Minggu, 29 Mei 2016

Biografi Lo Kheng Hong Pemain Saham Terhebat Indonesia

Kisah Sukses Orang Miskin Maen Saham



Anak miskin maen saham. Jika dirunut kisah seorang Lo Kheng Hong tidak akan percaya. Bahkan jikapun kamu bertemu sosoknya tidak berbeda orang biasa. Siapa sangka anak miskin itu kini memiliki aset Rp.2.5 trililun dari maen saham. Kisah Lo memang panjang karena investasi saham memang butuh kesabaran.

Dia bukanlah pencari untung. Lo duduk santai di taman dekat rumah dibawah teduhan pohon kamboja dan pohon mangga. Pekerjaan dia tidak mengantor, tetapi asik membaca 4 koran sekaligus, memeriksa laporan perusahaan dan data statistik pasar saham, tidak sibuk kan?

Kerjanya cukup 3 hal yang disebutnya RTI: Read, Thinking, dan Investing. Berkat kejeliaanya dia mampu menghasilkan uang tanpa bekerja. Menghasilkan jutaan dan uangnya bisa digunakan berkeliling 5 benua. Ia menyebutkan setidaknya dua kali dalam setahun ke luar negeri.

"Biasanya saya bepergian bersama istri dan anak-anak saya. Di sana kami tinggal di hotel saja, lalu jalan-jalan. Saya orang yang bebas, tidak punya bos dan tidak punya karyawan," utasnya kepada SWA.co.id

Mulai dari nol


Keberuntungan menghinggapi mereka yang sabar. Lo merupakan sulung dari 3 bersaudara hidup sangat- sangat sederhana. Beruntung dia mampu melanjutkan kuliah Sastra Inggri ke Universitas Jakarta, dan tentu sambil bekerja tentungnya.

Sedikit menggambarkan seberapa miskin dia. Lo bercerita keluarga mereka tinggal di daerah terpencil. Jarak rumah sampai 30km dari Kota Pontianak. Orang tua Lo bekerja sebagai pemecah kelapa. Pekerjaan yang memakan waktu mereka seharian. Dari terbit matahari sampai senja mereka bekerja menghidupi keluarga.

Ia bercerita lama- lama orang tuanya bosan. Mereka merantau ke Jakarta tidak membawa bekal apapun. Ia tidak ingat. Di Jakarta, mereka akhirnya bekerja di toko, kemudian ya barulah melahirak Lo Kheng Hong. Rumah mereka sederhana sering kena banjir dan tanpa platform. Singkatnya Lo dapat lulus SMA kemudian bekerja.

Orang tua Lo tidak memiliki uang buat menguliahkan. Tidak patah semangat seperti penulis ceritakan diatas, Lo memilih bekerja. Dia bekerja sebagai tata usaha di Bank Swasta. Sambil bekerja dirinya menguliahkan sendiri sampai lulus. Tidak cuma kuliah sisa uang didapatkan kemudian sisihkan lagi.

Selama 17 tahun bekerja sudah disisihkan beberapa lembar. Uang tersebut Lo nekatkan masukan ke pasar saham.

Sejak 1979 dia berkuliah malam sambil bekerja di pagi hari. Ia menjadi pegawai tata usaha PT. Overseas Express Bank (OEB). Dia ingat betul uang masuk kuliah Rp.50 ribu, sedangkan uang bulananan cuma Rp.10 ribu. Tahun 1989 ia mulai menjadi investor saham pertama kali. Waktu itu umurnya sudah 30 tahun tidaklah muda lagi.

Jika dibandingkan Warren Buffett, Lo bisa dibilang kalah umur, karena Warren Buffett memulai saham sejak umur 11 tahun. Tidak masalah karena sejak awal niatnya bukan menjadi dia. Bekerja puluhan tahun tetapi ia tidak pernah naik jabatan. Lantaran perusahaan tidak melakukan ekspansi siginifikan jadi ya tidak ada jalan.

Sebagai bagian tata usaha diceritakan gajinya paling kecil. "Dan, modal saya berinvestasi saham pun hanya dari gaji," imbuh Lo. Kelebihan Lo adalah dia mau hidup hemat buat berinvestasi. Uang dipunyai sedikit ia langsung belikan saham. Kalau orang dapat uang dikonsumsi maka dia tabungkan cuma bentuknya saham.

Jika orang asik tengah mencicil mobil, maka Lo tengah asik mencicil perusahaan. Meski telah beraset triliun sampai sekarang dia masih asik memakai mobil berusia 10 tahun. Ia berinvestasi saham karena kepincut atas capital gain besar. Kalau saham IPO waktu itu dijual seharga Rp.7.250, kok tidak lama sudah jadi Rp.35 ribu.

