Jumat, 16 September 2016

Merubah Nasib Lewat Wirausaha Eceng Gondok

Profil Pengusaha Sambina Alfrina 



Keinginan merubah nasib membawanya. Ini kisah Sambina Alfrina. Ia hidup sebatang kara di Tangerang. Dia ditinggalkan sang suami. Tidak memiliki pekerjaan. Dia adalah perantauan asal Purbalingga. Semua ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan, tidak ada keinginan muluk ketika memulai usaha eceng gondok.

Bahkan dibenaknya apakah mungkin berhasil. Keraguan tersebut dibayar melalui aneka pelatihan. Untung karena PT. HM. Sampoerna tengan mensponsori acara. Sebuah acara pelatihan wirausaha oleh Dewan Kerajinan Nasional atau Dakernasda.

Dimulai tahun 2013 dengan bermodal seadanya. Dia mendapatkan pelatihan: Bahwa eceng gondok punya kemampuan diolah menjadi kreasi tanpa batas. Yang dibutuhkan Sambina Alfrina hanya imajinasi dan kreatifitas. Bermodal uang Rp.1 juta dan peralatan dari Sampoerna dimulai lah.

Bisnis sederhana


Dia bersama beberapa ibu bekerja sama. Mereka memanfaatkan limbah enceng gondok. Memang daerah mereka banyak ditumbuhi tanaman gulma ini. Dari membuat kerajinan tas tangan, pot bunga dan sepatu. Ia mampu menghasilkan untung Rp.2 juta per- bulan. Ini sudah mencukupi tanpa mengandalkan pendapatan suami.

Tidak gampang tertulis diatas. Ia merasakan masalah datang. Kebutuhan biaya produksi menjadi kendala utama. Kembang kempis dia mencoba bertahan pertengahan 2013 silam. Untungnya dia tidak berhenti di tengah jalan. Meski berhenti sesaat, dia langsung bangkit dan memulai kembali usaha.

Tidak cukup uang buat menyetok eceng gondok. Apalagi ketika musim penghujan tiba. Dia terpaksa buat berhenti. Alhasil dia tidak menjual dan menggaji pegawai susah. Awalnya dia membuat produk tempat tisu dan tas. Sambina tidak patah arang terus belajar membuat lebih komplek.

Disisi lain, dia juga memberikan pelatihan kepada masyarakat, mereka bersama terus meningkatkan daya jual mereka. Tahun 2014 dirinya dikirim menjadi instruktur di Madagaskar. Uang memberi pelatihan ia gunakan kembali menjadi modal usaha.

Ia kemudian menyetok bahan baku. Mengkombinasikan dengan bahan baku lain. Sambrina telah mampu menciptakan produk diversif tidak monoton. Bahan lain syaratnya harus ramah lingkungan. Mulai bahan kain batik daur ulang, tali tegel, ataupun pralon bekas. Pegangan tas, contohnya dibuat dari pralon bekas loh.

Proses pembakaran dilakukan agar pralon lunak. Ataupun cukup diamplas saja. Dia membuat produknya jadi sebagus mungkin. Kualitas produk sudah dipahami wanita ini. Semua produk bagus, tentu juga relatif, tergantung persepsi pembeli tentang produknya.

Bisnis untung


Usaha dibawah bendera Putri Eceng. Sedikit banyak membantu membersihkan rawa dan saluran irigasi. Ia juga menciptakan karpet eceng godok darisana. Produk karpet lumayan diminati masyarakat. Bahannya jadi empuk serta tidak panas ketika cuaca panas. Benar- benar cocok buat kamu yang mau jalan- jalan.

Meski sederhana semua dijamin. Ina, begitu panggilan akrabnya, mampu mengkonsep produk semenarik mungkin. Bukti sukses Ina ya salah satu anggota DPR RI, Indah Kurnia, menggunakan produk Ina. Ketika ia melihat produknya langsung diborong loh.

Dua tas langsung dibeli dia loh. "Salah satunya adalah tas eceng gondok dengan pegangan dari pipa pralon yang dibakar," imbuhnya senang.

Harga jual produknya terbilang tidak mahal. Ya satu tempat tisu dijual seharga Rp.20.000. Untuk tas harga jual Rp.150.000 dan karpet sampai Rp.350.000. Bersyukur Sambina kini dibantu delapan orang pegawai. Kalau ramai mengajak tetangga lewat lima kelompok pengrajin membantu.

Meski sudah sukses dirinya tetap mengajar sesama. Ia mengajak semua orang menjadi pengusaha bidang sosial sepertinya. Wanita kelahiran 1974 ini banyak mengajak warga sekitar rumah. Dia langsung tidak ragu membagikan pengetahuan. Baginya membagi ilmu menjadi salah satu media beramal mudah.

Total satu kuintal eceng gondok dipakai. Mereka diangkat dari rawa, dikeringkan sampai kadar air hilang, diperas sampai benar kering. Kemudian Ina bersama pekerja akan menganyam. Produk dibutuhkan waktu 1- 2 hari kalau mudah. Paling sulit ialah membuat karpet dari bahan eceng gondok karena ukurannya.

Dalam sebulan usahanya menghasilkan 15 item- 20 item. Ia mengaku untuk sekarang omzetnya mencapai Rp.10 juta. Ini berkat penjualan sampai ke Jakarta, Bandung, Cianjur, Tasikmalaya, Surabaya, bahkan ke Makassar. Ia juga membuka showroom di gedung SME Tower Jakarta.

Konsumen asing benar- benar tertarik dengan karpet. Salah satunya pembeli asal Jepang menjadi langgana karpet.

Artikel Terbaru Kami