Sabtu, 29 Oktober 2016

Ahlinya Teh Asli Indonesia Berawal dari Passion

Profil Pengusaha Ratna Somantri 



Pekerjaanya tidak banyak dikenal orang. Tetapi dari sanalah keberuntungan menghinggapi Ratna Somantri. Bahkan nih dia rela melepaskan pekerjaanya. Jenusnya menjadi pegawai sudah dirasakan Ratna. Sampai ia menemukan kegiatan baru dibidang kuliner.

Dilanda kejenuhan rutinitas kerja. Ia yang tinggal di Australia, lantas menyempatkan diri mengikuti kelas pastry di Le Cordon Bleu. Diperjalanan dia mampi ke satu kafe, Tea Center, menyadikan minuma teh ke pelanggan. Bayangkan dalam satu tempat ada 500 macam teh disajikan, dan tidak ada di Indonesia.

Keinginan memasuki bisnis teh muncul. Cerita bisnis Ratna memang panjang. Tetapi merunut ke belakang dia sudah mengenal teh sejak kecil. Sang mama dikenal jagonya meracik teh sendiri. Dia ingat betul rasa khas teh asal Cirbon, Jawa Barat.

Tidak mudah berbisnis


Perempuan kelahiran Cirebon 3 November 1978. Kemudian pulang kampung ke Indonesia. Berbekal rasa ingin tau, ditambah niat menjadi wirausaha: Ratna mengajak seorang teman berbisnis. Untuk membekali diri, Ratna sempat kursus tentang teh di Purple Cane, Kuala Lumpur. Keduanya sepakat membuka kafe teh sendiri.

Nyatanya tidak mudah seperti benaknya. Bisnis mereka tidak bertahan lama. Ujungnya dia menjual saham miliknya. Ia ingin lebih memfokusi tentang teh lebih dalam. "Sahamnya kemudian saya jual, tapi kecintaan saya akan semakin haris semakin bertambah."

Ia sengaja berlibur ke negara- negara penghasil teh. Mulailah dia mempelajari budaya teh mereka. Contoh negera itu ya China, Jepang, Korea, sekalian menikmati aneka teh dan belajar. Ratna lantas mendirikan komunitas pecinta teh. Dia juga meluncurkan beberapa buku tentang khasiat teh.

Dia menulis buku Kisah dan Khasiat Teh. Ratna juga menjabat Ketua Dewan Teh hingga periode sekarang. Ratna memang lebih cocok menjadi spesialis teh. Pilihan profesi yang jarang didengar orang kita. Oh ya, buku tersebut dipublis oleh PT. Gramedia Pustaka, bukunya setebal 115 halaman jadilah sangat lengkap.

Kesukaan akan teh membayanya ke banyak negara. Dia disandingkan master- master teh, baik dari China, Hong Kong dan Kuala Lumpur. Baginya minum teh merupakan kegiatan menyenangkan. Bayangkan kita mencium aroma daun teh, yang merekah diatas air panas dalam cangkir, "...rasanya kepenatan hilang."

Baginya ritual minum teh sangat penting. Semakin gemas ketika ia melihat bagaimana orang minum teh di Indonesia. Padahal teh Indonesia memiliki cita rasa unik. Di Indonesia, teh masih dianggap minuman biasa, padahal di Eropa minum teh sudah menjadi cara orang menaikan gengsi.

Ia memang tau pemilihan daun teh sudah benar. Tapi dalam hal penyimpanan dan pengolahan, orang kita masih salah kaprah. Padahal negara kita merupakan penghasil teh tersebesar. Ia lantas mendorong agar teh kita lebih diperhatikan. Caranya ialah ia mendirikan komunitas dan blog mengenai cita rasa teh lokal kita.

Bisnis sampai profesional


Mudahnya teh dikonsumsi di Indonesia membuat pamornya turun. Alhasil banyak orang menyepelekan cara minum teh. Menurut Ratna, bahkan meski kita biasa minum teh, faktanya nih teh terbaik Indonesia ternyata 60% dieskpor. Kita harus memperbaiki cara kita memperlakukan teh, ujarnya.

Jangan lah negera lain yang justru menikmati teh kita. Jangan biarkan mereka malah lebih menghargai teh berkualitas kita. Ratna menyemangati bahwa teh kita tidak kalah dari China.

Berawal dari bisnis kafe teh. Kemudian gagal, menyisakan hasrat terpendam kepada teh. Ratna lantas mulai berkeliling mencari ilmu tentang teh. Kalau mau bisnis kan harus tau segala tentang bisnis yang akan dijalani. Seiring berjalan pemahaman masyarakat urban, ia kembali dengan sejuta pengalaman.

Dia mulai diajak ke berbagai talk show. Kemudian dia juga menjadi pembicara diskusi teh. Dulu dia masih pesimis kalau ngomongin teh. Eh, di 2011, malah ada acaranya dan peminatnya ternyata banyak loh. Ia menyebut sekarang teh sudah menjadi tren. Termasuk bagaimana menikmati teh dengan baik dan benar.

Dia tidak pernah sengaja menjadi pakar teh. Ratna cuma menggemari budaya teh. Selain itu juga rasanya, yang mana katanya nih, Ratna sudah mencicipi 100 jenis teh. Dia juga mengkoleksi mereka dalam tempat khususnya. Wanita keturunan Sunda- China ini, prihatin akan ketidak tahuan orang akan kualitas berteh.

Banyak orang masih keliru dalam menikmati teh. Bahkan tidak jarang nilai teh malah berkurang. Dari rasa, aroma, dan khasiatnya hilang. "Saya tahu kalau teh enggak bisa sembarangan diseduh," paparnya.

Menurutnya ada dua teknik penyajian teh: Gaya Barat dan Timur. Gaya barat ya gayanya orang- orang Eropa, seperti Inggris, Italia, dan negara- negara sekitarnya. Mereka menyeduh dengan air banyak tetapi daun tehnya sedikit. Penyeduhan butuh waktu 3- 4 menit sebelum diangkat.

Dari Timur menggunakan teko kecil. Daunya banyak berbanding terbalik dengan jumlah airnya. Disedunya cuma sebentar yakni 30 detik. Teh ini menurutnya lebih sehat karena zatnya belum banyak hilang. Hal yang mendasar begitu saja orang Indonesia belum tahu. Lewat berbagai media Ratna mengedukasi tentang teh.

Artikel Terbaru Kami