Sabtu, 01 Oktober 2016

Sopir Taksi Bermimpi Menjadi Pengusaha Delapan Tahun

Biografi Buchori Pengusaha Roti 


 
Mantan aktifis 98 ini, kini menjadi pengusaha sukses. Bukan perkara mudah mencapai titik tersebut. Dulu dia hanya seorang sopir taksi. Kemudian berkat aneka roti menghantarkannya. Namanya Buchori Al- Zahrowi, pengusha kelahiran Bantul, Yogyakarta, 26 Maret 1969 merangkai kisahnya disini.

Tiga tahun sudah dia berprofesi menjadi supir taksi. Sifat mandiri sudah tumbuh ketika bangku SMA. Dia mengenang bagaimana kala itu memulai usaha. Sejak kecil memang sudah terkenal berani. Dia diajari agar tidak tergantung dengan orang lain. "Menjadi sopir dilakoni agar hidup saya tak bergantung orang lain."

Kesempatan justru datang disela- sela aktifitas. Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini tengah asiknya menghayati perpolitikan. Disela krisisi moneter dilihat ada peluang. Justru ketika banyak teman yang ragu dan meninggalkan dirinya. Buchori komitmen memulai usaha sendiri daripada sibuk berpolitik.

Tahap pertama memulai cukup kecil- kecilan. Bisnis roti bernama Aflah, yang diambil dari bahasa Arab, yang berarti lebih untung. Do'a Buchori agar usahanya makin untung. Dan ternyata do'a nya terkabul maka usahanya semakin membesar.

Pengusaha sejak muda


Dia mengenang ketika masih sekolah. Waktu SMA, Buchori nyambi bekerja, sejak sekolah sudah jualan pernak- pernik, stiker, dan lain- lain. Sambil sekolah Buchori membuat aneka tas berbahan rotan. Hingga sampai menjadi mahasiswa di Yogyakarta, usaha tetap jalan ditambah bekerja menjadi sopir taksi.

Tidak fokus usahanya membuat tas rotan tidak berkembang. Ketika itu Buchori memilih terkadang jualan koran. Sambil menyopir juga ikutan menjadi mahasiswa vokal. Dia dikenal mengikuti kegiatan aktivis di kampusnya. Dia juga menjadi anggota dan pengurus beberapa lembaga swadaya masyarakat.

Kebanyakan kegiatan mulai menyopir, menjadi aktivis, juga aktif di LSM, maka Buchori merasa malasa buat kuliah. Ujung- ujungnya memilih drop- out meski tinggal wisuda. Dia sendiri heran kenapa dirinya masuk fakultas Dakwah. Padahal sejak semula jiwa Buchori memang berada di kewirausahaan.

Dia menikahi Tin Khotimah, akhirnya tidak kuliah dan fokus mengerjakan usaha. Dari usaha tidak jelas arahnya. Ia dan sang istri memutuskan fokus berbisnis keripik saja. Usaha keripik dijalankan ketika dirinya pindah ke Pemalang, Jawa Tengah. Usaha dijalankan ternyata tidak berkembang maksimal secara omzet.

Namun Buchori tidak patah arah menjadi pengusaha sukses. Anehnya ketika dia gagal keputusan spontan dia lontarkan. Ketika sisa tabungan Rp.40 juta, langsung dipakai dia berangkat haji, tahun itu 2003 dia berangkat haji dan berjanji bahwa kelak sang istri akan menyusuk haji.

Uang tabungan tinggal Rp.4 juta. Banyak orang menyebut dia gila. Namun, namanya pengusaha ya kegilaan hingga kita membuktikan. Alasan Buchori adalah dia merasa mendapatkan panggilan kuat. Selepas dari haji hatinya tenang. Ia memutuskan untuk membuka usaha roti.

Bisnis berkah


Dia mengontrak rumah di Sorobayan. Strategi bisnis Buchori lewat jaringan pertemanan. Berbekal sisa uang Rp.4 juta dijadikan 10 kotak roti per- hari. Melalui bantuan pertemanan. Dia memasarkan melalui teman kuliah, sesama aktivis, juga ke anggota LSM. Penuh semangat dia menyebar selebaran promosi.

Buchori belum punya motor. Dia menyebarkan selebaran naik angkot. Kalau tidak jauh ya pakai sepeda ke sana- kemari. Aflah, bisnis terseriusnya, fokus mengerjakan kue mandarin, lapis legit, dan roll cake yang dikemas kotak kardus. Ada satu rahasia bisnis Buchori, dia jelaskan kepada Kompas.com yakni:

"Saya tidak menjual roti yang dikemas satu- satu," paparnya. Menurut dia untungnya kecil. Disisi lain lama lakunya. Jualan roti kardusan lebih menguntungkan terang Buchori.

