Selasa, 04 Oktober 2016

Desainer Sofie Mimpi Menjadi Fashion Designer

Profil Pengusaha Ahmad Sofiyulloh 



Tidak mudah baginya mencapai posisi sekarang. Nama Hadriani Ahmad Sofiyulloh mungkin akan terasa canggung. Tetapi nama Sofie merupakan salah satu desainer kenamaan. Dia merupakan salah satu rising star soal merancang busana. Salah satu perancang busana berbakat asal Indonesia raya.

Dia berkisah pernah menjadi pegawai toko. Pernah pula bekerja menjadi penjahit kecil- kecilan. Ketika banyak produk fasion asing masuk. Disana justru Sofie mulai mengepakan sayap. Kemudian meluncurkan anake pakaian wanita dan anak lewat Sofie Design.

Pria kelahiran Jember, 9 Maret 1969 silam, yang menggarap pakaian siap pakai. Atau ready to wear untuk anak dan wanita. Memang usaha pakaian siap pakai tengah gandrung. Banyak sudah pusat perbelanjaan menyuguhkan pakaian ini. Semua karena banyak manfaat dapat dikenakan dalam satu buah pakaian.

Satu pakaian bisa dipakai pesta, tapi nyaman buat santai, ataupun bekerja. Berawal dari cita- cita Sofie kecil yang ingin menjadi insinyur. Namun apa daya, keadaan ekonomi keluarga serba kekurangan, jadi ya tidak mungkin menyekolahkan Sofie sampai tingkatan mahasiswa.

Disisi lain Sofie kecil memiliki talenta terpendam. Hobi menggambar dan melukis sejak kecil. Hobi yang kemudian menjadi sandaran menjadi perancang busana. Sadar akan ekonomi keluarga, Sofie kecil tidak mau ambil pusing, dia tetap melanjutkan sekolah sebisa mungkin dan mengisi waktu dengan melukis saja.

Bisnis menjahit


Anak keenam dari delapan bersaudara, Sofie memilih bekerja membantu ekonomi keluarga. Tangan kecil itu mulai aktif membantu menjahit. Kebetulan kakak punya mesin jahit. Mereka juga membuka usaha jahitan kecil- kecilan. Sofie kemudian membuka usaha jahitan seragam atau pakaian robek.

Dia belajar sendiri menjahit. Mulai menjahit seragam robek kemudian membuatkan seragam. Ia menjadi kepercayaan teman- teman dan sekolah. Lulus MAN Jember, pada 1989, Sofie berangkat ke Jakarta dan mencoba mengadu nasib. Di Ibu Kota, dia ditampung di rumah milik saudara, setahun disana tidak bekerja.

Menjadi pengangguran membuat Sofie mungkin malu. Ia memutuskan buat tinggal di kos- kosan. Alhasil pekerjaan apapun dia jabani, seperti menjadi cleaning service kawasan Jakarta Barat, waktu itu cuma bisa bertahan dua hari.

Sadar bahwa dia memiliki kelebihan. Ia mulai berpikir kembali menjahit. Namun, waktu itu 1994, dia tidak langsung bekerja tetapi memperdalam ilmu. Sofie ingi belajar tentang fashion mode. Belajar di Lembaga Tata Busana Susan Budihardjo. Padahal uangnya di kantong cuma Rp.500 ribu dan biaya kursus Rp.5 juta.

Pengajar disana menerima Sofie karena takadnya. Ia terlihat sangat ingin membepelajari fashion designer. Dalam dua tahun kursus, akhirnya Sofie memulai karir profesional, waktu tersebut dia bekerja menjadi bagian pembelian barang di Ramayana Department Store.

Di sanalah dia paham mengenai proses bisnis pakain ritel. Disaat bekerja, pulangnya digunakan Sofie buat membuat rancangan busana dan membuatnya. Kalau mau masuk kantor, Sofie sempatkan diri buat belanja ke Tanah Abang. Lantas dia menaruh rancangan, bahan, dan menjahitkannya ke penjahit langganannya.

Sofie tingga terima bersih. Kemudian dia mulai memasarkan produknya. Bisnis pakaian Sofie ternyata samakin tumbuh. Untuk menjadikan dirinya lebih mandiri. Sofie tidak malu mengikuti aneka perlombaan. Dia menjadi juara 3 Indonesia Fashion Competition pada 1995.

Sudah mendapatkan nama saatnya membuka usaha. Ia ingin berhenti bekerja dan fokus. Nah, mementum datang ketika 1998, ketika krisis moneter menyerah justru dia melihat peluang. Sofie mengundurkan diri dari Ramayana. Serius, ia meluncurkan brand Sofie Design, merek yang inspirasinya dari nama akrabnya.

Agar namanya makin dikenal hanya ada cara. Sofie rajin mengikuti berbagai lomba peragaan busana. Baik luar negeri ataupun dalam negeri sudah disambangi. Barulah di tahun 2000, pakaian buatan Sofie dapat diterima oleh pusat perbelanjaan besar Indonesia.

Pria asal Jember, Jawa Timur, ini juga dikenal mengolah batik. Aneka karyanya merupakan inspirasi akan lingkungan hidup. Konsep batik kontemporer Sofie dijadikan celana korduroi, kemudian syal yang pakai motif lurik, dimana dia menambahkan aksen tali dan pita.

Sofie fleksibel mampu mengambil pasar pria. Lewat warna- warna cerah pun ditangani baik. Dalam sebuah kesempatan batiknya dilelang Rp.2 juta. Yang mana uangnya digunakan sebagai sumbangan. Bagi Sofie berbagi sudah biasa. Mereka mengajari anak putus sekolah buat membantik aneka motif.

Artikel Terbaru Kami