Senin, 06 Juni 2016

Contoh Sukses Warung Pecel Bu Wied Barokah

Profil Pengusaha Wiedyanti 


 
Tidak semua usaha keluarga berjalan lancar. Beberapa anak memilih membuka usaha sendiri, tidak maunya meneruskan usaha keluarga. Beberapa orang terpaksa menjalankan amanah tersebut. Namun tidak sedikit orang ikhlas menjalankan usaha keluarga sebagai bakti maupun passion.

Panggilan hati Wiedyanti melanjutkan usaha keluarga. Wanita 56 tahun ini merupakan anak pemilik usaha pecel asli Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Nama usaha Warung Pecel Bu Wied, karena dijalankan penuh ikhas oleh Wiedyanti alhasil usaha tersebut makin moncer.

"Ya, saya pilih pecel karena disamping tradisional juga sayuran kan lebih banyak peminatnya," ujar dia jelas singkat.

Meneruskan usaha ibu bukan berarti tanpa modal. Berkisah dia mengeluarkan uang Rp.500 ribu. Ibu empat putra ini telah mampu mengantungi Rp.7 juta sampai Rp.10 juta per- bulan. Untung memang banyak yah ia menyebut karena harga sayur tidak terlalu mahal.

Kualitas bumbu kacang pecel Bu Wied memang legit. Itulah kenapa pelanggan akan kembali apalagi harga murah. "Yang penting semuanya senang, pelanggan balik lagi," tandasnya.

Dia sendiri tidak mau untung sendiri. Wied mendapatkan bantuan banyak orang. Saking ramainya ketika hari libur dia dibantu lima orang. Kalau hari biasanya Bu Wied cuma dibantu dua orang karyawan. Kalau di hari biasa memang tidak begitu ramai. Tetapi karena enak pelanggan pastilah akan balik lagi.

Rahasia bisnis pecel


Sebagai pengusaha perjalanan Wied memang tidak gampang. Dia berkisah pernah mengalami masa dimana tidak ada pembeli. Susahnya mencari pelanggan pernah dirasakan dia. Wied cuma berdoa kepada Allah agar diberi kesabaran serta kesuksesan nanti. Bertahap usaha sederhana itu mulai membenahi diri mengikuti arus.

Warung Pecel Bu Wied terkenal rasanya. Berkat kegigihan dan selalu menjaga pelanggan, membuat Bu Wied mampu menguliahkan dan menjadikan putra- putranya pegawai negeri. Dia begitu terharu dari cuma jualan pecel mampu menghantarkan anak- anaknya mapan.

Tiga putra Bu Wied menjadi pegawai negeri sipil. Sementara satu lagi memilih membantu ibunya berjualan. Mungkin yang satu ini lebih berminat ke dunia wirausaha. Mereka yang menjadi PNS bertempat di Medan, Kalimantan dan Jakarta. "Mereka suka pulang kesini," tuturnya terharu.

Prinsip usaha Bu Wied adalah demi keluarga. Dia bekerja sekuat tenaga agar anaknya jadi orang. Tidak apa jika dia tidak bersekolah tinggi asalkan anaknya sukses. "...anak- anaknya bisa kuliah semua, bisa sukses. Saya kadang- kadang enggak percaya, kok bisa ya," imbuhnya.

Ia mengingatkan pengusaha muda bahwa tidak ada usaha sia- sia. Terpenting bagi pengusaha menurut dia adalah harus ulet, ikhlas, dan jujur, maka akan dimudahkan segalanya. Menurut Wied tidak ada usaha sia- sia. Asal kita mengikuti tiga kunci diatas -ulet, ikhlas, dan jujur- maka usaha akan berjalan sesuai arahnya.

"Kalau moda bisa dicari kan, kalau kitanya ulet," imbuh dia.

Usaha sederhana untung banyak

Pelanggan Wied kabanyakan warga sekitar. Jadilah pastikan usaha kamu dekat dengan tempat keramaian. Ia menuturkan usaha buka pukul 08.00- 09.00 wib kalau dihari biasa dan pukul 06.00 kalau akhir pekan. Untuk konsep bisnis ditawarkan Bu Wied terbilang unik dan modern.

Dia menawarkann konsep prasmanan. Tujuan dia agar pelanggan tidak ribet dan dia enak. Pembeli sesuai selera bisa memilih sesuai selera. Kalau ia pilihkan terkadang malah dibuang. Mubazir katanya,  terbukti dari konsep prasmanan membuat usaha Bu Wied lebih menonjol.

Pembeli tidak mengeluh sampai saat ini. Kualitas masakan Bu Wied memang jos gandos. Kebanyakan sudah jadi pelanggan tetap pecel Bu Wied. "Saya menjaga mutu, harga naik tidak apa- apa yang penting mulutnya terjaga," imbuhnya. Biarkan saja produk kamu naik sesuaikan modal tanpa mengurangi cita rasa.

Takaran bumbu tidak berubah meski harga cabe naik, misalnya. Wied tidak pernah mengurangi takaran dari bumbu pecelnya. Namun dia tetap berharap harga tetap stabil tidak berubah. Tujuannya agar memudahkan dia menentukan harga tidak merepotkan.

Kadang naik- kadang turun membingungkan Wied. Dia sendiri susah menaikan meski kenaikan tidak dapat dihindari -kualitas merupakan nomor satu. "Kalau jualan gini kan enggak bisa naiki harga sembarangan," ia menutup.

Artikel Terbaru Kami