Selasa, 27 September 2016

Usaha Membuat Pisau Komando TNI

Profil Pengusaha Nina Agustina 



Sebenarnya perintih usaha dijalankan Nina Agustina adalah sang ayah. Dijalankan mendinga ayah, Widarto, yang juga merupakan anggota TNI aktif kala itu. Sebagai anak tentara Nina sudah terbiasa melihat senjata tajam. Namanya pisau khas TNI sudah tidak asing dimata ibu dua orang anak ini. 

Dibantu sang suami, Nurdiansyah, perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur, mereka berusaha menjalankan bisnis keluarga lebih lagi. Cerita bisnis pisau brand Amphibious memang cukup panjang. Kalau singkatnya semua ada hubungan dengan keahlian sang ayah di melempar pisau.

Bisnis senjata tajam


Sebagai anggota pasukan khusus TNI Angkata Laut. Pak Widarto memiliki keahlian melempar pisau. Dia waktu itu ditugaskan menjadi pelatih buat siswa Pelatihan Tempur Karang Tekok, Situbondo, Jawa Timur. Ia menunjukan keahliannya melempar pisau ke sasaran.

Keahlian melempar pisau miliknya sangat disegani. Belum tertandingi waktu itu. Jika dilempar pisau maka akan langsung menancap tepat di sasaran. Keahlian satu- satunya dijajaran Widarto lah yang membuka satu peluang bisnis. Bukan rahasia bahwa keahlian memakai pisau merupakan salah satu bagian keahlian TNI.

Dia selalu mempraktikan keahlian di rumah. Akhirnya anak- anak Widarto diajari semua cara melempar pisau. Termasuk ya Nina sendiri, bahkan aksi tersebut terbilang ekstrim lanjutnya. Dimana mengagetkan jantung anak- anak karena seketika. Ketika tiba- tiba dia melempar pisau tepat di bawah kaki mereka.

Sambil bergurau ayah cukup menjengkelkan. Dan ketika memiliki bisnis kebiasaan tersebut juga kena ke para pegawai. Bayangkan pisau terbang seketika tepat disamping kaki pegawai. Atau paling ekstrim bisa melewati wajah orang yang tengah berjalan. Kayak di film- film itu loh benar persis sangat mengagetkan.

Ketiga ana Widarto diajari melempar pisaung. Hanya saja, semuanya tidak sehebat ayah, yah bisanya cuma melempar tetapi tidak setajam mata ayah.

Kemudian banyak teman melihat keahlian Widarto.  Mereka iseng berpikir kenapa dia tidak ahli membuat pisau juga. Pikiran tersebut lantas menjadi bentuk dukungan. Widarto mulai memikirkan bagaimana cara membuat pisau sendiri. Dipadu dengan kemampuan memahami pisau pastilah menjadi pisau khusus TNI.

Tantangan bisnis


Dia kemudian mendatangi pandai besi, Pak Hafid, asal Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur. Sang bintara TNI tersebut mendikusikan kemungkinan kolaborasi. Hafid memang dikenal pandai besi pembuat anaka benda tajam. Disela pekerjaan, Widarto menunjukan sketsa pisau desainnya ke Hafid agar dicoba.

Widarto datang membawa desain lengkap dengan ukuran. Coretan- coretan itu dimintanya dijadikan pisau nyata. Ia meminta Pak Hafid membuatkan tetapi dengan bentuk kasar. Ditangan Widarto sendiri pisau lalu dipoles dijajal, agar seimbang dan proposional. Hasilnya ternyat sangat bagus sesudah dipoles Widarto.

Benar presisi ukuran mampu membuatnya akurat ketika dilempar. Lalu teman Widarto menjajal dan mulai memesan pisau buatannya. Karena selalu laku terjual, bisnis sampingan tersebut dilanjukan sambil tetap menjadi anggota TNI AL. Kemudian Pak Hafid dijadikan pegawai permanen oleh ayah Nina.

Bertahap hingga mereka membuka workshop. Mereka membuka tempat pandai besi dekat tempat tinggal mereka. Maka setiap hari, Pak Widarto akan membuat desain, kemudian Hafid menempa membentuk sesuai desain. Bagian finishing kemudian diserahkan kepada pegawai lainnya.

Bentuk pisau mereka bagus serta ideal bagi standar TNI. Hingga salah satu desainnya lantas dipatenkan. Ia memberi nama Amphibious.

