Senin, 06 Juni 2016

Tidak Punya Pekerjaan Sukses Memelihara Lele

Profil Pengusaha Agus Efendi


 
Selain sibuk menjadi ketua organisasi kepemudaan GP Ansor Kecamatan Gudo. Hal lain dikerjakan Agus Efendi di kampnya adalah berbisnis sendiri. Usaha dijalankan kolam budidaya lele. Hasilnya lumayan loh, ia pun bercerita bagaimana bisnis kecilnya menguntungkan.

"Siapa bekerja dengan sungguh- sungguh, pasti akan berhasil," Agus membuka.

Pemuda Desa Sukopinggir, Kec. Budo, Kabupaten Jombang ini, awalnya bermodal dari usaha kolam ikan satu kolam. Lumayan usaha kecil Agus menghasilkan 2 juta bibit per- bulan sekarang. Sudah dijalankan lebih dari 12 tahun bukan tidak ada halangan ataupun kerugian.

Ini ternyata usaha keluarga. Ia sendiri tidak begitu berminat meneruskan. Tetapi susah mencari pekerjaan lah mendorong Agus berpikir cepat. Anjuran orang tua didengarkan berkah hasilnya. Bermula dari satu kolam di pekarangan rumah lambat laun diperbanyak.

Dia sekarang jutawan. "Alhamdulillah hasilnya bisa dilihat sekarang," ujar pria 35 tahun ini. Seorang alumni Universitas Brawijaya sudah menekuni usaha sejak 2005. Kalau awal cuma satu kolam kini banyak kolam yang sudah menempati tanah seluas 2 hektar.

Kepepet sukses


Usaha Agus menghasilkan jutaan. Padahal usaha lele dijalankan ayah sebagai sambilan. Ayah Agus seorang petani biasa. Cuma sebuah kolam ikan kecil di belakang rumah. Agus mengamati sang ayah serius beternak lele. 

Tamat SMU, dia tidak berminat meneruskan usaha ayah. Ayah Agus meninggal dunia ketika dia hendak dewasa. Dia memilih melanjutkan kuliah. Membiayai sendiri, dan akhirnya Agus lulus dan bekerja di sebuah Bank Swasta di Kediri.

Sebagai karyawan dia tidak tahan. Uang gaji dianggap pas- pasan. Dorongan menjadi wirausaha bergejolak sampai dia memilih keluar. Uniknya pertama terpintas dalam benak Agus hanyalah jadi petani. Ternyata dari sana hasilnya malah semakin tidak seberapa.

Mata Agus lantas melirik ke tanah galian ayahnya. Kolam ikan tersebut menggelitik Agus melanjutkan usaha budidaya ikan lele. Dia ingin beternak lele. Berbeda dengan sang ayah, Agus tidak mau menjadikan usaha budidaya lele sebagai pekerjaan sambilan. Dia kesana- kemari memasarkan hasil budidaya tanpa kenal lelah.

Ia menembus pasar. Kemudian mendapatkan kepercayaan menjadi penyedia bibit lele. Singkat cerita bahkan dia mampu mengirim sampai ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Bali, dan Kota besar lain. Pasaran diambil Agus meluas begitu pula tanah kolam lele miliknya. Menjadi dua hektar usaha lele Agus makin berjaya saja.

Omzet diraup Agus berlipat ganda sampai ratusan juta. Angka fantastis buat pengusaha asal desa yang tidak dia nikmati sendiri. Dia lalu membuka lapangan pekerjaan puluhan pemuda kampung. Omzet 2 juta bibit ikan lele dan omzet mencapai Rp.200 juta per- bulan.

Semakin bersemangat Agus mulia menyasar ikan Gurame dan Patin. Banyaknya permintaan, ia mulai aktif mengajak kawannya membantu usaha Agus. Ada 30 orang pegawai membantu Agus setiap harinya untuk membudidaya ikan. Ia percaya bahwa usaha apapun jangan dipandang sebelah mata.

Usahanya memang besar tetapi bukan tidak pernah rugi. Ia bercerita pernah bibit lele ratusan ekor miliknya mati. Agus lalu mencari solusi disetiap kegagalan pernah dia rasakan.

Artikel Terbaru Kami