Kamis, 13 Oktober 2016

Mengolah Air Limbah Menjadi Bisnis Biodiesel

Biografi Agung Sri Hendarsa 


 
Komitmen akan kewirausahaan membawa Agung jauh. Anak dokter ini mengaplikasikan bahwa penemu itu pengusaha. Dimulai sejak bangku Sekolah Menengah, bapak dua anak asal Kota Pekalongan, Jawa Tengah, sudah mengikuti aneka lomba penelitian remaja awalnya. 

Lantas berlanjut kembali sampai masuk ke universitas. Pria bernama lengkap Agung Sri Hendarsa mulai melakukan penelitian tentang limbah batik. Dia mengaku banyak belajar dari orang Jepang. Fokus menjadi andalan pengusaha asal Jepang. Mereka fokus pada bidang bisnis dijalankan mereka sampai sukses.

Lulus S-1 Teknik Kimia, tidak tanggung tetapi lulusan Universitas Gajah Mada tahun 2000. Ia lantas dapat beasiswa kuliah pendek ke Jepang. Satu tahun dia mendapatkan pendidikan Jepang. Akhirnya Agung jatuh cinta dan memilih kuliah beneran S-2 di Jepang.

Sayangnya, kuliah di Jepang tidak semudah dibayangkan, kalau kuliah beneran Agung merasakan tekanan yang berbeda. Belajar di Jepang butuh fokus tingkat tinggi. Sementara Agung bukan lah anak orang kaya. Jadilah dia bekerja serabutan, tidak ada biaya, dia juga nyambi menjadi dokter puskesmas.

Agung bekerja menjadi pencuci piring, cuci mobil, karyawan pabrik tofu, menjadi buruh pabrik plastik juga dia pernah, dan bekerja menjadi petugas pembersih salju. "Saya men-DO-kan diri," tuturnya lanjutkan. Tahun 2002, ia memilih kembali ke Indonesia, kemudian bekerja di perusahaan kimia.

Bisnis energi


Bekerja di perusahaan kimia, dua tahun berlalu malah mendapatkan beasiswa lagi. Kali ini, Agung dapat beasiswa kuliah penuh S-2 di Jepang. Kesempatan tersebut tidak disia- siakan dan langsung mengundurkan diri. Beda sebelumnya kerena bekalnya cukup, Agung bekerja menjadi asisten dosen sekalian kuliah.

Suami dari Valleria ini, resmi mengantungi gelar S-2, kemudian diangkat menjadi general manager sebuah perusahaan Jepang, yang memiliki kantor perwakilan di Indonesia. Namun karena tidak cocok dengan sistem yang ada; Agung lantas memilih mengundurkan diri saja.

Namun dia sudah memiliki rencana ketika mau keluar tahun 2004. Waktu itu ada kenalan investor asal Surabaya mengajak kerja bareng. Tidak berjalan kembali karena perbedaan prinsip. Alhasil Agung resmi menjadi pengangguran karena tidak sejalan -dengan rekan bisnisnya tersebut.

Tidak lama menganggur. Dia yang memiliki banyak pengalaman kerja kembali. Dia lalu bekerja mengelola sebuah bisnis biodisel tahun 2009. Sayang krisis keuangan global menghantam. Perusahaan tempat Agung bekerja tutup. Agung terkena PHK.

"...persis menjelang kelahiran anak saya," imbuhnya, pas juga ketika Agung tengah merenovasi rumah. Sampai dua bulan dia menganggur tidak punya pekerjaan.

Untuk kali ini ia memilih membuka usaha sendiri. Modalnya kartu nama dan lantai dua rumah. Agung telah menyulap lantai duanya menjadi perusahaan mini. Ia membuka jasa konsultasi desain engineering. Sebagai awalan dia mendapatkan klien perusahaan lem. Dan Agung mendapatkan fee senilai Rp.12 juta.

Lantas dia mendapatkan teman. Seorang teman, bernama Henri Prakoso, mengajak Agung untuk mengolah limbah menjadi usaha. Dalam perjalannya dia menyadari bahwa mereka butuh perusahaan sendiri. Butuh naungan agar keduanya dipercaya buat menangai klien.

Uang Rp.20 juta dirogoh dijadikan fondasi mendirikan PT. Aozora Agung Perkasa. Pada Juli 2009, satu perusahaanya berdiri, dan Agung mencoba memenangkan tender proyek pemerintah. Meski tidak yakin akan menang dia tetap berusaha. Menurutnya legalitas saja tidak cukup, butuh pengalaman atau CV juga loh.

Pengalaman mengikuti tender merupakan awal. Gunanya meyakinkan calon klien kelak. Dan mengikuti tender proyek meski tidak menang, akan menuliskan nama perusahaan Agung di list. Dari sana lah sedikit tetapi pasti bisnisnya mulai mendapatkan klien baru.

Bisnis Aozora Agung Perkasa ialah mengolah limbah. Sejak berdiri 2009, mengerjakan pengolahan air limbah jadi air bersih. Bisnis air limbah sendiri mereka mendapatkan Rp.10 miliar untuk 2011 silam. Lantas dua bulan pertama tahun 2012 silam menghasilkan pendapatan Rp.11 miliar.

Pria kelahiran Temanggung, 8 November 1977, meningkatkan kerja kerasnya berlipat ganda. Meski saat itu dia sudah sukses menaikan pendapatan. Salah satu caranya membuka cabang di San Diego, Amerika Serikat, pada pertengahan 2012 silam. Aozora membuka cabang agar meningkatkan nilai jualnya sendiri.

Timingnya tepat ketika global warming menjadi isu. Kerusakan lingkungan mampu mendorong perusahaan air limbah dilirik pemerintah. Agung yang sudah mengantungi S-3 ini juga membantu pengusaha UKM buat mengolah limbah sendiri.

Tidak berhenti mengolah air limbah. Agung juga dikenal sebagai salah satu pelopor energi biodiesel. Ia memanfaatkan minyak sawit. Beberapa tahun belakangan dia memang aktif mengembangkan energi baru. Ia merubah minyak kelapa sawit menjadi pengganti BBM.

Bisnis bernama Ultrasonik Biodiesel ini memanfaatkan suara ultrasonik. Gunanya buat menjadi reaktor biodisel sendiri. Walau bukan hal baru, Agung mencoba menyempurnakan penelitian dan dikomersilkan buat membantu banyak orang. Menggunakan konsep reaktor alir tangki memberikan efisiensi produksi.

Artikel Terbaru Kami