Jumat, 23 September 2016

Pemilik Taro Joko Mogoginta Visioner Bisnis Dunia

Profil Pengusaha Jajanan Anak



Tidak mudah mencapai posisi sekarang. Berawal bisnis keluarga PT. Tiga Pilar Sejahtera bertransformasi jadi pemain di bisnis makanan ringan. Berawal bisnis mie kering bernama Cap Cangak Ular pada 1993. Kemudian si pendiri mulai bertransformasi bisnis ke aneka makanan ringan.

Keturunan ketiga Tan Pia Sioe, bernama Joko Mogoginta, membuktikan bahwa generasi ketiga tidak akan menjatuhkan malah menaikan nama perusahaan. Sosok cerdas visioner membuatnya mampu memegang semua lini usaha yang dulu cuma jualan mie kering dan bihun.

Perusahaan asal Sukoharjo, Jawa Tengah, mulai membesar sejak 2003 lewat akusisi fenomenal. Dimana mereka mengakuisisi PT. Asia Inti Selera.tbk atau pemilik brand mie kering Ayam 2 Telor. Bisnis utama mereka yakni food processing, crude oil atau CPO, hingga bisnis beras bermerek sendiri.

Dimulai menggurita sejak membangun pabrik baru di Sragen, Jawa Tengah, pada 1992. Dimana ada sosok Budi Istanto dan Priyo Hadisutanto. Nama diambil TPS dari inisial pendiri Tan Pia Sioe. Terus lama- lama kebutuhan akan produksi meningkat dan lahir pabrik baru seperti di Karang Anyar, Jawa Tengah.

Tahun 2000 -an mereka mendirikan satu pabrik di tanah seluas 25 hektar. Dimana dibangun pusat produksi satu atap, dan mampu memproduksi lebih dari 30.000 ton. Ditambah mereka mendirikan unit produksi buat mie instan.

Bukan bisnis biasa


Memang semenjak kecil sudah biasa dengan makanan. Waktu sekolah dasar sudah aktif membantu usaha keluarga. Bahkan sampai SMP bekerja menjadi marketing mencari calon kosumen kesana- kemari. Joko juga menerima dan menagihi pesanan di pasar- pasar terdekat seluruh Solo.

Masuk SMA sudah sampai ke luar kota buat memasarkan produk. Selesai masa kuliah Teknologi Pangan, Universitas Gajah Mada, tahun 1991 langsung terjun ke dunia bisnis. Karir pertama adalah membangun satu pabrik TPS di Sragen, Jawa Tengah, dengan produk andalan mie kering Superior.

Dia mengenang bagaimana mie Superior sulit. Jujur saja latar belakang pendidikan Joko tidak sesuai. Jika harus memasarkan produk olahan tersebut. Kalau menurutnya pribadi mie harus lembut, bagus, dan tidak putus, berbeda pikiran masyarakat. Menurut mereka justru mienya itu keras, susah dimasak, dan sulit dibumbui.

Akhirnya perusahaan mengikuti keinginan pasar. Dimana produk diubah sedemikian rupa agar dapat mudah diolah.

Strategi bisnis TPS memang ngetop. Mulai dari mengakuisisi Asia Inti Selera, dan mendapatkan produk mie Ayam 2 Telor tahun 2003. Kemudian menaruh perusahaan menjadi bagian dari pasar modal. Berkat dorongan pasar dengan bermodal itulah aneka akusisi dilanjutkan.

TPFS memiliki segenap strategi mengikuti arah pasar. Produksi pertama adalah produk utama yakni ada mie kering, mie kering premium, bihun, dan bihun premium. Merek dagang mulai mie Ayam 2 Telor, mie Superior, Filtra, dan Buah Kurma.

Kemudian jenis kedua yang digemari anak- anak tentunya kita tau. Mereka memproduksi mie kering siap makan, sereal, biskuit, waferstik, dan permen. Akuisis jajanan Taro menjadi puncak, karena nilai akuisi tersebut Rp.240 miliar dimana dibeli langsung di salah satu raja bisnis konsumsi, PT.Unilever Indonesia.