Bayangkan untungnya sampai 400%. Awal investasi saham, ia ingat menggelontorkan uang Rp.10 juta, dia cuma dapat beberapa lot waktu itu loh. Tetapi sedikit nilai naik begitu juga nila aset Lo. Saham pertama kali Lo Kheng Hong beli adalah PT. Gajah Surya Multi Finance ketika IPO.

Waktu pertama kali memulia dia sempat gagal. Dia bercerita bagaimana lelahnya dia mengantri. Dia antrean panjang di Gedung BDNI Hayam Muruk. Nah ketika sudah lisiting, saham sudah ditangan, eh kok harganya malah turun drastis. Alhasil dia harus jual semua saham dibawah harga beli waktu itu.
Dia belajar otodidak. Dia memiliki setidaknya 40 buku Warren Buffett. Yang mana bukunya sudah dibaca 4- 5 kali. Masuk tahun 1990, ia pindah ke Bank Ekonomi bagian pemasaran, diman setahun menjadi kepala cabang. Di tahun 1996 tepat 17 tahun dirinya bekerja di perbankan. Ia memutuskan berhenti bekerja buat saham.
Keputusan aneh tetapi bekerja. Alasan utama kenapa berhenti kerja karena return berbisnis saham lebih dari pendapatan. Lumayan begitu kata Lo. Tidak memilih obligasi karena returnya kecil. Tidak pula dia pernah masuk ke reksa dana. Alasannya karena uang dikendalikan orang lain. Bagaimana jika orangnya tidak jujur dan sebagainya.

Manajer investasi tidak jujur sudah banyak. Ia menekankan bahwa maen saham justru lebih unggul. Dia tidak pula bermain emas. Alasan utama karena emas tidak produktif. Penjelasan singkat Lo, kamu membeli 1kg emas maka sepuluh tahun tetap 1kg emas. Tidak pula membeli dollar. Alasan satu ini terdengar sangat baik loh.
Menurutnya orang membeli dollar berharap krisis, berharap Indonesia mengalami keburukan, negera diharap tidak stabil, agar rupiah lemah dan untung cepat. Sedangkan saham kebalikannya orang tidak mengharap keburukan. Kamu menganalisa dan berharap kinerja perusahaan membaik sehingga memberikan untung.

Lo juga menyarankan kamu jangan menabung di Bank. Pasalnya bunga kecil tidak menghasilkan untung. Ia sendiri menyimpan seperlunya tidak semua. Bagaimana dengan deposito? Tidak pula pilihan, ia menyebut bahwa ketika deposito ketika inflasi dengan bunga kecil sama saja miskin pelan- pelan.

Dalam sebelas tahun belakangan contohnya bursa efek tumbuh. Sejak bom Bali 2002 IHSG telah naik dari 330 jadi 5251 pada Mei 2013. Ada saham sampai naik seribu persen. Pernah dia membeli saham dari perusahaan petrokimia seharga Rp.200, pada tahun 2008 malah turun jadi Rp.60, tidak dijual tetapi malah beli.

Dia membeli makin banyak hingga pada tahun berikutnya harga naik jadi Rp.600. "...dan saya menjualnya," ia berujar.

Investor bukan pengusaha


Dia mengakui dirinya sebagai investor. Menurut Lo, investror nafasnya harus panjang buat bermain sampai bertahun tanpa berhenti, hingga menghasilkan nilai. Seorang investor berarti kuat secara modal. Maka ia menyarankan jangan memakai uang hutang atau uang sehari- hari sebagai investasi bursa saham.

Contoh nyata kenapa bukan uang sehari- hari. Lo Kheng Hong pernah dikabarkan rugi besar sampai uang tinggal 15% pada krisis 1997- 1998. Namun dia tetap membeli saham meski posisi rugi. Dan hasilnya uang berbalik ketika ekonomi membaik. Bahkan nilai asetnya berlipat sejak 1998 sampai tahun 2013 lampau.

Pekerjaan Lo sebagai investor adalah mencari saham "salah harga" di bursa. Ia menggunakan strategi yang sangat sederhana beli paling murah tetapi paling bagus prospeknya. Kemudian kamu simpan, menunggu sabar, hingga si bursa saham sadar bahwa saham itu terlalu murah dan naik ke harga seharusnya tertulis.

Disinilah kamu mendapatkan keuntungan. Ia menjelaskan 90% investor tidak tau apa yang mereka beli. Dia melanjutkan investor kebanyakan seperti membeli kucing dalam karung.