Sehari dia mengaku memproduksi 1.000 kardus. Anehnya lagi, Buchori tidak pandai membuat roti, yang membuat roti istri kemudian diserahkan kepada karyawan. Dia tingga memantau kualitas produksi. Cukup dia memikirkan masyarakat suka roti apa. "Karyawan saya malah lebih lihai membuat roti, ha- ha- ha."

Marketing pertemanan nampaknya berjalan lancar. Semangat menggebu membuahkan gerai baru. Lalu ia membuka gerai sampai tujuh, di Yogya, Purwokerto, Kutorejo, dan juga Purworejo. Untuk meyakinkan pembeli, Buchori sudah mendaftarkan sertifikat halal dari MUI, dan juga mendaftarkan nama paten buat Aflah.

Dirunut kebelakang dia bukanlah anak orang kaya. Ayahnya hanya guru honorer SMP, dan ayahnya buka usaha kecil- kecilan membuat tas rotan dijual ke pengepul. Saat sekolah dia pernah bekerja paruh waktu jadi pegawai perusahaan sablon. "Padahal waktu saya kecil ingin punya banyak uang," kenang dia.

Alasan kuliah baginya bukan soal mencari kerja. Tujuan utamanya membuka wawasan. Serta bertemu lebih banyak orang menjari koneksi. Dari jualan koran dan sopir taksi, dia meyakinkan ayah dan ibu bahwa dia mampu sukses. Pengalaman sopir taksi membuat dia hafal betul jalanan di Yogyakarta.

Disiplin dia bekerja untuk berkuliah. Capek tetapi dia memetik pelajaran. Dan kini, dia sudah memiliki tiga cabang di Yogyakarta sendiri. Sempat dia berbisnis menjadi pengusaha ayam potong. Total delapan tahun dia terseok mencoba menjadi pengusaha. Masuk 2003 dia balik ke Yogyakarta membuka usaha lagi.

Tahun 2007 sampai 2008 menjadi titik tertinggi. Dia membuka cabang besar- besaran. Langsung ada cabang di beberapa daerah seperti Purwokerto, Purworejo, dan Kutoarjo. Tiga unit mobil disiapkan jadi modal operasional bisnisnya.

Pengusaha ambisius


Memiliki tujuh gerai tidak membuat Buchori puas. Dia telah menemukan tujuan hidupnya. Kini, dia asik membangun banyak peluang baru, setahun diwajibkan bagi Buchori membuka cabang baru. Dan tidak akan terbatas di bisnis roti. Untuk toko roti masih dikejarnya membuka cabang di Kebumen, Jawa Tengah.

Disisi lain, dia menarget bisnis restoran China di Kota Yogyakarta. Jadi sementara mengebut cabang baru gerai roti Aflah. Dimana dia merencanakan konsep waralaba pada 2012 silam. Sementara restoran China masih dalam perencanaan hingga matang.

Dia menyasar kalangan muslim. Konsep masakan China tetapi halal itupun dibangun. Target dia adalah semua kalangan, pokoknya muslim yang gemar masakan China. Usaha bernama Moslem Chinese Food itu kental memang akan nuansa Islami. Racikan bumbu disesuaikan lidah orang Indonesia paparnya.

Pelanggan restoran ini juga termasuk warga keturunan China loh. Tetapi tidak terbatas oleh etnis, bahkan non- muslim juga boleh mencicipi enaknya masakan China disana. Dia memang bukan orang China. Tapi ketika pindah ke Pemalang, pernah bermitra dengan seorang pengusaha keturunan.

Dari sang mitra mengajarinya membuat masakan China. Buchori lantas timbul ide tentang bisnis restoran China. Konsep tersebut lantas dipadu padankan dengan konsep makanan halal. Tujuannya agar memberikan rasa nyaman bagi penggemar masakan China.

Selain sibuk berbisnis? Ia sibuk menjadi motivator bagi pengusaha muda. Menurutnya, para mahasiswa pada khususnya, memiliki pemikiran terbukan tentang bisnis. Hanya mereka belum mau menerapkan kreasi mereka. Buchori menegaskan menjadi pengusaha juga tentang membuka lapangan pekerjaan.

Artikel Terbaru Kami