Tahun 2010 mulai lebih ke bisnis sawit dan beras. Anak usaha mereka yakni PT. Dunia Pangan, merubah padi basah petani menjadi beras dengan mesin modern. Agar makin hebat diakuisisi lah perusahaan padi modern PT. Jatisari Sri Rejeki di Cikampek, Jawa Barat.

Kemudian mengakusisi perusahaan PT. Alam Makmur Sembada, dengan produk andalan milik mereka beras merek Ayam Jago, melalui pembelian PT. Indo Beras Unggul. Dimana perusahaan mereka mampu memproduksi 800 ton gabah. Jika sebelumnya perusahaan produksi sekarang perusahaan TPSF lebih ke marketing.

Untuk bisnis palm oil melalui akuisisi perusahaan baru. Dan sudah memiliki lahan sampai 17.000ha pada 2011 saja. Tahun 2013 mendorong mendirikan perusaah minyak sawit sendiri.

Serba akuisisi


Tidak mudah mencari perusahaan diakuisisi. Satu syarakat diajukan Joko adalah memiliki fondasi kuat. Utamanya memiliki margin untung kotornya 40%. Untuk bisnis makanan ringan diakui memiliki sebuah kompleksitas yakni daya beli masyarakat. Akuisisi Taro sudah dipersiapkan sejak 2009 lalu loh.

Konsumen di bisnis makanan ringan terbilang komplek. Jadilah perusahaan harus konsisten mengamati prilaku dan mengakomodir kebutuhan pasar. Sembilan produk makanan unggulan perusahaan yakni snack Taro, Mie Kremezz, Growi, dan produk non- snack yakni Tanam Jagung, Ayam 2 Telor, Superior, Ayam Jago.

Strategi marketing juga sudah bukan soal memperkenalkan. Tetapi lebih ke ikut masuk ke kehidupan dari masyarakat melalui aneka acara atraktif. Kemudian ada promosi melalui televisi, aneka promo, dan itulah yang akhirnya membawa snack Taro dan Mie Kremezz jadi Top Brand for Kids dan Teen.

Pengembangan bisnis lainnya, yakni melalui gulas, mie instan, dan biskut, yang dianggapnya dapat dijual ke masyarakat global. Memang nilai ekspor rendah dari semua penghasilan yakni 3% saja. Sementara dari penjualan lokal atau market lokal telah menguasai 5% market share.

Melalui membagi saham menurutnya perusahaan tidak akan sendiri. Orang bilang ngapain dibagi- bagikan ke orang banyak. Namun menurut Joko justru disanalah perusahaan akan menjadi fondasi bagi Indonesia. Ia mengatakan bahwa passion -nya adalah membantu banyak orang.

"Passion karena ingin membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang," tutur dia.

Filosofi dibalik masuk bursa saham yaitu jangan hebat saja di akuarium. Jadilah perusahaan yang kemudian bisa masuk ke danau luas. Akusisi dalam bisnis makanan memang sangat penting. Karena menurutnya, ia membutuhkan pertumbuhan dimana konsumen mudah berubah, dan agar orang menaruh uang investasi di dalam.

Konstribusi terbesar yaitu Taro. Menurut dia kenapa sih mengakuisisi Taro. Karena produk tersebut sudah dicintai masyarakat, punya cita rasa dan ciri khas, dan utamanya konsumen loyal. Perusahaan aktif buat semua feedback dari anak pecinta Taro.

Kalau Taro sendiri baru menjajaki pasar ekspor beberapa tahun di 120 negara. Sedangkan merek dagang Taro di Indonesia sudah kuat sejak 30 tahunan. Marketing terbaru Taro adalah Taro Ranger. Tujuannya bagaimana membuat anak Indonesia yang dijajah gadget kembali ke alam.

Berawal dari 25 karyawan perusahaan bertransformasi besar. Tahun 2001 sampai 2002 dia mencanangkan profesionalisme, terutama karena perusahaan keluarga. Perusahaan harus dikembalikan ke pekerja. Dia menyebutkan perusahaan people harus menjadi good people.

"Pemimpin kalau punya tangan berani bertindak. Tapi kalau enggak punya otak, dia menjadi preman," tutur dia.

Artikel Terbaru Kami