Minggu, 25 September 2016

Mengolah Bekas Semen Menjadi Batik Pekalongan

Profil Pengusaha Harris Riadi 



Nama Harris Riadi merupakan salah satu maestro di bidang batik. Pengusaha batik yang menekankan akan pentingnya memanfaatkan lingkungan. Harris sebelum menjadi pembantik dikenal sebagai seorang pelukis.

Lambat laun dia ingin membuka usaha batik sendiri. Sebelum berbisnis batik, ia sudah pernah bekerja jadi desainer perusahaan batik, yang mana dilakoni sekitar enam tahun. Sedangkan menjadi pelukis ia lakoni selama 15 tahun berkelana sampai ke Bali, Jakarta, dan Solo, kemudian menjadi pembatik sambilan saja.

Pria kelahiran Pekalongan, kemudian pulang kampung dan membuka usaha sendiri di Pekajangan, Kab. Pekalongan, tahun 1997. Lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta, lulus 1979, dimanan lanjut ke Akademi Seni Rupa Indonesia -sekarang Institut Seni Indonesia, tetapi ternyata dia tidak tamat.

Bisnis cerdik


Usaha bernama Bintang Batik juga buka di Desa Jeruksari, Tirto, Pekalongan. Karena berlatar belakang seni lukis maka dia tidak asal. Dia ingin menciptakan batik bukan sekedar komersial. Bintang Batik tidak memproduksi masal batik. Semua pekerjaan dilakukan dengan pemikiran agar menjadi master piece.

Tahun 2006 ketika ada Piala Dunia, inspirasi mendadak muncul, yang kemudian dia tuangkan lewat 100 lembar batik tulis. Motif batik menendang bola dan bola menjadi andalan. Dimana kemudian pesanan batik datang dari Bandung, Jakarta, Semarang, sampai Jerman.

Kemudian ketika ada musim valentine tahun 2007, tiba- tiba Harris meluncurkan motif batik bergambar kodok sedang bercinta. Pokoknya motif batik Harris benar cerdik. Bukan sekedar membuat aneka motif baru saja. Untuk pemawarnaan dia lebih memilih ke pewarna alami buatan sendiri.

Alasan utama kenapa ya karena mencemari lingkungan. Harri mengamati bagaimana industri batik sudah mencemari sungai Pekalongan. Contoh pewarna alami batik pengusaha batik Pekalongan ini: Warna merah dari kulit bawang, warna ungu dari bunga sepatu, kulit biji jelawe buat hitam, kayu mahoni warna coklat.

"Saya tidak ingin menambah beban lingkungan," tandasnya.

Walaupun begitu tidak dipungkiri Harris juga memakai. Bahan kimia dia gunakan serendah mungkin yakni 40% -an.

Semengat merubah bahan kimia menjadi alami. Membawa Harris semakin berinovasi mengurangi tingkat penggunannya. Cara paling kreatif menggunakan bahan limbah. Tahun 2006 dia membuat warna berbahan kotoran sapi dan kulit tebu dan rumput sebagai pewarna batik.

Obsesi batik


Tidak cuma terobsesi akan warna alami. Hal lain memenuhi pemikiran Harri ialah daur ulang. Walaupun cerita tentang kotoran sapi menjadi pewarna miring. Tanggapan masyarakat tersebut dianggapnya menjadi tantangan. Alhasil, memasuki aal 2007, dia membatik diatas kertas dan kantong bekas bungkus semen.

Bayangkan kantung bekas semen menjadi batik. Limbah yang dijual murah perkiloan ternyata jadi uang dan banyak. Kemudian produk tersebut diubah menjadi sarung bantal, tas, sandal, sampai gorden. Jikalau orang bicara kenapa tidak dijadikan pakaian, Harris lebih menjawab karena alasan estetika saja.

Batik kantong semen dibuat ya seperti batik biasa. Dia bercerita batik kantung semen mewujudkan cita- citanya. Yakni batik 100% berbahan alami. Pasalnya kalau memakai bahan kimia maka kantung akan rusak hancur.

Bayangkan pengusaha ini sebulan memproduksi 200 lembar. Penjualan utama ada di Jakarta yang mana ia jual antara puluan ribu sampai ratusan ribu.

Ada dua cara membatik diatas kantung semen. Pertama yaitu dibersihkan dulu kemudian baru dibatik langsung. Kedua dibentuk tali, dirajut, barulah dibatik diatas yang  sudah jadi. Ingat kualitas kertas bekas semen harus samalah kualitas. Kalau sudah jadi ternyata produk buatan Harris dapat dicuci loh.

Kisah batik kantung semen terinspirasi pemulung. Dimatanya tampak tidak berharga. Kreatifitas langsung mengusik memunculkan ide spontan. Seperti cerita- cerita sebelumnya Harris langsung praktik. Alasan lain karena mengandung timah. Dan di Jakarta, dibakar, kemudian membuat lingkungan tercemari olehnya.

Sejak Juli 2009 sudah mulai tuh memunguti sampah bekas semen. Bahan yang diduga mengandung timah dijadikan produk permanen. Produk terbaru seperti tas laptop, kotak tisu, gesper.dll. "Kalau bumi tidak diselamatkan dari limbah, ini berbahaya," tutur Herris penuh keyakinan.

Tidak berhenti disitu, dia masih ingin mengolah limbah lain menjadi batik. Banyak jenis limbah mengotori lingkungan. Cuma berpindah tangan tanpa solusi penyelesaian. Cara terbaik menurutnya adalah bagaimana memperpanjang masa pakai. Caranya menjadikan limbah menjadi produk permanan dapat dipakai terus.

Ia sadar tidak mudah limbah menjadi batik. Butuh ketelatenan serta masa trial dan error baginya. Namun ia meyakini selama memiliki keyakinan pasti bisa. Memang membuat produk batik bahan limbah tidak akan sebanyak batik biasa. Justru disanalah kelebihan produk batik karya Harris karena tidak ada duanya.

Ia berharap pembatik sadar lingkungan. Kenapa dia sukses membuat batik bekas bungkus semen ya karena dia dekat dengan pemulung. Dia memang lebih ke arah seniman. Sosok ayah pernah menentang pilihan Harris, Chairil Kasmuri seorang tentara, namun melihat sosial Harris malah mendukung dirinya.

Dia mendukung Harris menjadi pembatik. Bukan sekedar menjadi pembatik mandiri menghasilkan uang sendiri, tetapi berguna bagi masyarakat. Harris ingat dia anak ke empat dari sembilan bersaudara. Dan, ia sudah sukses berkat membatik.

Artikel Terbaru Kami