Minggu, 03 Juli 2016

Cuci Sepatu Semarang Wardiman Unik Menghasilkan

Profil Pengusaha Didik Kurniawan Toyiban



Buka usaha laundry sudah biasa. Bagaimana jika membuka usaha laundry sepatu, unik kan. Wardiman lantas berkisah bahwa semua bermula dari hobi sepatu. Pria bernama lengkap Didik Kurniawan Toyiban atau suka dipanggil Wardiman mengaku semua iseng awalnya.

Dia menyukai sepatu aneka bentuk, warna, dan bahan. Wardiman bersama teman, yang bernama Yohanes Awie Ananta, atau Awie merupakan penggemar sepatu apapun mereknya. Mereka sendiri merupakan warga Kecamatan Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah. Kedua sahabat ini lantas membuka usaha cuci sepatu.

Mereka merasa kesulit merawat aneka sepatu itu. Yah akhirnya sepatu- sepatu itu bertumpuk tidak terpakai karena nanti takut rusak. Mereka rasa semua orang mengalami pengalaman tersebut. Munculah ide mengenai bagaimana membuka usaha mencucikan sepatu.

Tanggal 25 Desember 2014, kedua teman ini sepakat membuka usaha bersama. Dimana mereka memberi nama usaha mereka Titik Shoes Spa. Keduanya menyewa tempat dan membuka layanan buat aneka merek sepatu dan bahan, mulai berbahan kulit Suede, Nubuck, ataupun kulit lainnya.

Sepeti namanya mereka memberikan perawatan spa untuk sepatu. Mereka menerima segala macam sepatu. Tetapi kebanyakan merupakan sepatu mahal yang sukar dicuci. "Dirawat agar tetap kinclong," imbuhnya. Ia sendiri cukup percaya diri merawat sepatu berhargaan jutaan rupiah.

Bisnis nekat


Menurut Suaramerdeka.com, Wardiman bukanlah pengangguran, dia pernah bekerja di sebuah tv lokal. Untuk menjadi pengusaha muda rela resign meski pekerjaannya telah mapan. Keisengan tersebut ternyata punya prospek cerah. Ketidak sengajaan berbisnis membawa pria 32 tahun ini mantap buat berwirausaha.

Pria kelahiran Semarang, 3 Maret 1985, tidak takut ditengah menjamurnya usaha sejenis. Ia meyakini usaha Titik Shoes Spa masih akan berkembang.

Semua berawal dari iseng, cerita- cerita sambil nongkrong bareng temen. Nyeletuk Wardiman bilang mau buka usaha jasa membersihkan sepatu. Kebetulah seorang teman asal Yogyakarta yang mempunyai hobi sama. Bedanya temannya ini jago membuat bahan pembersih sepatu sendiri.

"Setelah dikasih cleaner, aku mikir ini kayaknya kalu dijual terus usaha buka jasa laundry sepatu boleh juga nih," ceritanya. "Bismillah, buka saja."

Nama Titik Shoes Spa sendiri hasil becandaan teman. Mereka memberi saran banyak, termasuk soal nama usaha yang akan dijalankan Wardiman. Nama Titik Shoes Spa ternyata plesetan dari nama Titik Puspa. Tapi kalau dijabarkan kembali nama Titik berarti berhenti. Sementara Shoe itu sepatu, dan Spa itu yah tempat perawatan.

Jadilah artinya cukup di tempat itu. Orang akan berhenti buat merawat sepatunya. Kira- kira itu kesimpulan Wardiman diiringi derai tawa ketika diwawancarai. "Seperti itu kira- kira penjabaran garingnya," selorohnya.

Padahal meski dikenal penghobi sepatu. Mereka tidak seahli dibayangkan orang. Keduanya memulai semua dari nol. Pengetahuan perawatan sepatu mereka dibilang minim. Pernah awal- awal ada orang nyuci sepatu ke tempatnya. Eh sepatu berwarna putih polos dicuci malah menjadi kuning.

Karena belum ada SOP jadilah berantakan. Dia ingat ketika mencuci sepatu sambil ngerokok. "Eh kena rokok jadi bolong," kenang Wardiman lagi. Namanya usaha baru pertama kali, maka ketika mereka telah melakukan kesalahan ya mereka akhirnya rela hati mengganti rugi.

Pokoknya sebagai pengusaha jujurlah melayani. Bilang lah keadaan apa adanya meski pahit. Komunikasikan masalah terjadi meski makian menanti. Ketika mereka meminta ganti rugi ya diganti. Jika mereka meminta layanan cepat maka tepat waktu lah melayani.

Bukan bisnis pertama


Dulu dia mengaku pernah membuka usaha clothing. Jatuh bangun dibuatnya mengerjakan bisnis tersebut. Tapi dia bersyukur usahanya dapat digunakan makan. Wardiman mencoba menikmati apapun usaha. Dan ia selalu berprinsip usaha lurus meski jatuh bangun.

Seorang teman mengajari keduanya mencuci sepatu. Mereka sendiri tidak punya sandaran bagaiman cara mencuci sepatu benar. Informasi tambahan didapat dari internet serta segala sumber diperlukan. Sumber lain seperti halnya trial and error mereka kerjakan ketika berbisnis tersebut.