Memang kualitas pisau mereka bagus. Alhasil masuk tahun 2000- 2009, mereka memenangkan tendar di mabes TNI AL untuk marinir. Seiring waktu usahanya tidak cuma membuat pisau standar TNI. Adapula pisau lain diproduksi workshop mereka. Mereka membuat pisau tradisional, pisau rumah tangga, samurai.

Sang ayah lantas meninggal dunia pada tahun 2009. Bisnis mereka kemudian dilanjutkan adik laki- laki Nina, yaitu Oscar Muara. Hanya adik Nina kemudian mengundurkan diri. Kemudian Nina menggantikan buat melanjutkan usaha. 

Sementara itu produk Amphibious tersebar ke pasar seluruh Indonesia. Selain digunakan TNI AL, produk
Amphibious juga pernah menjadi pegangan petugas keamanan (satpam), petugas SAR, tetapi tidak melulu untuk satu model saja. Perkembangan desain produk mereka juga masih dijalankan Nina.

Mereka juga memberikan kesempatan desain sendiri. Namun, Amphibious memang menjadi juara, selain karena desain menarik, kekuatan dan ketajaman presisinya terbukti. Bahkan menang jauh dibandingkan produk pisau buatan China.

Kalau buatan mereka, mau harga termurah, sampai termahal semuanya rata- rata terbuat dari bahan baja yang tentu beda dengan besi biasanya. Bahan tersebut biasanya didapat dari cakram motor, per mobil, juga dari gergaji. Untuk bahan baja memang menurut Nina menjadi masalah produksi workshop mereka.

Kesulitan juga tinggi hingga tidak semua ahli. Cuma Pak Hafid memiliki keandalan membentu pisau. Ini menjadi masalah ketika dia meninggal dunia. Alhasil pandai besi lainnya tidak seandal Pak Hafid dalam menempa baja menjadi pisau. Alhasil Nina terpaksa mengorderkan ke pandai besai lain yang tersebar di pelosok.

Memang sulit mencari pandai besi yang mau mengerjakan. Namun tidak langsung ketemu cocok. Karena nama mereka terkadang tidak sesuai digadangkan masyarakat sekitar. Meski begitu buat finishing, syukur, Nina memiliki pegawai siap membuat sarung, pegangan, dan penghalusan dari tempaan pandai besi.

Bisa saja tidak memakai pandai besi. Namun hasilnya tidak akan sekuat dan setajam diharapkan. Karena itu tidak langsung dipotong kemudian dibentuk. Tahap penempaan merupakan krusial dalam bisnis mereka. Ia menyebutkan proses pembakaran akan sukses jika dilakukan pandai besi asli.

Disisi pandi besi handal terbatas. Pesanan ke Nina memang cenderung banyak. Pesanan dari berbagai pihak kedinasan menanti. Jumlahnya besar terus, alhasil ya dia memutuskan tidak menerima beberapa pesanan. Total 330 model telah diproduksi workshop mereka mulai pisau dapur sampai samurai bisa.

Buat samurai ada jenis kenzi dan tanto. Yaitu samurai pendek buat harakiri. Juga samurai panjang layaknya di film. Soal logo serta ukiran diserahkan ke pemesan bisa. Walaupun tanpa sang ayah, Nina tetap yakin, percaya diri membangun bisnis keluarga bahkan memproduksi desain buatannya sendiri.

Ia sadar jika tidak akan ditinggalkan konsumen. Buat model baru dicari lewat internet. Inspirasi tidak bisa ditunggu saja. Tentu sejumlah modifikasi dilakukan agar lebih tajam. Nina sekarang melayani sejumlah toko aksesoris militer di penjuru Indonesia. Dia memiliki dua showroom di Banyuwangi, Jawa Timur.

Dan usahanya rajin mengikuti pameran. Harga jual variatif mulai Rp.10 ribuan, sampai samurai yang bisa mencapai jutaan. Soal omzet sudah Rp.200 juta per- bulan. Kemudian pisau laku lainnya yakni pisau King Cobra. Sang suami akan membantu urusan eksternal, sedangkan didalam Nina mengurusi semuanya.

Pembeli banyak dari berbagai latar belakang. Ada tukang jagal hewan yang memerlukan ketajaman pisau. Atau ada sekedar pengkoleksi pisau atau samurai.

Artikel Terbaru Kami