Contoh lagi ketika Lo membeli saham PT. Multibreeder Adirama Indonesia Tbk, perusahaan ternak ayam terbesar kedua seharga Rp.250. Dia dapat 8,28% saham di pasaran atau senilai 6 juta. Total lembar saham di pasaran mencapai 75 juta. Nilai perusahaan Rp.250 kali 75 juta atau setara Rp.18,75 miliar.

Padahal kalau dihitung untungnya mencapai Rp.106 miliar. Banyak investor tidak sadar. Alhasil ketika dia asik menyimpan dan menjual, harganya tepat naik sampai Rp.31.500 di tahun 2011 -an. "Saya memperoleh untung 12.500%," jelasnya.

Ia pernah memiliki 850 juta lembar saham PT. Panin Financial Tbk. Dimana dia membeli sewaktu harganya masih Rp.100. Sukses dalam 1,5 tahun harga sudah naik Rp.260 per- lembar, bahkan masih terus naik jadi Rp.300 per- lembar. Bicara tentang hasil maka properti pertama dia adalah rumah tinggal di Green Garden.

Ini hanya dari investasi pasar saham loh. Dia membeli sejak Januari 1994, dimana pada 1993 dia sudah bisa menghasilkan uang cukup buat membeli rumah. Dia ingat betul ini merupakan hasil penjualan saham PT. Rig Tenders Indonesia, perusahaan pelayaran, dimana harga beli Rp.800, dan dijualnya seharga Rp.1.300 per- lembar.

Waktu itu pasar saham liquid. Dia tidak punya apa- apa. Hanya satu saham tersebut dipertahankan karena ia memang tidak punya banyak uang. Waktu itu pasar saham tengah booming. "Saat itu saya tidak beli banyak," ia lanjutkan. Untung kejeliannya tepat. Sekarang dia bahkan sudah punya apartemen di Pantai Mutiara dan vila di Cisarua.

Tidak ada properti disewakan. Ia menganggap dirinya adalah investor saham. Baginya membeli saham sudah cukup dibanding menyewakan apartemen.

Bekerja sambil tidur


Angka aset Lo Kheng Hong tidak pasti. Angka diatas bisa saja lebih atau kurang. Namun yang pasti dalam sebuah sesi seminar ketika ditanya: Dia mengatakan hasilnya cukup buat seumur hidup. Soal besaran aset yang dia pegang dan aset saham. Maka dia memiliki lebih banyak uang di bursa dibanding berupa aset nyata.

Bahkan dia menyebut rumah, apartemen, vila, hanyalah 1% dari kekayaan. Kini dia sendiri sudah tidak terlalu aktif seperti membeli saham IPO. Cuma membeli saham yang diperdagangkan di bursa saja. Ia lebih memilih membeli saham perusahaan batu bara, kan sedang banyak jatuh dan harga bisa dibeli murah meriah.

"Saat ini saya memiliki lebih dari 20 emiten, salah satunya adalah saham PT. Petrosea Tbk yang saat ini kepemilikannya telah mencapai sekitar 9%," ujarnya.

Dia tidak pernah punya target soal saham. Menurutnya bursa saham tidak dapat diprediksi. Hari esok bagi seorang investor adalah misteri. Yang pasti dia selalu membaca anual repot dari saham- saham miliknya. Ia akan menemukan bidang usaha, laba usaha, keuangan, pemiliknya, direkturnya dan komisarisnya.

Tidak membeli kucing dalam karung. Tuhan memang Maha Pengampun. Tetapi bursa efek tidak mengenal kata ampun kepada orang yang tidak tau apa yang mereka beli.

Yang pasti dia tidak cuma memiliki saham beruntung besar. Ia juga mahir dalam hal mengambil saham yang digoreng. Uniknya dia bukanlah tipikal investor yang sepanjang hari melototi bursa efek. Lo bahkan tidaklah melengkapi diri dengan gadget ataupun aplikasi mutahir.

"Investor saham kebanyakan ikut- ikutan tidak tau apa yang dibeli," imbuhnya. Ia menyebutkan semakin cepat panik investor, menunjukan ketidak tauan.

Ayah dua anak ini memilih menjadi investor jangka panjang bukan seorang trader. Obsesinya tentang saham tergambar dari bentuk kekayaan, yang ia sebut hampir seluruhnya saham. Dia punya dana cash 15% buat jaga- jaga ketika krisis. Kalau krisis uang itu akan buat dibelikan saham lagi lah.

"Saya tidak bekerja, saya tidak punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak pula punya karyawan seorang pun, dan tidak punya bos," ujarnya bangga, cuma punya seorang sopir dan pembantu.

