Selasa, 28 Juni 2016

Kisah Manis Pahit Choa Seniman Coklat Filipina

Biografi Pengusaha Raquel T. Choa 



Menjadi pengusaha bisa saja merupakan pilihan hidup. Terkadang mungkin karena keterpaksaan agar tetap hidup. Menginginkan hidup lebih baik maka Raquel T. Choa berusaha. Dia hidup sangat sederhana. Ia sejak berumur muda sudah berjualan lilin dan sampaquita untuk membantu orang tua.

Umur 12 tahun, dia sudah bekerja menjadi kasambahay di Laguna, Filipina. Berjalanan waktu ia mengingat betul hidupnya "tidak jauh dari coklat". Dia ingat belajar menyajikan dan menyiapkan coklat dari sang nenek, Leonila Borgonia, yang bekerja menjual nanay.

Dia ingat, di umur 12 tahun, neneknya lah yang membawa dia pergi dari Cebu ke Laguna. "Saya tidak takut untuk bekerja karena saya bepikir saya harus benar- benar bekerja," kenangnya sedih.

"Saya memiliki masalah listrik di provinsi sampai saya tidak bisa melihat apa yang saya lakukan," imbuhnya lagi. Dari bekerja sebagai kasambahay uangnya digunakan untuk pulang ke Cebu. Dia ingin bertemu orang tuanya. Namun ternyata kedua orang tua Choa berhutang ke rentenir dan menjaminkan rumah serta tanah.

"Mereka tidak meninggalkan rumah karena mereka dibutuhkan untuk membayar hutang," dia berujar. Inilah hidup dimana Choa harus bekerja kembali buat membayar hutang orang tua.

Bisnis coklat


Umur 7 tahun sudah paham tentang konsep tablea. Adalah nama untuk jajanan coklat berbentuk tablet. Dia sudah tau bau coklat bahkan dari jauh. Inilah dasar dia menjadi ahli coklat untuk membangun bisnis Ralfe Gourment Chocolate Boutique, dimana dia memulai usaha dari 2010.

Layaknya kisah film Charlie and the Chocolate Factory, dia ingin berbisnis coklat sendiri. Awal sih dia tidak paham mengenai detailnya. Hanya saja Choa mau berbisnis tablea buat bertahan hidup. Dia lantas meminta diajari nenek. Choa belajar membuat coklat hingga bagaimana membuat minuman coklat.

Disaku Choa ada 10.000 peso dan membelikan ratusan kilo biji coklat. Dari sanalah, dia belajar aneka cara membuat produk coklat, mulai mengeringkan, menggoreng, dan membuat biji tersebut menjadi aneka bentuk produk olahan.

Bukan perkara mudah berbisnis. Ketakutan akan biji- biji coklat tidak laku dipasaran hinggap. Dia takut kalau bisnis tidak berkembang. Maka berkardus biji coklat akan terbuang sia- sia. Bagi seorang chef untuk olahan coklat, kualitas biji segar memang sangatlah penting, jadi apa solusi buat bisnis Choa sekarang.

Dia ingat bagaimana seorang chef sekitar mengejek. Menyebut coklat miliknya adalah dirty- chocolate. Ini karena proses pembuatan masih menggunakan tangan. Namun dia tetap percaya diri atas apa pengajaran dari nenek. Karena juga Choa menyukai buatan tangan langsung lebih nikmat.

Bisnis Choa makin mengembang. Beruntung dia didukung oleh suami, Alfred, seorang teknisi mesin, dan juga rekan bisnisnya, Edu Pantino, yang mendukung langkahnya. Sampai dia mendapatkan julukan orang- orang sebagai ambasadornya coklat di Filipina.

Tidak ada rahasia dalam berbisnis coklat. Dia menyebut passion dan cinta kamu punya. Jikalau kamu melihat sesuatu penuh cinta. Bermodal sebuah bisnis sederhana dia menjadi ahli coklat. Tawaran franchise mengalir dari China atau Taiwan tetapi dia malah menolak.

"Kamu memberi apa yang terbaik apa yang kamu punya," tutur dia. Akan tetapi untuk franchise dia memilih tidak karena menurut Choa bisnis soal keluarga dan anak- cucunya kelak.

