Selasa, 20 September 2016

Biografi Rudy Hadisuwarno Sejak Kapan Buka Salon

Perjalanan Karir Penata Rambut Rudy Hadisuwarno 



Dia bukanlah terlahir sebagai orang hebat. Alkisah lahirlah seorang anak bernama Rudy Hadisuwarno. Dia adalah putra dari pasangan (alm) Iskandar Hadisuwarno dan juga Tresna Lestari Sutedjo. Lahir ke dunia tepatnya 21 Oktober 1949. Tepatnya ketika agresi militer Belanda kedua datang ke Tanah Nusantara kita.

Ia hidup bahagia. Sebagai anak kecil, Rudy tumbuh normal selayaknya anak- anak seumuran. Dalam sebuah wawancara dia meyakinkan hal tersebut. Bisa dilihat dari senyum terkembang Rudy senang. Meski hidup dengan sederhana toh dia tidak minder.

Ia terlahir di Kota Pekalonga. Di masa kecil tidak ada ingatan istimewa. Yah selayaknya anak kecil biasa, Rudy kecil menikmati bermain, sementara itu sang ibu mengerjakan salon di rumah. Sebuah salon kecil yang diakui oleh masyarakat kota. Ibu Rudy diakui menjadi salah satu penata rambut mahir di Kota Batik.

Bisnis salon


Banyak pelanggan datang ke salon kecil ibu Rudy. Hampir setiap hari Rudy kecil mampir ke salon. Tidak cuma mampir atau meminta uang jajan. Rudy malah asik mengamati ibu bekerja. Dari sanalah, mungkin ia mulai merasakan ketertarikan akan dunia salon atau tata rambut.

Rudy langsung mengatakan terus terang. Akhirnya ibu Rudy mengajarinya banyak tentang tata rambut. Dia belajar bagaimana menata rambut, memotong rambut, dengan baik dan benar. Kalau ibu Rudy merupakan seorang pengusaha salon. Maka ayahnya juga bukanlah orang biasa karena dia juga seorang pengusaha.

Kalau dikenang, sebenarnya ayah mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi yah, memang ibu Rudy, itu orangnya tidak mau berdiam diri di rumah. Disulapnya sebagian rumah menjadi salon kecil- kecilan. Ayah Rudy merupakan pengusaha pembuat pewarna batik.

Usaha salon ibunya hanyalah sebagai pengisi rutinitas. Dari salon lah Rudy mendapatkan keahlian menata rambut. Sementara sisanya merupakan bakat wirausaha kedua orang tua. Ayah dan ibu Rudy sangat peduli akan pendidikan anak- anaknya. Dia, si sulung, dan ketiga adiknya tidak pula kehilangan perhatian mereka.

"Ayah saya orangnya tegas dan disiplin," ungkapnya. Dimana sang ibu lebih ke memberikan kelembutan ke anak- anak mereka.

Rudy kecil menghabiskan masa kecil di Pekalongan. Dia merupakan alumni SD Santo Pius yang sukses. Ia kemudian masuk sekolah negeri bergengsi, SMP 2, tetapi terpaksa pindah karena ayah Rudy karena jika tetap di Pekalongan dirasa tidak baik. Di Pekalongan ternyata tidak ada sekolah SMA buat anak- anaknya.

Tahun 1963, mereka sekeluarga berangkat ke Jakarta, dan Rudy bersekolah di SMPK II Pembangunan buat melanjutkan SMP. Kemudian ia masuk ke SMA Kristen 1, Jakarta. Masuk 30 September gerakan komunis mulai meraja- lela. Keadaan politik di Ibu Kota memang tengan terguncang menjadi perhatian kalayak.

Rudy merasakan kegetiran dalam masa tersebut. Mangkanya ketika sudah lulus SMA, Rudy tidak langsung melanjutkan ke kuliah. Rudy merasa dia masih haus akan pengetahuan. Oleh karena itulah dia memilih buat mengisi waktu luang dengan kursus. Apalagi kalau bukan dia memilih kursus potong rambut.

Dia digerakan oleh hobi. Berjalan lah kursus pertama di salon bernama Salon Robby. Dia belajar dengan sang pimilik langsung yakni Vivian Rubianty. Waktu itu dia juga belajar cara Vivian mengelola salon. Saat itulah ia meyakini tata rambut merupakan pilihan karir. Berlanjut Ruddy kemudian membuka usaha salon sendiri.

