetapi tidak sesuai harapan. Kendala silih berganti menghampiri. Penjualan malah jadi turun drastis. Impian omzet puluhan juta ternyata berhenti. Pembukuan Fraga tidak lagi dipenuhi angka nol banyak.

Ia kemudian menjajaki aneka pameran, fetival, bazar dan lainnya. Untuk tambahan dia menjajakan lewat sosial media dan website. Hasil dari semua itu tidaklah banyak. Fraga mampu mengantungi Rp.2 juta- Rp3 juta per- hari. Kegiatan tersebut cuma dilakukan Fraga selama semingguan.

Agar menarik minat pembeli kembali. Ia menyiasati lewat produk baru. Fraga menciptakan produk yang bernama Kentang Mustofa. Produk ini dapat dijual terpisah di outlet- outlet. Tetapi juga bisa dijadikan makanan pendamping mie miliknya. Dengan bantuan produk baru, lumayanlah menambah omzet per- hari.

Meski untungnya tipis, Fraga tetap optimis melanjutkan usaha. Untuk penghasilan rutin sudah didukung dari Kentang Mustofa. Sisanya bagaimana menarik lebih banyak pelanggan. Ia mengungkapkan ide buat membuat kendaraan khusus menjajakan Mie Ayam Sabuke. Agar lebih efektif dan efisien dalam penjualan.

Kemudian dia merencanakan mencakup wilayah Jakarta dan sekitarnya. Menjalani kehidupan menjadi pengusaha ternyata tidak mudah. Pelajaran diambil menurutnya: Ambilah referensi matang sebelum kamu memulai berwirausaha. Harus- harus matang sebelum mengambil keputusan membuka usaha sendiri.

Ia mencontohkan dengarkan dulu orang. Lakukan analisis matang mengenai pasar. Lakukan lah analisa seakurat mungkin sebelum membuka usaha. Kini, usaha yang dijalankan bermodal Rp.5 juta, dan sedikit bantuan dari orang tua sudah berjalan baik. Fraga tengah merintis satu gerai sewa di kawasan Bekasi.

Berawal dari mie ayam berbahan bumbu orginal. Makin lama, makin banyak rasanya, seperti mie ayam rasa bayam, wortel, coklat, kopi, strawberi, sampai buah naga. Dia ingin membuat mie ayam berbeda. Dan tanpa bahan pengawet tentunya. Rasanya tuh enak tetapi berbahan sehat tidak merugikan orang lain.

Semua rasanya organik loh. Omzet dihasilkan Fraga sudah mencapai Rp.30 juta- Rp.40 juta. Dimana dia masih berambisi menstabilkan dan memperluas bisnisnya. Berawal dari satu pusat perbelanjaan di wilayah Cijantung, Jakarta Timur. Berpindah- pindah dan menetap untuk membuktikan tekat pengusaha mudanya.

Artikel Terbaru Kami