Bisnis passion


Banyak orang tidak tau bahwa dia terlahir miskin. Bayangkan dia cuma makan nasi sekali setahun, sisanya makan jagung dan sayuran saja. Dia tinggal bersama nenek di rumah kaki gunung Barangay. Disana dia mulai belajar bertani, menjual sayur, dan biji coklat. Menjadi petani coklat sejak kecil diajari neneknya sendiri.

Dia ingat berjalan melewati sungai agar dapat sekolah. Bersemangat dia mampu menjadi siswa berprestasi di sekolah. Meskipun dia harus belajar tanpa lampu karena tidak ada listrik. Dia lantas tinggal dan bekerja di Manila. Choa mencucikan baju orang, menjual lilin, sampaquita hanya untuk bertahan hidup.

Dalam sebuah artikel dia menyebut tidak pernah menyesal. Dia tidak pernah menyesal terlahir miskin. Choa tidak pernah susah ketika masih kecil. Bahkan menurunya karena itulah menjadi dorongan baginya agar bisa seperti sekarang. Berkat itu dia sangat menghargai kenikmatan apapun meski sedikit.

"Masa kecil saya menyenangkan dan gembira. Hidup saya itu mudah, bersemangat menunggu musim panas tiba. Jikalau ini bukanlah bagian dari masa kecil saya, maka saya tidak akan seperti sekarang saya. Semakin kamu menderita, semakin kuat kamu," tegas Choa.

Entrepreneur satu ini memang sangat optimis. Di masa mudanya, Choa tidak pernah berharap akan kaya, ia hanya bermimpi bahwa dia akan bekerja kantoran dan bagian dari perusahaan korporasi. Dia mengakui ia tidak pernah bermimpi akan menjalankan usaha sendiri seperti empat tahun belakangan ini.

Sebagai pengusaha wanita, seorang business woman, maka dia menyarankan kamu agar tetap semangat buat menjalankan bisnis baru mu. Jangan pernah menyerah, kamu harus mencoba sesuatu yang baru, kegagalan akan selalu mengikuti keberhasilan, dan menempatkan kita berbeda dari orang biasa lakukan setiap hari.

Buatlah produk bernilai dibicarakan dan bernilai uang. Pastikan kamu selalu punya pengalihan. "Jikalau orang terus membeli produk kamu, maka kamu ada di jalur tepat," saran Choa.

Ingatlah selalu mendukung pembeli. Berikanlah apresiasi kepada pelanggan. Dia mencatat: Ketika kamu mulai berbisnis jangalah memikirkan tentang pesaing. Jangan sibuk sendiri mengamati mencoba mengalahkan pesain, namun jadilah lebih percaya diri akan kemampuan sendiri.

Akan selalu ada batasan kamu dengan kompetitor. Malah kalau kamu fokus diantaranya, kamu akan hilang fokus karena kita akan selalu bersaing. Fokuslah ke kepercayaan diri bahwa kamu lebih unik. Pasaran akan luas bagi kalian berdua jika kamu percaya. Carilah perbedaan dan lebih banyak latihan agar menonjol lagi.

Choa meyakinkan kita bahwa bisnis bukan tentang memiliki setumpuk modal. Taruhlah kepercayaan diri jadi investasi dan passion menjadi modal kapital kamu.

Usaha dari nol


Karena miskinnya keluarga Choa tidak dapat membeli susu. Maka sumber nutrisi mereka hanya coklat yang mereka tanam sendiri. Mereka minum coklat meski pahit tanpa gula. Ini menjadi nutrisi mereka sehari- hari. Kenapa pahit tanpa gula, ternyata keluarga Choa memilik filosofi sendiri, bahwa gula tidak baik bagi coklat.

Umur 13 tahun, dia bekerja sendiri pulang- pergi, lantas membuka kantin sendiri di pabrik. Dimana dia lalu bertemu rekan satu kerjanya di pabrik. Seorang entrepreneur Alfred Choa, yang umurnya 18 tahun waktu itu. Menjadi ibu rumah tangga dia masih bersemangat membuat aneka coklat sendiri dari kedua tangannya.

Tahun 2009, kebakaran melanda rumah mereka, dan Choa akhirnya meminta diajari membuat tablea. Dia lalu mendandani garasi, memasang meja billiar, dan menjual tablea dan produk coklat lainnya sementara dia mengawai renovasi rumahnya.