Marketing cerdik


Ia tidak langsung sukses. Pertama kali membuka Rudy tidak memiliki pelangga. Hanya seorang teman satu kampus yang mau potong rambut di tempatnya. Beranjak waktu dengan ketekunan Rudy pun meraih hati masyarakat. Satu pelanggan puas membuat Rudy makin percaya diri mendalami.

Dia mulai yakin akan karir penata rambut. Kualitas layanan ditingkatkan, sedikit- demi sedikit masyarakat mulai mengenal salon Rudy. Marketing mulut mampu menemui sasaran utama. Tetapi tidak mau sekedar orang tau bahwa dirinya jago. Ia rela banting harga agar nilai jualnya semakin tinggi.

Istilahnya kalau lebih baik tapi murah, kenapa milih yang mahal. "Bila salon lain tarifnya Rp.3000, maka di salon saya separuhnya," Rudy menjelaskan. Pelanggan baru yang dulunya cuma kenal nama. Mereka yang ingin membuktikan kualitas Rudy jadi lebih mudah.

Pelanggan baru datang membawa pelanggan lain. Dari cuma menerima pelanggan yang datang ke salon -tepatnya di rumah yang dijadikan salon-, Rudy mulai menawarkan jasa layanan panggilan. Ia dengan cara menerima potong rambut di rumah berhasil. Jadilah semakin bertambah jumlah pelanggan ditangani oleh Rudy.

Karena pelanggan terkadang rumahnya jauh. Rudy sedikit kerepotan kalau harus dipanggil. Memang nama Rudy sudah cukup terkenal lah. Untuk ini ayah Rudy membantu mengantarkan. Semakin lama salon kecil tersebut dikenal banyak orang di Kota. Hasilnya Rudy membuka salon sendiri dengan ukuran 8x9 meter.

Salon tersebut sudah tidak menjadi satu dengan rumah. Dalam salon sudah ada kaca rias besar berbahan dari kaca bekas lemari pakaian ibu Rudy. Peralatan salon juga semakin lengkap dibeli bertahap. Untuk meja cukup pakai meja bekas meja makan rumah. Bak pencuci rambut cukup pakai baskom kaleng bekas.

Pengering rambu tinggal pakai punya orang kebanyakan. Pokoknya pertama kali serius membuka salon itu cuma seadanya. Karena masih berkuliah alhasil salon Rudy cuma buka sore hari.

Bisnis passion


Setahun dia menjalankan rutinitas ngampus dan nyalon. Selepas kuliah mantap Rudy ingin fokus. Setahun sudah dia mengelola salon sederhana. Hasrat menjadi penata salon kenamaan makin kuat. Ia ingin menjadi lebih profesional. Meski, tahun 1970 -an, pengusaha salon identik dijalankan oleh ibu- ibu rumah tangga.

Tahun tersebut salon masih dirasa sambilan. Tetapi di mata Rudy merupakan potensi karir. Di kedua mata seorang Rudy melihat prospek cerah usaha salon. Hingga dia mulai berpikir untuk menekuni karir sampai ke luar negeri.

Berbekal nekad, Rudy menerima ajakan Robby sekolah penata rambut ke Hongkong selama dua minggu. Ia begitu pulang dari Hongkong makin bersemangat. Rudy ingin sekali menuntut ilmu lebih soal menata rambut. "Saya menabung dengan susah payah," tambahnya.

Uang tersebut kemudian digunakan berangkat ke London. Mulai tahun 1971 selama enam bulan dia belajar tentang tata rambut. Sudah banyak pengetahuan serta pelajaran didapat Rudy. Keahlian miliknya semakin terasah saja.

Kemudian dia mendaftar menjadi penata rambut modeling di Jakarta. Karir penatan rambu profesional dia jalani semakin menanjak. Padahal Rudy awalnya ingin sekali menjadi seorang arsitek. Namun lambat laun rasa cinta membawa ke dunia penata rambut. Ketika kuliah arsitek Universitas Trisakti tidak bersemangat.

Juga karena dia kesulitan membagi waktu antara karir dan kuliah. Hingga tahun 1972, diambil keputusan bahwa, Rudy memilih berhenti mengejar cita menjadi arsitek. Dia malah ingin berkuliah sampai ke Paris, berkuliah tata rias di kota fasion.

Dari menjadi penata rambut profesional orang. Dia membuka kembali salon sendiri. Lambat laun bidang usaha Rudy mencakup kursus tata rambut pemula. Masuk tahun 1974 kemudian ia mengembangkan bisnis salonya. Dia membuka cabang bersama Grace Soebekti, salah satu muridnya.

