Jumat, 09 September 2016

Pengusaha Eksportir Teh Hijau Kakak Beradik

Profil Pengusaha Ifah Syarifah 



Semua berawal dari keprihatinan akan teh kita. Dia adalah Ifah Syarifah, wanita 49 tahun, yang mulai aktif di kegiatan sosial. Berawal aktifitas sosial diantara petani kebun teh, dia menyulap aneka teh hijau jadi aneka makanan. Terutama nih opak teh hijau yang dibaluri coklat enak nikmat.

Dalam setahun usahanya sudah mengantungi Rp5 miliar. Usaha Ifah dikenal sebagai eksportir teh hijau ke luar negeri. Aneka produk teh hijau terbilang inovatif dan variatif. Ada opak teh hijau, pelembab teh hijau, sabun teh hijau, dan masker wajah teh hijau. "Kami membuat pewarna lukisan dari teh."

Harga jualnya sih cuma Rp.10 ribu sampai Rp.125 ribu. Ibu Ifah cuma berpikir bagaimana agar teh disukai semua orang. Bagaimana nih agar remaja menyukai makanan tradisional seperti opak. Tidak cuma teh hasil lokal tetapi teh Jepang yang hijaunya lebih pekat.

Aneka usaha


Ifah berdomisili di Jakarta aktif kegiatan sosial. Fokus sosialnya membangun sekolah anak jalanan. Sejak muda dia memang lebih ke sosial. Dari 1995 sudah menyukai kegiatan sosial, di sekitaran kebun teh di daerah Bandung, Jawa Barat.

Dia membantu petani bersama teman- teman. Mereka membangun sanitas juga jalan. Sela- sela perjalanan dia belajar memetik teh. Ia mampu memilah teh berkualitas. Gurunya Ifah ya petani serta pemetik teh. Dia memahami seluk beluk proses pembuatan teh. Gaya pemetikan lewat ketajaman indra penciuman kita.

Di tahun 2014, dia kembali ke Bandung, kali ini dia kembali memberikan pelatihan buat petani teh. Bagi lulusan S- 1 Psikologi, Universitas Padjajaran, ini bukanlah hal tidak biasa. Dia mulai mengingat sembilan tahun lalu sebuah keinginan. Potensi bisnis teh hijau dalam benaknya menggeliat kembali.

Dia lantas mengajak adiknya, Evi Amalia, wanita 46 tahun tersebut bersama Ifah mulai melakukan riset kecil- kecilan. Maksudnya menemukan produk andalan yang tidak monoton. Untuk bahan baku daun teh dipasok kawasan Ciwidey, Sukabumi, Cianjur, Bandung Barat dan Garut.

Mereka dibantu enam karyawan mengolah. Mereka merupakan anak- anak petani teh. Tidak mudah tetapi karena dibalik usaha mereka adalah berbagi; tidak terasa rasa lelah. Setelah menemukan aneka produk dan pasar menerima usaha Arafa Teh. Keduanya sepakat memberikan donasi 25% kepada keluarga petani teh.

Bubuk teh hijau dijadikan coklat teh hijau, opak, kemudian minuman instan. Coklat teh hijau bukanlah coklat sembarangan. Memiliki level kepekatan teh hijau terasa dimulut. Kemudian ia menaburkan teh hijau Jepang keatas opak. Inilah perusahaan pertama inovatif yang fokus ke usaha aneka teh hijau.

Bisnis besar


Orisinalitas usaha mereka tidak perlu ditanyakan. Cita rasanya terjamin. Begitupula dengan higenitas yang mereka tawarkan. Perusahaan mereka juga menghasilkan pewarna batik dari teh loh. Arafa Teh menggaet pengrajin batik Solo, Pekalongan, dan Yogyakarta menjadi patner.

Mereka juga membuat sabun berbahan teh hijau. Merekomendasikan sabun tersebut melalui kerja sama dengan perusahaan farmasi. Mereka juga memproduksi teh putih yang mencapai 3 ton/bulan.

Agar bisnis mereka makin moncer: Arafa Tea membangun jaringan reseller. Antara lain Batam, Padang, Medan, Balikpapan, Lombok, Menado, dan Makassar. Mereka nanti menjadi jalan masuk ke kafe- kafe. Ia menyebut reseller mereka ada di 11 titik. Omzet dari mereka saja sudah mencapai Rp5 milair per- tahun.

Olahan teh mereka dilirik negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Qatar, Srilanka, dan Korea Selatan. Ia menyebut volumen ekspor sampai satu kontainer ke masing- masing. Inovasi selalu dilakukan Ifah agar usaha mereka mengglobal lewat jaringan yang sudah ada.

Sambutan positif masyarakat direspon lewat aneka produk baru. Kakak- beradik asal Bandung ini memang tidak ada bandingnya. Bahkan produk opak mereka sudah pernah dipesan Bapak President Susilo Bambang Yudhoyono sampai 2.500 opak. Produk mereka dibandrol harga Rp.10.000 sampai Rp.125.000 -an.

Mereka juga mendukung riset dan penelitian teh hijau. Mereka menggandeng Fakultas Teknologi Pangan, Universitas Padjajaran, menciptakan aneka pangan inovatif berbahan teh. Seiring peningkatan permintaan PT. Arafa Hangarita Asia memproduksi 120kg coklat, 5.000 opak, dan 60kg daun teh kering seduh tiap minggunya.

Artikel Terbaru Kami