Sabtu, 01 Oktober 2016

Bra Buatan Sendiri Elling Bra Sempat Dicemooh Orang

Profil Pengusaha Sukses Fenny 



Ia berkisah pola pikir membantu dia sekarang. Sejak dulu, dalam pemikirannya bahwa seseorang barulah mencapai titik kesuksesan karir, apalagi kalau bukan mencapai jenjang Direktur. Dorongan inilah yang membuat Fani rela melepaskan jabatan Purchasing Manager, malah memilih menjadi pengusaha saja.

Dia membuka usaha bra. Namu beda dia membuat sendiri. Costume size bra membantu wanita dalam hal merawat payudara. Semua berawal dari pengalaman pribadi. Dari mencari bra menyusui tetapi nyaman sesuai ukuran sebenarnya. Tidak ada satupun ada sesuai ukuran, kalaupun ada, harga tidak cocok dikantung.

Ketrampilan menjahitnya dulu lantas digunakan. Ia mulai menjahit bra menyusui sendiri. Singkat cerita dia menemukan ukuran pas. Bahkan berkat bra buatan sendiri, dia mampu mengembalikan bentuk payudaranya kembali seperti sebelum menyusui.

Bisnis ukuran


Ia bercerita dari sanalah dimulai. Mulai membuat bra menyusui sendiri. Fani kemudian mencoba mencari ukuran bra di luar negeri. Tetap saja ada ketidak puasan dibenak wanita asal Malang ini. Ia mulai membuka banyak literatur tentang anatomi payudara.

Kebetulan ibunya Fani adalah penjahit. Jadilah menjahit bukan hal baru bagi wanita 42 tahun ini. Agar bisa meyakinkan pembeli dia mencoba sendiri. Dari ditawarkan kepada rekan kerja. Ia mendapatkan pujian dari mereka. Yakin dia memberika penawaran pemesanan kepada teman- teman kantor pada 2000 silam.

Hasilnya ternyata gagal tidak susai. Kalau membuat buat diri sendiri sesuai. Namun ketika membuatkan buat teman malah salah. Jawaban singkat ditemukan: Feni tidak mengenal ukuran tubuh teman- temanya. Hingga dia meluncurkan bisnis Elling Bra. Adalah bisnis bra yang didesain khusus buat pemakainya.

"Beha buatan saya pas buat saya, tapi tidak buat perempuan lain," tutur Feni kepada pewarta.

Walau berbekal mesin jahit biasa. Feni tetap menjalankan bisnisnya. Meski, menurutnya, bisnis dijalankan olehnya akan sempurna dengan delapan mesin jahit. Dalam serba keterbatasan, Feni fokus melakukan aneka riset anatomi wanita daripada sibuk memikirkan mesih jahit seharga Rp.25 juta/buah.

Tiga tahun dibutuhkan Elling Bra hingga sempurna. Dalam kurun waktu tersebut dia juga belajar mengenai desain bra. Dia rajin mengikuti berbagai seminar tentang kesehatan payudara. Ia pun menjalin hubungan baik dengan dokter, tujuannya agar mendapatkan masukan tentang cara membuat bra yang sehat.

Masa trial and error dijalani. Hingga Elling Bra memiliki distributor hampir di seluruh penjuru Indonesia. Sebut saja di Medan, Palembang, Lampung, Makassar hingga Menado. Untuk Jawa ada di Cirebon, daerah Semarang, Blora, Solo, Yogyakarta dan Surabaya.

Ia menawarkan kesehatan. Semua dihasilkan tidak ada bahan tambahan. Contohnya macam ion atau magnet tidak ada. Prinsipnya nyaman dipakai serta sesuai. Bra buatan Fani biasa saja. Tahun 2000 -an ketika ia mulai, banyak orang mencibir karena desainnya terlalu konvensional, tapi sekarang lihat lah koleksinya.

Feni memiliki 60 ukuran bra dan memiliki banyak desain. Semua bisa disesuaikan bentuk tubuh, diukur dari tinggi badan, lebar tubuh, pokoknya hingga konsumen merasa nyaman di payudaranya. "Saya juga menerima servis loh," Feni mempromosikan. Tubuh wanita menurutnya memang cenderung tidak stabil.