Apapun kamu lakukan lakukan passion kamu. Pikirkan sesuatu yang unik seunik kamu sendiri. "Itu ada di tangan kamu," ujar dia. Lakukan sesuatu datang dari hati. Jangalah kamu sekedar mengikuti tren. Lakukan apapun untuk menggapai kebahagiaan kamu. Itulah yang akan nampak di hasil akhir produk kamu nantinya.

Kenapa memilih berbisnis coklat? Dia mengenang pembicaraanya bersama Edu Pantino. Seorang Argentina yang mau bekerja sama dengan Choa. Dia sebenarnya sudah tau bahwa coklat bisa dijadikan sesuatu dari masa kecilnya.

Orang Argentina ini menantang Choa tentang produk andalan Filipina. Akhirnya dia terkenang namanya satu produk "tablea". Cukup lama sebelum membuka bisnis dia berpikir. Aneka ide mentok hingga dia bertemu coklat. Yah Choa akan berbisnis jamuan aneka produk coklat -termasuk tablea- yang dibuka di garasinya.

"Harta karun saya dan membuka kan jamuan coklat di garasi rumah kami," ia menjelaskan. Choa tidak cuma menjual coklat murni. Dia menyediakan aneka makanan, seperti pizza dan pasta yang juga dibumbui coklat tentunya. Tidak butuh waktu lama mengimplementasi ide membuka usaha serba coklat tersebut.

Sebagai ibu rumah tangga, beranak delapan, maka sudah biasa baginya bekerja di dapur. Dia cukau mulai lagi mengingat ajaran nenek. Dengan belajar lebih intensif kembali maka dia menemukan celah. Dari satu ke dua eksperimen mampu dia menciptakan produk unik dan menu enak yang dijualnya lewat tiga bisnisnya.

"Ini tidaklah mudah," dia menambah.

Dia menciptakan ratusan kilo tablea untuk bahan masakan ke hotel- hotel sekitar. Dia dibantu Pantino masuk ke hotel sebagai teknisi coklat. Dia secara bertahap menjelaskan tablea sebagai produk berkualitas nasional. Mulai mereka menerobos jaringan hotel internasional dan menjadikan seni membuat coklat diakui dunia.

Bisnis keluarga


Ingatan Choa kembali ke jaman umur 8 tahun. Dia ingat sang nenek menyiapkan tablea. Membuatnya jadi makanan lain nikmat dimulut gadis kecil itu. Waktu itu dia belum menyadari bahwa biji coklat atau kakao adalah bahan utama membuat coklat manis. "Itu adalah sarapan kami setiap hari," kenangnya.

Ketika nenek menjelaskan coklat merupakan pengganjal perut mereka. Dan coklat memiliki kandungan gizi baik. Choa mendengarkan seksama penjelasan tersebut. Maka ketika dia mendapatkan resep bagaimana membuat tablea tertanam dibenaknya.

Dia lantas dinikahi pengusaha, Alfred Choa, diumur 16 tahun dan kecintaan akan coklat semakin membesar. Justru ketika menjadi ibu rumah tanggan dan memiliki delapan anak, ibu dari Michael Ray, Michelle Honey, Anthony, Jonathan, Hanna, Alfredo, Rose Angeline dan John Paul, justru malah menjadi pemilik perusahaan sendiri.

Masa kecil sulit membuat dia tidak takut akan resiko. Dia percaya diri mengambil keputusan di perusahaan. Ia menjadi seniman coklat dimana coklat mengalir di imajinasinya.

"Sukses berarti melalukan hal baik. Saya melakukan hal baik dan seterusnya," ujarnya.

Sukses tablea membawa visi Choa ke masa depan. Dia ingin mengekspor produk coklat khas Filipina jadi komoditi internasional. Fakta dijelaskan Choa, negara mana yang mendapatkan pohon coklat pertama, yaitu ketika Spanish mulai menjelajah tahun 1670.

Jawaban tersebut pasti sudah kamu ketahui. Selanjutnya mimpi wanita 36 tahun ini bagaimana cara membuat produk coklat Filipina mendunia. Dan jika dia ingin lakukan itu, dia akan membawa lebih banyak kardus berisi coklat dan membawa ke pasar global.

Dia memutuskan akan mengekspor coklat. Bukan cuma berkardus coklat siap makan. Tetapi bagaimana cita rasa coklat khas Filipina menyebar ke dunia. "Saya tidak pernah berpikir saya akan berbisnis dengan coklat sekarang," ia tambahkan.

Artikel Terbaru Kami