Sudah 22 tahun dia bermain saham Umurnya sudah kepala lima dan masih terus berkarya. Tidak cuma jadi investor tetapi juga mengedukasi orang Indonesia buat ikutan saham. Kenapa memilih saham karena tidak lah capek seperti sektor rill. Orang banyak tau orang rugi, jatuh miskin karena saham, bahkan sampai bunuh diri juga.

Tetapi kebanyakan orang tidak tau ada Warren Buffett. Untung bermain saham lainnya adalah kita tidak kerja. Yang bekerja adalah mereka para direksi, eksekutif, komisari, manajer. Istilah kerennya tidur saja bisa dapat duit. Banyak waktu bebas diakui Lo dimiliki sehari- hari, tetapi bukan tanpa terus belajar loh.

Mereka pemilik saham yang dapat untung. Sementara pegawai bahkan eksekutifnya cuma dapat sisanya. Soal memilih perusahaan baik yaitu perhatikan manajemen, terus manajemen, kemudian manajemen lagi, dan barulah lain- lain. Janganlah membeli sesuatu yang kamu tidak tau.

Ia menyebut sektor sepatu, garmen, dan tekstil kurang menarik. Justru pakan ayam serta kelapa sawit lebih menggiurkan. Kan banyak orang makan ayam? Selain itu dampak negatif ayam juga kecil. Ayam menjadi satu makanan pilihan ketika daging sapi mahal, juga mudah diternakan.

Kemudian dia mengisaratkan ada empat jenis perusahaan: Perusahaan yang untung terus, perusahaan yang rugi terus, ada yang untung besar terus stagnan, adapula perusahaan tumbuh meski kecil tapi stabil. Inilah perusahaan ke empat yang Lo target cari di pasar saham. Kalau lima tahun kedepan tumbuh belakangan akan baik.

"Kalau sudah lima tahun berturut- turut tumbuh, tandanya sudah super company," imbuh Lo.

Harga Rp.200 jangan dibilang murah dibanding harga Rp.70.000, tergantung emitennya. Memang baik membeli saham yang dibawah harga itu sangat potensial kedepan. Untuk waktu lebih enak ketika ada krisis seperti Eropa, Yunani, dan Amerika.

Lo memang lebih suka bekerja di taman. Padahal dia banyak ditawari kantor olah para milinuer Indonesia. Ia malah memilih taman rindang dengan banyak pohon. Kegiatan setiap hari terutama di pagi hari mencari info tentang emiten. Membaca surat kabar senilai 480 ribu per- bulan. Dia juga mengliping artikel penting buat pribadi.

Tidak sampai disitu, ia akan memlototi informasi dari BEI, dimana dia mendapatkan informasi past tentang perusahaan melantai di pasar saham. Minimal dia membaca 100 pengumuman keterbukaan informasi dalam halaman web BEI sebagai arsip pribadi.

Investasi susah gampang


"Buy on weakness. Be greedy when others are fearful. Be fearful when others greedy," pepatah lama Lo.

Ia mengibaratkan hidupnya ingin seperti Warren Buffett, bukan Bernard Madoff. Itulah mantan bos bursa NASDAQ yang tidak dapat mengelola uang nasabah. Menunjukan bahwa dia cuma paham teori sjaa bukan praketknya.

Pasar saham pun bukan soal berapa uang dikeluarkan. Orang mengeluarkan uang puluhan juta buat kuliah lalu jadi pintar. Kalau bursa saham masuk ke dalam, keluar uang miliaran, keluar bukannya pintar malah jadi makin bingung. Pintar teori saja tidak cukup bagi investor. Maka bacalah laporan keuangan emiten satu per- satu.

Ia menyebut dirinya 100% fundamental. Dia selalu lihat manajemen dan pertumbuhan perusahaan. Kalau ia mengistilahkan teknikal cuma grafik semua diabaikan. Total 400 emiten di pasar banyak yang fundamental bagus, tetapi banyak orang terjebak. Orang sibuk ketika tidak sesuai perhitungan kira- kiranya satu hari.

Jangan percaya kalau iklan bilan tetap untung. Sekelas Warren Buffett saja tetap merugi ketika terjadi krisis di Amerika. Dia tipikal yang akan keep kalau benar bagus. Kalau kiranya dilepas maka dia akan memilih ia melepas, untung sampai 300% per- bulan.

Filosofi hidup Lo Kheng Hong adalah menjadi kaya sambil tidur. Status perusahaan sahamnya dia telah beli menjadi teman tidur. Ketika dia tidur maka perusahaan akan bekerja untuk dia. Menjadi kaya sambil tidur butuh kecermatan dan emiten bagus. Lo masih sempat tidur delapa jam sementara orang lain lembur kerja.

Artikel Terbaru Kami