Kan sayang kalau beli mahal- mahal tidak kepakai. Tubuh wanita kan tidak tetap. Bisa naik atau turun dalam tempo relatif cepat. Ia memberi harga satu paket bra seharga Rp.500 ribu. Memang cukup mahal, tetapi ia meyakinkan bahwa dia membuat sesuai kebutuhan si pemakai.

Jiwa wirausaha


Anak kedua dari tujuh bersaudara. Sudah terbayang beratnya hidup seorang Fani. Dia merupakan putri dari keluarga pengusaha garmen. Pengusaha kecil- kecilan, ayahnya memproduksi taplak, seprai, sarung bantal. Sang ibu juga pandai menjahit pakaian sendiri. Sejak kecil dia dan saudarnya sudah terbiasa akan kegiatan menjahit.

Tahun 1986, lulus SMA, Feni mengadu nasib ke Jakarta, tujuannya untuk mengikuti aneka kursus seperti menjahit, membuat motif, kursus bahasa asing, menari, ketrampilan sekertaris dan akuntansi. Memasuki 1989, dia bekerja menjadi sekertaris di sebuah restoran Jepang di Blok M, dan bertemu calon suaminya.

Dia lantas pindah ke sebuah perusahaan. Dia menjadi asisten manajer dan menjadi manajer pembelian. Ia kemudian menikah dengan suaminya, Saubiantoro, pada 1990. Kemudian memutuskan meninggalkan karir sebagai manajer. Feni memilih menjadi ibu rumah tangga biasa.

Menjadi ibu rumah tangga, Feni mengisi waktu dengan menjahit kecil- kecilan. Sampai dia menemukan passion dibidang bra. Ia ketika itu, selepas melahiran putranya Marciano, merasakan betul bahwa payudara miliknya tidak seindah dulu. Dia lantas berpikir membeli barang impor karena lokal cup -nya tidak pas.

Perjalanan menjadi pengusaha penuh tantanga. Banyak masalah diawal bisnis dimulai. Ia ingat betul proses dia membangun brand. Pertama kali dia menawarkan produknya ke tempat- tempat senam. Pertama kali itu dia malah mendapatkan penghinaan. Brand Elling Bra dianggap tidak berkelas lah, apalah, mengejutkan.

"Elling Bra? Merk kok kayak gitu, buatan mana sih? Ga elit banget," ia menirukan mereka.

Hinaan tersebut langsung membuat Feni menangis. Apalah yang dia bisa lakukan selain sedih. Nama Elling sebenarnya dipilih agar memudahkan mengingat.

Selama setahun dia mencari data tentang payudara. Satu kekecewaan tidak membuat dia berhenti. Feni tak segan langsung menawarkan produknya. Menawarkan dari pintu ke pintu pernah dia lakukan. Hinaan dan ketidak percayaan akan Elling Bra sudah biasa. Apalagi produk buatannya merupakan produk lokal.

Meski begitu dia tidak merubah nama. Tidak memakai nama ke barat- baratan. Nama Elling ternyata juga memiliki ikatan emosional. Karena nama tersebut diberikan oleh sang suami, Awi. Yang mengandung satu makna bahwa mengingat pentingnya merawat payudara.

Elling berasal dari bahasa Jawa "Eling" atau ingat. Bahkan sekarang nama Elling sudah dipatenkan olehnya. Hinaan orang banyak dianggapnya tantangan. Secara konsisten dia memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa kesehatan payudara lebih penting dibanding brand ataupun desain semata.

Bahkan Feni ngotot memberikan penawaran. Ia rela mendatangi pelanggan. Dengan tangannya sendiri mau mengukur payudara pelanggan langsung. Memang dia menganggap lebih baik begitu. Mengukur langsung payudara pelanggan menjadi andalan bisnis Elling Bra.

