Kamis, 22 September 2016

Bisnis Hidroponik Owner Disc Tarra Pengusaha Sehat

Profil Pengusaha Wirawan Hartawan 


 
Sejarah bisnis Disc Tarra patut diapresiasi. Ditengah turunnya bisnis CD lagu. Sosok Wirawan Hartawan tetap mengagumkan. Terakhir pengusaha senior ini membangun bisnis hidroponik. Memang terlepas dari bisnis sebelumnya namun berhasil. Wirawan kemudian bercerita kepada wartawan bagaimana kisahnya.

Satu gerai muski didirikan tahun 1980 -an. Usaha Wirawan menjual setidaknya 30 keping CD dan sampai ratusan keping selanjutnya. Didirikan di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota, dimana gerainya tumbuh dari waktu ke waktu lewat sistem franchise.Memang namanya bisnis ada naik turun. 

Pengusaha ritel


Wirawan mencatat terutama ketika krisis ekonomi. Namun tetap pasar Disc Tarra mengakar sampai 1000 pegawai dan 100 gerai terbuka. Dalam perkembangan bisnisnya menjelma menjadi Tarra Group, membawahi berbagai bisnis lain, mulai rumah produksi, pabrik, pusat pelatihan, sampai bisnis agro.

Wirawan sangat mengandalkan kerja tim. Dukungan orang sekitar dianggapnya berhasil mengangkat. Dan soal meningkatkan kemampuan tim, justru menurut Wirawan datang dari keadaan di dalam toko tersebut. Ia menambahkan tempat usaha harus nyaman, dicintai pegawai, hingga pegawai memiliki pemahaman.

Sebagai usaha dibidang ritel, maka strategi marketing dijalankan spesifik. Wirawan memanfaatkan aneka acara road show ke kampus, mengikuti pameran, mengikuti event musik, maupun menjadi sponsor produk. Untuk franchise cukup membayar 200 juta sudah bisa memiliki hak gerai besart isinya.

Dari Jaya Pura, Bontang, dan Surabaya, menjadi tempat gerainya berdiri. Dia memberikan pelayanan ke mitra utama. Mereka dirangkul tidak dijadikan gerai kedua tetapi juga utama. Pokoknya pemilik gerai yang franchise akan bangga akan trademark milik Wirawan.

Pemilihan tempat memang sangat signifikan. Dia mengisyaratkan tempat tumbuhnya kaum urban. Tempat para anak muda senang mengapresiasi produk bagus. Usaha Wirawan tampak ketika bisnis Disc Tarra ini sudah memiliki market 20%- 30% market share.

"Persaingan tidak terjadi antar pemilik ritel, tapi dengan pembajak," ujar Wirawan miris.

Hidup berkecukupan tidak membuat sosoknya lemah. Meski memiliki jenjang pendidikan bagus sampai ke luar negeri. Walaupun sudah memiliki pekerjaan mapan. Wirawan masih haus akan belajar melalui cara berwirausaha.

Macam cobaan pengusaha


Sempat kolaps ketika krisis ekonomi 98'. Bayangkan dia kaget ketika biaya oprasional naik, uang miliaran hangus, hutang pun menanjak di Bank. Tahun 2012 ujian kembali hadir di kehidupan pengusaha senior ini karena penyumbatan otak kiri.

Beruntung sang istri selalu menemani dalam doa. Kegagalan Disc Tarra lambat laun diperbaiki. Disisi lain penyakit mulai membaik. Wirawan taat perintah dokter untuk mengurangi makan daging merah. Kemudian dia disarankan mengkonsumsi sayuran hidroponik yang lantas menjadi inspirasi bisnis.

Berbekal pengalaman pahit dia sekarang makan sayuran tiga kali sehari. Dalam keranjangnya ketika keluar dari supermarket akan ada sayuran hidroponik. Lambat laun muncuk keinginan untuk menanam sendiri. Ia mulai mengambil inisiatif mengikuti kelas hidroponik. Juga mencari aneka literatur onlin tentang sayuran ini.

Wirawan yakin bahwa kesehatan mahal. Mangkanya dia bertekat buat belajar hidroponik sampai ke luar negeri. Begitu pulang dia praktikan menanam sendiri. Banyak orang terkesan dan minta diajari Wirawan. Kemudian orang datang menanyakan apakah produknya dijual.

Dia menggaet jajaran tim Tarra Group. Tujuannya agar membangun bisnis sebenarnya. Lewat kerja tim yang dikenal solit munculah usaha hidroponik Wirawan. Bahkan mengembangkat bibit sendiri selain juga menanam sendiri. Lewat You Tube juga memberikan aneka tutorial cara berhidroponik ke khalayak.

Dibawah naungan PT. Hydrofarm kemudian memasok pupuk, bibit, obat, dan segela informasi tentang cara berhidroponik. Portal www.hydrofarm.co.id muncul menjadi solusi gampang. Pada Mei 2015 dibuka satu kafe hidroponik dengan sayuran berasal dari usaha Hydro Farm.

Artikel Terbaru Kami