Sabtu, 15 Oktober 2016

Rotan Karakter Lucu Bisnisnya Unyu

Profil Pengusaha Cismi Cikmawati


 
Kalau punya ketrampilan jangan disia- siakan. Usahakan menjadi bisnis menguntungkan. Contohlah wanita muda bernama Cismi Cikmawati. Usaha pembuatan kerajinan rotan memang sudah umum. Ide tentang ini sudah ada dibenak Cismi. Namun apa ya bisnis beda dapat dihasilkan dari bahan rotan.

Maka rotan dibentu agar tidak sama pada umumnya. Kalau biasanya rotan cuma kotak- kota aja. "Saya tuh ingin buat rotan yang enggak biasa," tuturnya kepada Detik.com. Jadilah aneka bentuk karakter yang lucu berbahan rotan tersebut.

Dari fungsi hampir sama dengan kerajinan rotan umumnya. Biasanya dipakai buat menaruh baju kotor oleh anak kosan. Berjalan waktu juga membuat tempat mainan, tempat perhiasan, dimana Cismi mengatakan ia menggunakan rotan kelas premium. Selain itu Cismi menggunakan cat berkualitas bagus.

Dia mengajak seorang teman. Teman itu pandai melukis dan jadilah bisnis tersebut. Pertama mereka akan membuat sketsa. Kemudian diserahkan kepada pengrajin rotan buat dibentuk. Keduanya menggunakan sistem sharing partner. "Kebetulan teman saya pelukis saya suka bisnis," ceritanya.

Kombinasi keduanya menjadi bisnis mengejutkan. Dari sketsa, kemudian dikerjakan pengrajin, kemudian tinggal disetujui mau dipebanyak atau tidak. Untuk modal awal dia menggelontorkan uang Rp.10 juta. Dan sampai sekarang ia mendapatkan omzet Rp.50 juta per- bulan.

Dia tidak cuma memanfaatkan internet. Cismi selain berbisnis online, juga rajin mengikuti aneka pameran dan memiliki toko real. Dua toko di Gandaria City dan ITC Mangga Dua. Untuk untung pasti Cismi enggan mengatakan tetapi ya omzet -keuntungan kotor- mencapai Rp.50 juta.

Kendala ialah kompetitor yang juga menjual produk rotan. Aneka kreasi dikembangkan seperti karakter khas Indonesia. Harga jual antara Rp.65 ribu sampai Rp.1,5 juta. Disisi lain banyak kompetitor mencoba mengikuti jejak desain mereka. Inovasi karakter tradisional dianggap akan mendongkrak brand mereka.

Ia sendiri memiliki harapan membuka toko di Bali. Namun Cismi menjelaskan ada yang memantau jadi akan susah.

Artikel Terbaru Kami