Rabu, 14 September 2016

Donat Thailand Diwaralabakan Daddy Dough

Profil Pengusaha Peter Thaveepolcharoen 




"Saya suka bisnis donat ini jadi saya tidak pernah gentar untuk tidak menyerah," tulisnya. Sebuah kisah dari pengusaha muda asal Thailand, Peter Thaveepolcharoen, seorang direktur perusahaan waralaba bernama Daddy Dough.

Ia menceritakan bahwa bisnis bukan hal lama. Ini merupakan bisnis keluarga. Namun, hanya dari sentuhan tangan dingin Peter, usahanya berkembang menjadi tiga gerai utama. Selanjutnya usaha pemuda 27 tahun tersebut adalah membuka waralaba atau franchise global.

Alkisah dia hanyalah pegawai IT. Pekerjaan dengan gaji 100.000 bath. Nyaman bekerja saja ternyata tidak cukup. Dalam ketidak mungkinan, apapun bisa terjadi Peter malah memilih keluar dan membuka bisnis. Ia bermodal resep keluarga. Kesulitan justru dianggapnya menjadi karena dia masih lah sangat muda.

Kini pria 33 tahun ini sudah memiliki perusahaan besar. Nama Daddy Dough, berbekal resep sang ayah, sudah sangat dikenal di telinga masyarakat Thailand. Kepada IndoTrading, kisahnya bermula ketika umur masih 23 tahun, dan ia sempat bekerja selama dua tahun menjadi pegawai IT.

Bisnis tekat


Ia suka IT tetapi bukan passion. Berwirausaha merupakan panggilan hati. Inilah dirasakan Peter ketika ia mengeluhkan alur kerjanya. Bercerita ke ayah malah membuahkan ide berwirausaha. Sang ayah justru jadi orang pertama yang mendorong anaknya menentukan nasib.

Dorongan tersebut dibuktikan lewat pengunduran diri. Reaksi ayah ya tetap meyakini bahwa Peter akan jadi sukses. Lebih sukses lagi dibandingkan bekerja menjadi pegawai IT. Terbukti bisnisnya telah sukses mengantungi untung 15 sampai 30 kali lipat gaji ketika menjadi pegawai dulu.

Bayangkan dia mampu mengantungi omzet 80 juta baht global. Latar belakangan pendidikan pun tidak jadi masalah. Seorang lulusan sarjana komputer dan kemudian pindah ke jurusan manajemen. Tidak nyambung lagi dengan bisnis donat, Peter merupakan lulusan travel industry management.

Selepas sekolah menengah sebenarnya dia sudah disuruh. Ayah Peter mengajaknya membesarkan bisnis donat milik keluarga. Justru ketika dia tertekan dengan rutinitas pegawai. Perasaan bahwa bekerja bukan jadi passion -nya muncul -tetapi berwirausaha sendiri.

Meski ditangan Peter baru berjalan setahun setengah. Optimisme tinggi ditambah passion akan wirausaha tidak tertandingi. Kebetulan fakta bahwa bisnis donat belum begitu populer di Thailand. Sentuhan tangan anak muda membuat Daddy Dough memiliki cita rasa sehat mengikuti perkembangan jaman tidak jadul.

Ketika masuk ke bisnis keluarga bukan mudah. Ketika itu bisnis ayah sudah berbentuk restoran. Dan dia tidak mau tuh menjalankan restoran. Dianggapnya sistem yang sudah ada sudah terlalu mapan. Inilah pula alasan kenapa dia tidak mau melanjutkan usaha keluarga.

Dimarahi jadi pegawai


Tidak mau melanjutkan usaha keluarga. Ia malah bekerja menjadi akun eksekutif di perusahaan software. Ayahnya sempat marah tetapi pasrah. Ketika kebosanan rutinitas kerja datang ke Peter. Dia sendiri malah yang datang kepada ayahnya.

Inspirasi terbesar Peter adalah Roti Boy. Sebuah bisnis berkonsep seperti Krispy Kreme -nya Amerika. Sebuah fenomena waktu itu katika dia ke Bangkok. "Saya ingin membuat kembali fenomena," ia tambah. Demi menghormati ayah maka dia menggunakan resep ayah.