Nama Rudy Hadisuwarno makin berkibar saja. Sebagai pribadi mampu melampaui batasan negera. Nama Rudy sudah masuk Intercoiffure, yakni organisasi penata rambut asal Paris, Prancis. Pengakuan datang dari rekan sesama penata rambut dari luar negeri. Dia menjadi anggota organisasi penata rambut dunia.

Ia pernah mendapat penghargaan Satya Lencana oleh Presiden Soeharto. Sejak 1998, namanya tercantum dalam buku bertajuk Who's Who in The World. Dimana dirinya didapuk sebagai orang profesiona dan juga terkenal di bidangnya. Walau banyak penghargaan Rudy masih merasakan belum sukses.

"Sukses itu relatif ya". Mendapatkan berbagai penghargaan, didapuk menjadi juri di berbagai kontes tata rambut, baik dalam dan luar negeri. Dia didapuk menjadi vice- chairman Persatuan Ahli Tata Kecantikan Kulit dan Rambut Indonesia- Tiar Kusuma.

Bisnis Rudy mencangkup Rudy Hadisuwarno Organization (RHO) yang memiliki 147 cabang salon. Juga termasuk sekolah tata rambut. Rudy mengajak kedua adiknya, Haryadi (55) dan Gunawan (51), menjadi pengelola manajemen perusahaan. Sementara adik perempuan, Yani (54), yang memilih bekerja menjadi arsitektur.

Harapan bisnis Rudy adalah mencapai pasar luar negeri. Dia ingin membuka salon di luar negeri. Kalau ia bicara tentang pendamping. Yah Rudy menyerahkan kepada waktu menjawab.

Menghadapi masalah bisnis


Rudy sadar bahwa menata saja tidak cukup. Seorang ahli rambut harus mampu menciptakan. Dan sebagai seorang pengusaha sudah banyak inovasi diluncurkan. Aneka gaya rambut diciptkan Rudy khusus buat para pelanggan. Rudy pun memanfaatkan seorang "pelanggan setia" menjadi kelinci percobaan inovasi rambut.

Dia tidak lain adalah sang adik perempuan. Adik Rudy selalu mau ketika ditawari gaya rambut baru. Tidak sedikit sang adik komplain. Mulai dari merasa gaya rambut tersebut terlalu kependekan. "Kenapa kok jadi begini," ia menirukan Yani. Tidak jarang sang adik merasa kecewa atas hasil karya tangan Rudy kala itu.

Untuk menjawab rasa kecewa tersebut. Rudy siap berkaca akan gaya dihasilkannya. Perbedaan akan selera setiap orang diakui Rudy ada. Rudy menjadi sosok berhati- hati soal berinovasi. Meski begitu sebagai sosok pengusaha dirinya tidak akan pernah kapok membuat trobosan bisnis.

Apapun orientasi pelanggan akan coba diwujudkan Rudy. Disisi lain banyak halang rintangan lain datang dari pesaing. Suatu ketika muncul isu miring tentang salon Rudy. Katanya ada pelanggan mati karena kena steamer ketika creambath. Isu dihebuskan bahwa wanita tersebut juga merupakan istri seorang jendral.

Isu lain menyusul bahwa Rudy masuk penajara karena lalai. Kabar- kabar miring tersebut sudah menyebar membuat geger semua masyarakat sampai ke polosok. Namanya memang sudah disejajarkan dengan para tokoh publik. Alhasil salon yang biasanya melayani 70 pelanggan tiap hari, menyusut sampai sisa 3 orang.

Dia mencoba berpikir jernih menyelesaikan masalah. Langsung Rudy mengundang pewarta. Memberikan pengumuman besar- besaran mengklarifikasi. Cara menaikan pamor lagi ala Rudy, ialah menciptakan logo perusahaan berbentuk huruf R. Maksudnya agar memperkuat brand sampai ke tingkat paling pelosok.

Tidak berhenti disana, masalah besar lain ada yaitu dengan rekan kerja Rudy. Waktu itu My Salon dan Rudi menghadapi perselisihan. Katanya karena ada beda persepsi tentang bisnis. Sisi lain My Salon memiliki hak mencantumkan nama Rudy dibawah nama salonnya.

My Salon mengaku sudah ada kesepakatan. Disisi lain, Rudy tidak mengakui hak mereka, lantara pihak My Salon sudah melewati waktu perjanjian. Masalah tersebut digugat dan memenangkan pihak Rudy sebagai pemilik brand Rudy Hadisuwarno.

Artikel Terbaru Kami