Senin, 09 Mei 2016

Raja Mahar Bangkalan Madura Selalu Berbisnis

Profil Pengusaha Devriansyah Kurniawan



Berbekal kesuksesan semata tidak lah cukup. Dia sempat merasa iri akan pengusaha kota karena dukungan pemerintah pusat. Meski sama- sama mendapatkan penghargaan tingkat nasional. Teman- teman Devri diajak makan malam dan bonus oleh pemerintah daerahnya, karena mengharumkan nama daerah.

"Sementara saya, biasa- biasa saja. Iri sih," tuturnya. Berkat perasaan tidak pernah puas membuatnya terus berbisnis bahkan berekspansi. Sebagai pengusaha 28 tahun ini berbisnis merupakan hidupnya. Berbekal jiwa seni tinggi mendulang uang puluhan juta.

Dimulai 2010 silam, ia mempunya hobi melukis diatas kenvas, dan menjalar sampai ke sepatu. Devri jujur mengaku menjadi pelukis di kanvas lukis tidak menjanjikan. Sulit menjual lukisan biasa jika dijual langsung ke masyarakat. Tidak semua masyarakat paham akan nilai seni, mereka membutuhkan produk nyata dipakai.

Sempat menyabet banyak penghargaan. Dari sebelumnya mewakili Madura, kini, dia dikenal sebagai salah satu pengusaha ternama membanggakan Jawa Timur. Sang istri, Syahfitri Tika Suci, mengaku bangga akan ketekunan sang suami. Yang kini dikenal sebagai Raja Mahar Bangkalan,  cerita selengkapnya akan dibahas disini.

Bisnis sederhana


Mulai berbisnis sepatu lukis. Tangan kreatif Devria tertoreh di kanvas berbentuk sepatu. Ini lebih menjual ia mengakuinya. Pemuda kelahiran 8 Desember 1989 ini mulai memasarkan produk sepatu lukisnya itu. Modal ia dapatkan lewat pinjaman koperasi. Dari pinjaman koperasi mahasiswa sebesar Rp.1 juta dibelikan sepatu polos.

"...dan bahan- bahan lukis lainnya," tambahnya. Walaupun bisnis dijalankan tidak sesuai dengan pendidikan yang ia tekuni kala itu.

Mahasiswa Teknik Industri lulusan Universitas Trunojoyo Bangkalan, Jawa Timur, ini tetap berkarya dengan penuh kecintaan. Berkat hobi mampu mempekerjakan sembilan orang karyawan. Berkat bantuan mereka jadi usahanya berkembang pesat merambah berbagai bisnis.

Ia mampu menembus ke pasar luar negeri. Semua berkat strategi marketing online dan offline dijalankan dia. Untuk bisnis sepatu lukis waktu itu masih menjadi bisnis utamanya. Alumnus SMK 2 Bangkalan tersebut mau belajar sebagai pengusaha secara otodidak. Ia ingin merubah pola pikir mahasiswa lulusan baru.

"Lulus nanti tidak selalu harus mencari kerja. Tetapi membuka pekerjaan bagi orang- orang di sekitarnya," ia berujar.

Produk bikinan Devria berkembang. