Rabu, 06 Juli 2016

Rendang Resep Nenek Enaknya Omzet 300 Juta

Profil Pengusaha Ivan Daryana 



Bisnis rendang memang menguntungkan. Semenjak namanya masuk dalam daftar makanan terenak di dunia. Rendang kini sudah merambah pasar ekspor. Inilah kisah suami- istri pembuat rendang enak. Kisah seorang Ivan Daryana (40) dan istrinya, Intan Rahmatillah, tak menyangka mampu meraup omzet hingga ratusan juta.

Alkisah Ivan hanyalah pegawai biasa bekerja keras. Gajinya mapan bekerja di sebuah perusahaan besar. Ia meski begitu meresa tidak nyaman. Memang harusnya cukuplah uang pekerjaan sebagai karyawan Garuda Maintenance Facility (GMF- AeroAsia). Dia sudah cukup bergelimangan harta ketika menjadi karyawan.

Namun, sekali lagi, terasa menjanggal dalam benak Ivan. Meski bergaji tinggi pekerjaan tersebut dirasa ia tidak cocok. Padahal Ivan bekerja sesuai bidang dipelajarinya sewaktu kuliah. Dia sendiri adalah lulusan S-2 ITB Teknik Industri, dan memilih keluar resign, kembali ke kampung halaman di Bandung tercinta.

Ia ingin memulai hidup baru. Keingan terkuat ialah membuka usaha sendiri. Namun tidak semudah berkata, dia tidak pernah mewujudkannya. Keinginan tidak ditunjang keadaan. Alhasil hanya menjadi pengangguran tidak bekerja. Sampai Ivan ditawari mengajar menjadi dosen sebuah perguruan tinggi swasta.

"Akhirnya saya memutuskan untuk mengajar dulu," kenang Ivan. Menurut Indotrading.com sebagai dosen, maka pendapatan didapat berbeda ketika menjadi pegawai. Bukannya naik malah turun pendapatan Ivan tidak besar.

Bedanya dia tidak terjebak rutinitas kantor. Jam mengajar pun lebih fleksibel. Karena kebebasan itulah dia mampu membangun rencana mau usaha apa. Kebanyakan dosen memilih mengerjakan proyek. Tetapi dia lebih memilih membuka usaha sendiri.

Sayangnya ide bisnis tidak kunjung muncul. Pengennya berbisnis bermodal sedikit tetapi menghasilkan. Ia akhirnya mendapatkan ide ketika mudik ke rumah nenek. Nenek sang istri yang merupakan keturunan asli Padang. Ketika itu dia sedang menikmati makan di rumah nenek. "Disana disajikan rendang unik," ia lanjut.

"Rendang berbentuk kubus, warna gelap nyaris hitam, dan kering tidak ada minyak," imbuhnya. Walau dia sempat ragu mencicipi tetapi rasanya luar biasa. Rendang buatan nenek sangat enak. Rasanya berbeda dari rendang selama ini dia cicipi.

Berbisnis resep


Istrinya Intan berkata itu merupakan resep keluarga. Katanya nenek Intan justru rendang asli malah begitu. Dia kemudian mengenang dulu. Ayah Ivan pernah meminta rendang bikinan nenek istrinya. Dan ayah Ivan bilang kalau rendang seperti ini susah dicari, dan hanya ada di Padang.

Yah padalah dia sudah lama mendengar tentang rendang tersebut. Namun barulah sadar bahwa rengdang ini benar- benar berbeda. Dan ketika dia mencicipi pertama kali, justru ketika dia membutuhkan ide bisnis maka inilah jawaban atas kengototan seorang Ivan Diryana.

Ayah Ivan adalah seorang dosen yang suka mengerjakan proyek ke Padang. Dari sanalah ayah sadar akan cita rasa sebenarnya rendang Padang, berbeda dengan anaknya Ivan. Singkat ceritanya dia memutuskan buat berjualan rendang. Ide bisnis ini ditelusuri lewat sang istri tentang bagaimana cara membuat rendangnya.

Sang istri kemudian meminta resep bagaimana cara membuatnya. Butuh waktu hingga Intan dinyatakan lulus dari sang nenek. Karena resep turun menurun Intan butuh restu keluarga buat dikomersilkan. Beruntung Ivan diperbolehkan dan akhirnya bisa tersenyum lepas.

Usaha ini kemudian dimulai tahun 2011 berlabel Rendang Nenek. Usaha mereka membuat rendang daging bermodal resep nenek. Brand -nya sederhana yaitu rendang Padang, yang dibikin merupakan hasil resep turun- menurun dari sang nenek. Dibutuhkan modal Rp.1 juta diproduksi sendiri dengan peralatan seadanya.

Ivan tidak memiliki mesin apapun. Kemasan sederhana plastik membuatnya bertahan beberapa hari saja. Ia tidak pantang menyerah. Hasil berjualan disisihkan diputarkan menjadi modal. Menabung sampai mereka punya 1 freezer, 2 vacuum sealer, dan 12 kompor 24 titik api.

Berbekal itu kemasan lebih bagus sehingga awet sampai 6 bulan. Ivan benar- benar memperhatikan betul soal pengemasan. Rendang Nenek memiliki 7 varian rasa yaitu ada rendang paru, daging, hati, limpa, ayam suwir, jengkol bahkan jamur tiram.

Omzetnya rata- rata Rp.100 juta, bulan puasa mencapai Rp.300 juta, dan memproduksi kurang lebih 1 ton daging. Ini belum termasuk varian rasa. Dengan cekatan dia langsung memilih mengetes pasar online lewat situs gratisan Multiply. Ketika belum berbungkus benar Ivan sempat deg- degan ketika berjualan online.

"Khawatir terlambat keburu basi," kenangnya.

Berkembang pesat


Perubahan kemasan serta proses produksi merubah segalanya. Ivan juga memperbaruhi sistem penjualan. Ia tidak lagi khawatir cuma kuat seminggu. Kini pemasaran online melalui website berbayar dot com. Kebetulan dia paham membuat website sedikit. Maka jadilah website sederhana sementara www.rendangnenek.com.

Perlahan tapi pasti mengumpulkan uang. Dia menabung agar bisa membeli vacuum sealer loh. Alat berkelas industri membuatnya bukan sekedar UMKM. Dibantu Dinas Perindustrian dan Perdagangan lewat serangaki pelatihan pengemasan produk.

Rendang ayam dan sapi mampu bertahan 6 bulan. Sementara rendang lainnya bertahan sampai sebulanan. Hanya bermodal uang gaji dosen dan untung dari penjualan, Ivan merangkak menjadi pengusaha berkelas nasional.

Usaha Rendang Nenek terus berkembang. Dulu cuma berbekal dapur, sebuah kompor, dan kulkas pribadi buat menyimpan daging. Sekarang dia merombak ruang bawah rumahnya menjadi pabrik. Yang mana bisa mengolah sampai 50kg daging per- hari.

"Alhamdulillah perlahan kami terus kembangkan usaha Rendang Nenek ini," jelasnya. Kekuatan dalam hal pengawasan produksi menjadi andalan.

Penjualan sudah menyebar sampai Aceh dan Papua. Untuk pembelian tersebar datangnya dari Jabodetabek dan Bandung. Penjualan ke luar negeri seperti Brunei Darusalam, Jepang, Prancis, Jerman, dan negara asal Eropa.

Marketing unik


Dia menjual ke luar negeri lewat jalur nitip. Mereka pembeli setia yang rela bayar mahal. Rendang Nenek lalu berkeliling ke negara- negara tersebut. Bersama ada 8- 10 orang pegawai direkrut memenuhi pemesanan Ramadhan sampai Lebaran. Mereka senang karena mendapatkan pekerjaan dan penghasilan tambahan.

Kebanyakan mereka merupakan lulusan SD atau SMP. Mereka itu ibu- ibu bersuamikan tukang bangunan, tukang ojek atau sudah tidak punya. Semua berkat kegigihan sekarang bisa membantu banyak orang biar bisa makan.

Ia berkisah awalnya banyak orang gagal paham. Waktu itu belum seramai sekarang. Orang belum paham apa itu rendang kemasan. Memang rendang bisa dikemas seperti mie instan. Kemudian datang dari apakah rendang buatannya halal dimakan. Apalagi waktu itu dia masih memproses mengembangkan penjualan dulu.

Modalnya pas- pasan bukanlah kendala baginya. Dia bertahap membiayai semua bermodal gaji dosen. Ivan menghadapi masalah ditribusi sampai harga sapi mahal. "Hal paling menyulitkan ketika harga daging sapi yang terus meningkat," jelasnya.

Usahanya membesar karena fokus ke masa depan. Dia bahkan berhasrat agar rendangnya go international. Tetapi sebelum itu dia ingin rendangnya menyebar sekala nasional dulu. Baginya pasar lokal masih belum dia kelola baik. Maka dia menargetkan agar mampu bersaing masuk ke pasar retailer- retailer modern.

Kunci sukses


Konsistensi merupakan kunci sukses lain. Sukses juga jangan sampai membuat kamu sombong. Sebelum ia mengerjakan Rendang Nenek. Ditelisik oleh IndoTrading ternyata dia pernah berbisnis lain. Tepatnya tidak jelas apa, tetapi dia gagal dikarenakan tidak konsisten.

Berkat dukungan istri maka dia mampu tetap konsisten. Jangan berharap untung di tahun pertama. Janganlah fokus mendapatkan keuntungan sebesarnya. Janganlah berpindah ke usaha lain harus benar- benar jalannya benar dulu. Bangunlah sistem lakukan aneka perbaikan dalam berbagai hal. "Profinya Insha Allah mengikuti."

Perhitungan matang juga tidak dapat dipungkiri. Perhatikan segmen pasar, Ivan mengingatkan bahwa masih banyak UMKM yang ugal- ugalan soal penjualan. Pemasaran bukan soal promosi saja. Tetapi soal nantinya membangun daya saing. Belajarlah banyak teori pemasaran kemudian praktikan ke bisnis langsung.

Berkat itulah, kini, mereka merambah ritel modern melalui supermarket di Bandung, contohnya Setiabudi Supermarket. Juga membukan cara jualan keagenan ada 20 agen menjual ke berbagai daerah.

UMKM tidak cuma membantu pengusaha seperti Ivan. Tetapi memberikan harapan baru bagi ekonomi di Indonesia. Bayangkan dia mempunyai seorang pegawai umur 55 tahun lulusan SD. Maka hanyalah di UKM dirinya masih bisa menghasilkan uang ditengah kebutuhan hidup makin mahal.

Dukungan pemerintah dirasa Ivan dibutuhkan. Adanya kebijakan mendukung UMKM sangat dinantikan. Ia menambahkan kalau ingin Indonesia maju, maka perhatikan UMKM. Katanya kenapa membuang anggaran harusnya berikan ke UMKM bukan cuma pengusaha besar.

Dia menjelaskan janganlah memaksakan. Jangan memaksakan gaya hidup seperti orang kaya. Kalau belum waktunya memiliki barang mahal, jangan dipaksakan. Bekerja keras sampai ke posisi tersebut. Kalau tidak bisa liburan ke luar negeri, ya jangan dipaksakan.

Jangan karena ingin iPhone nekat membeli nyicil. Orang Indonesia kebanyakan gaya hidup dulu, gak apa yang penting kekinian, nyicil sampai tahunan gak masalah. Jangalah bergaya cuma buat persepsi orang saja. Nah, beerkat menabung dan tidak gaya hidup mewah, kini Ivan mampu mengantungi omzet sampai Rp.300 juta!

Artikel Terbaru Kami