Memulai usaha banyak masalah


Tidak cuma kepercayaan akan brand. Kebanyakan orang ditemui Fani juga tidak percaya akan kegunaan. Orang lebih percaya manfaat jika produknya buatan luar negeri. Dia mengatakan jika bra kesehatan lain asal luar negeri harganya jutaan. Sementara buatannya cuma seharga Rp.500 ribu itupun sudah dua pasang.

Sempat dia berpikir memahalkan produknya. Tetapi semua dia jawab malah melalui riset terus- menerus. Tidak terhitung berapa banyak uang ia keluarkan. Asalkan ada masyarakat mau menggunakan, dia sudah cukup merasa senang.

Sang suami yang juga seorang pengusaha mendukung. Usaha mabel kayu jati suami memberikan dorongan juga. Ia semakin giat melakukan riset. Dari sekedar menjual dan menjahitkan, target bisnis Feni lantas berkembang menjadi mereparasi ukuran. Mengecilkan atau membesarkan dikenai biaya Rp.40 ribu saja.

Berbekal dukungan layanan reperasi. Lambat laun bisnisnya mulai tumbuh. Maka datanglah banyak wanita berbagai latar belakang. Mulai artis atau ibu pejabat datang ke tempatnya. Mulai umur 20 -an sampai 60 -an tidak masalah. Pegawai Feni juga dibekali cara mengukur payudara dengan benar dan tepat.

Feni tidak segan turun tangan langsung mengukur. Distributor tinggal mengirim gambar maka dia akan langsung kerjakan. Empat orang pegawai dalam sebulan mengerjakan ratusan pesanan. Pelanggan puas karena produk Feni bertahan sampai tahunan.

Meski repeat order lama tidak masalah karena pelanggan baru datang. Marketing mulut ke mulut berjalan otomatis tanpa repot. Walau banyak orang memintanya membuat gerai kusus. Dia ingin tetap seperti sekarang yakni melalui pengukuran dulu, bukan buat dan dipajang di gerai tanpa proses mengukur.

Bahan digunakan benar sesuai iklim tropis. Penyangga menggunakan 100% katun sebagai pengganti bahan kawat, tali nylon non- elastis mudah diatur dikencangkan, kemudian ada katup berbahan brokat disetiap sisi untuk ibu menyusui.

Untuk desain sendiri tidak terlalu macam- macam. Tetapi kesini, Feni mulai merancang tidak terbatas pada bra kesehatan, produknya juga termasuk pantysuit, longtorso, bustie yang kesemuanya itu costume made.

Walaupun sudah dikenal dia belum berkeinginan mengekspor produknya. Ia hanya ingin aktif mengedukasi lebih banyak lagi orang. Akan pentingnya memilih bra sesuai ukuran. Beberapa dokter juga sudah ikutan merekomendasikan produknya.

Penjualan pun meningkat dari rumah sakit kanker RS Kanker Darmaris. Sebagai bentuk bakti sosial maka Elling Bra, memberikan busa gratis buat penderita kanker, terutama buat mereka yang kanker payudaranya sudah diangkat. Dia bekerja sama dengan RS Darmaris melalui SADARI -atau periksa payudara sendiri.

Sejak kecila dia selalu ingat bagaimana orang tua mengajarkan. Kita haruslah menjadi sosok mandiri, menjahit sendiri, lalu menjualnya. Soal payudara dia berprinsip harus dirawat, jadi bukan cuma merawat kesehatan tubuh dan wajah.

Sebagai ibu rumah tangga, Fani, masih sempat bercengkrama dengan kedua anaknya. Dia senang hal yang rapih. Jalan- jalan bersama kedua anaknya, Morciana (19) dan Naomi (12), dan soal bisnis Elling Bra kedua anaknya juga dia libatkan loh. Dia ingin mengajarkan kemandirian serta kesadaran akan kesehatan.

Apalagi salah satu anaknya adalah perempuan. Untuk pesanan buat anak ABG juga sudah mulai ada. Dia mendapatkan pesanan dari mereka yang masih tumbuh payudaranya. Ia senang karena anak jaman sekarang sudah paham akan kesehatan payudara bahkan dimasa pertumbuhan.

Artikel Terbaru Kami