Kamis, 11 Agustus 2016

Bank Mempersulit Pengusaha Peci Lontar

Profil Pengusaha Mulyadi 



Menjadi pengusaha terkadang tidak ada dibenak. Apa yang dilakukan kita terkadang menjadi rejeki. Seperti kisah Mulyadi, melihat bagaimana daun lontar dapat dibentuk sedemikian rupa. Ujungnya dia menciptakan peci lontar karyanya sendiri. Selain peci dia juga membuat aneka topi berbahan daun lontar nan- elok.

Produk buatannya sudah berkelana sampai Amerika dan Korea. Manfaatnya sedemikian rupa sampai orang NTT menyebutnya pohon kehidupan. Buahnya bisa dirubah menjadi minuman segar bernama nata de nira/ lontar. Buahnya setengah tua dapat dijadikan bahan pakan. Kalau sudah tua dapat menjadi bahan make up.

Pria 31 tahun ini sudah mendesain topi dan peci sejak 1992. Menurutnya pohon lontar kok mirip pohon kelapa. Lalu dia berkesimpulan serat pelapahnya dapat menjadi bahan. Kini harga jual serat lontar yang ia telah rubah menjadi topi atau peci antara Rp.25 ribu sampai Rp.50 ribu.

Sebulan dia memproduksi paling sedikit sampai 1.000- 3.000 buah. Omzet penjualan Mulyadi juga lumayan sampai Rp.30 jutaan.

Produknya menyebar tidak cuma Sulawesi, tetapi sudah Jakarta dan Surabaya. Namun tidak berhentik, ia menjualnya sampai ke Jepang, Korea, Malaysia, dan Amerika Serikat. Itu sudah berkurang jumlah negara tujuan ekspor. Ia mengaku sangat kesulitan untuk memenuhi pasar ekspor.

"Sekarang enggak ekspor lagi," keluhnya. Sulitnya menghimpun dana buat berproduksi. Sulitnya mengajukan dana dari Bank membuat Mulyadi berkecil hati. "..dipersulit, jadi malas," sanggahnya.

Artikel Terbaru Kami