Jumat, 17 Juni 2016

Sukses Konveksi Seragam Sekolah SD Berkah

Profil Pengusaha Munawaroh Abdul Fatah 


 
Penjahit juga bisa sukses. Serta jangan pernah memandang sebelah mata profesi penjahit. Inilah kisah dari satu pengusah konveksi sukses. Namanya Munawaroh Abdul Fatah. Ibu empat anak berhasil mesejajarkan dirinya dengan pengusaha konveksi kenamaan. Penjahit bukanlah pekerjaan kasar tidak menjanjikan.

Dibalik bangunan megah kawasan Kuningan, Jakarta, ada seorang wanita paruh baya, sukses mendulang untung dari berbisnis konveksi. Dia adalah penjahit. Penghasilnya sudah besar karena sudah menjalankan bisnis ini sejak 1984.

Dia sedikit dari banyak pengusaha mampu melewati musim resesi. Sudah menjalankan profesi penjahi sejak tahun 84. "Tadinya cuma jahitan biasa buat orang kampung," tutur dia. Mendapatkan pembinaan maka dia sekarang bisa menjadi pengusaha konveksi.

Bisnis bertahap


Ia mengisahkan, himpitan ekonomi menjadi alasan utama. Perempuan kelahiran 22 Juli 1968 ini kemudian belajar menjahit. Dia lantas menjadi penjahit. Semua karena dia mau sekolah terus lanjut berkuliah. "Eh tapi sayangnya enggak jadi kuliah karena keburu menikah," tambah dia.

Alhamdulillah sekolah Muna selesai berkat bekerja menjadi penjahit. Dari hasil menjahit pula dapat memberi uang tambahan buat suami. Alhasil dia mamp menyekolahkan hingga menguliahkan. Berlanjut dia kemudian menggeluti menjahit seragam sekolah.

Keberuntungan makin terlihat menggeluti bisnis jahit seragam sekolah di tahun 1996. Lalu dia melanjutkan membuat baju ibu pengajian, kemudian menjahitkan seragam sekolah dari SD sampai ke SMA. Inspirasi jadi penjahit selain karena faktor ekonomi, Muna senang melihat baju- baju bagus, sayangnya tidak sanggup beli.

Dia terinspirasi baju- baju bermodel cantik. "...terus kepingin... Yaudah saya belajar jahit," kenang dia. Muna mau menjahitkan tetapi tidak punya uang cukup.

Kini delapan sekolah mempercayakan seragamnya ke Muna. Omzet per- tahun disebutkan mencapai Rp.40 juta bahkan sampai Rp.50 juta. Selain omzet pertahunan juga mendapatkan omzet bulanan teratur. Omzet tertinggi yaitu Rp.50 juta datang ketika ada tahun ajaran baru.

Omzet bulanan mencapai Rp.3 juta sampai Rp.5 juta. Jika berbicara desain, wanita yang diperistri oleh Juru Sita Pengadilan Agama ini, menuturkan desain asli buah pemikiran dia. Bahkan dia menceritakan desainer sekalas Kanaya Tabitha pernah menjahit kepadanya.

Dia pernah mendapatkan pesanan mantan Menteri Perekonomian Orde Baru, Pak Ali Wardhana. "... dan Kanaya Tabitha waktu belum terkenal," ujarnya bangga. Ketekunan merupakan kunci sukses Muna sampai bisa seperti sekarang. Pantang menyarah apapun bisnisnya, halangan mewarnai, kamu harus menyikapinya baik.

"Tantangan mah selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapi saja," tutup dia.

Artikel Terbaru Kami