Bisnis dia imajinasikan ternyata lumayan. Uniknya dia membuka satu toko donat kecil diantara restoran sang ayah pada Agustus 2006. Penjualan ternyata bagus loh tetapi masalah ketika membuka cabang ke Siam Paragon di Desember 2007. Butuh waktu sepuluh bulan, akhirnya dia bisa membuka hingga brandnya dikenal.

Ia berkisah banyak orang gagal. Mereka gagal ketika membuka bahkan tempat kecil di mall. Inilah kenapa Peter mendapatkan tentangan dari ayah. Yah tetapi keduanya akhirnya sepakat bekerja sama untuk melaju ke depan. "Kamu tidak benar bisa memisahkan kehidupan pribadi dan bisnis," terang Peter.

Paling tidak dia dan ayah bisa saling jujur. Tidak diam ketika berbisnis hingga saling menyalahkan diakhir. Membuka usaha sendiri justru Peter tidak punya hari libur. Dia bahkan tidak memiliki malam minggu. Jika kamu pekerja kamu bisa lupakan pekerjaan ketika weekend.

"...tetapi saya tidak bisa," jelasnya. Bahkan ketika dia tengah mendorong keranjang belanjaan. Pikiran Peter akan ke perusahaan yang tengah dia rintis. Tetapi dia menganggap itu kenikmatan tersendiri.

Dia cuma keluar seadanya. Istilahnya kita mencari angin ke pantai ketika malam sabtu. "Saya sangat senang akan pekerjaan saya." Keinginan membuat donat kualitas internasional selalu terngiang. Dia bahkan sudah ingat dan fokus siapa pesaing utama mereka, Mr. Doughtnut.

Ia ingin membuat kita kenal produknya. Kunci sukses bisnis Daddy Dough sampai sekarang diantaranya ada di kualitas bahan baku. Peter menggunakan coklat Belgia yang lembut.

Bisnis waralaba


Dia menggunakan toping coklat Belgia. Ini merupakan pertama bagi negara Thailand. Donat miliknya juga tidak memakai lemak trans, yang mana merupakan andalan kebanyakan perusahaan makanan. Total ada 40 varian donat aneka rasa toping. Kualitas coklat merupakan andalan Daddy Dough tidak sekedar rasa.

Dengan resep rahasia, Peter yakin usaha dijalankannya akan semakin besar ke depan. Bahkan dia jaminkan bahwa tidak ada satupun tau resep miliknya. "Ibu dan ayah saya mengarahkan saya untuk menjadi pengusaha sejak kecil," imbuhnya.

Dia sama sekali tidak tau soal waralaba atau franchise. Dia cuma liat keluarganya sukses waralaba. Untuk mencapai tujuan ekspansi maka waralaba menjadi pilihan. Masalah lain, selain kesulitan ekspansi, ialah ia sulit mendapatkan pekerja berkualitas.

Menurut Peter semua orang bisa membuka toko. Tetapi mendapatkan tenaga berkualitas susah. Ini adalah tantangan lain ketika dia sudah menemukan waralaba. Dia bercerita bahwa beruntung sampai awal, mereka sudah mampu membuka lima cabang utama. Tetapi untuk mendapatkan pekerja berkualitas tidak secepat itu.

Butuh waktu bersama membangun bisnis. Tidak memiliki pengalaman menjadi masalah pengusaha muda. Termasuk pengalaman mencari dan menyeleksi pegawai.

Inovasi dari 15 menjadi 40 merupakan cara. Bagaimana Daddy Dough mencoba tetap berekspansi. Jika ia pertama kali menjual donat 15 baht sekarang 28 baht. Jumlah toko naik sampai 30 cabang tersebar. Dia ingat sepuluh tahun lalu: Mereka menjual 300 donat sekarang mencapai 1500 donat setiap harinya.

Berawal dari seorang pengusaha, ayahnya, yang bernama Somchai Thavepholcharoen membuka toko donat di Amerika kemudian di Thailand. Dimana di Thailand, Somchai malah beralih membuka sebuah restoran, daripada membuka toko donat. Dan ketika ayah Peter melihat bisnis donat lokal berkembang menggila.

Ia mengajak Peter melanjutkan bisnis keluarga. Resep donat andalannya kemudian diwariskan kepada sang anak, Peter. Tidak apa- apa kalau bangkrut Peker berpikir. Pengusaha muda tersebut bermodal 5 juta baht lantas memulai usaha donat.

Artikel Terbaru Kami