Dulu tidak tau bahan ini bagaimana. Terus akhirnya tau kalau bahan seperti ini tidak bisa diapakan. Semua itu datang dari pengalaman mereka sendiri. Berjalan waktu, mereka membeli sepatu sendiri, bukan buat dipakai tetapi bereksperimen bagaimana baiknya merawat sepatu sejenis.

Kalau rusak yah tidak masalah. Hal terpenting mereka mendapatkan pengetahuan yang mungkin tidak ada di buku teks. Toh itu kan sepatu mereka sendiri. Cara promosi terbaik menurut mereka. Dia mengaku memulai dari teman- teman mereka dahulu. Datangnya pelanggan satu- dua mereka tanggapi penuh syukur dan keseriusan.

Banyak pelanggan puas maka nama mereka tersebar lewat mulut. Dari mulut ke mulut banyak pelanggan mau datang kembali membawa orang. Kini sudah 20 orang pelanggan tetap menyerahkan sepatu mereka ke tempat mereka. 

Mereka sendiri kebanyakan karyawan kantor yang padat jadwal jadinya susah cuci sendiri. Apalagi jika sepatu mereka mahal butuh perawatan khusus intens. Lalu harga dipatok Wardiman senilai Rp.40 ribu hingga Rp.70 ribu. Awie menjelaskan mereka memiliki dua layanan utama: Quick Clean dan juga Deep Clean.

Untuk Quick Clean artinya memberishkan cepat. Awie menyebut cuci cepat batas waktu mencucinya sampai 20 menit. Deep Clean lebih fokus membersihkan sebersih mungkin. Layanan kedua yaitu benar- benar detail agar sepatu lebih awet dan bersih karena cairannya khusus.

"Cairan tidak mengandung detergen dan memiliki kandungan melembabkan bahan sepatu," tutur dia.

Awie ingin terus mengembangkan usaha mereka. Tujuan mereka selanjutnya adalah bagaimana memperbaiki sepatu rusak. Dia ingin mengembangkan repaint atau cat ulang. Bahkan mereka maunya mencat ulang dan memperbaiki langsung ke tempat pelanggan.

Bisnis masa depan


Baginya berbisni sekarang merupakan pelajaran. Bahwa ternyata susah mencari uang sendiri. Wardiman akui hal tersebut menjadi tantangan. Baginya kepercayaan konsumen merupakan barang mahal. Menjaga bentuk komunikasi kepada pelanggan merupakan kewajiban pengusaha.

Tidak boleh tutup kuping. Kalau mau menjaga kualitas kita harus mendengar. Insha Allah, menurutnya semua akan wangi, bersih, dan tepat waktu hasilnya seperti sepatu cuci mereka. Mereka menggunakan bahan yang alami (herbal) ketika membersihkan sepatu. Karena menurutnya pakai detergen malah kuning dan kulit jadi keras.

"...kita juga pakai deodorize. Jadi kalau sepatunya bau tuh bisa ilang," imbuhnya. Walau banyak kompetitor malah justru semakin bersemangat. Selama ada persaingan justru mereka bersemangat menjadi lebih baik.

Harga Rp.50 ribu sampai Rp.80 ribu buat Deep Clean. Semuanya dari sol luar, dalam, tengah, sol atas, lidah, bahkan talinya dicuci. Quick Clean lebih murah Rp.25 ribu sampai Rp.35 ribu. Untuk satu ini cuma bisa dicuci atasnya dan tengahnya saja.

Meski bisa cepat semua tergantung bahan sepatu juga. Walau dapat ditunggu, soal mereka dan bahan kulit butuh perlakuan berbeda, inilah kelebihan mencuci di laundry sepatu dibanding cuci sendiri. Sepatu berharga jutaan tentu pelayanan akan berbeda dengan ratusan ribu.

Sepatu seharga jutaan, belasan juta, sampai ratusan juta, Wardiman pernah pegang. Untuk sepatu mahal, dia butuh waktu meriset dulu mereka, hingga bagaiman cara merawatnya butuh waktu. Awal sepatu datang dia akan berbicara terus terang tentang harga ditawarkan berbeda, resiko, serta bagaimana penanganan terbaik.

Ia menyebut cleaner saja enggak cukup. Katanya cleaner aja enggak mempan. Butuh bahan khusus yang dia dapatkan khusus. Soal bahan tersusah menurutnya adalah Suede. "Itu susah! Engga butuh tiga hari saja membersihkan," imbuhnya.

Butuh kering dan tidak boleh dijemur di bawah matahari. Hanya dianginkan saja loh. Pokoknya lama gitulah prosesnya. Termasuk karena noda- nodanya mencar. Juga rentan buat luntur kalau tidak hati- hati untuk dikerjakan. Yang terpenting disiplin mencari tau. Berkat usaha laundry sepatu kini banyak teman dapat kerja di tempatnya.

Wardiman mensyukuri semuanya. Mereka juga membuka peluang kerja sama. Selain itu mereka punya satu rencana membuka cabang di Jl. Krakatau V no.7 Semarang. Tepatnya mereka akan buka di UPGRIS atau dulunya dikenal IKIP PGRI Semarang.

Harapannya adalah Titik Shoes Spa semakin terkenal famous lah. Harapan lain yakni kesadaran masyarakat akan sepatu. Bahwa sepatu juga dapat menjadi investasi seperti hal mobil atau motor antik. Kan kalau benar dirawat nilanya akan semakin mahal bukannya menyusut. 

Artikel Terbaru Kami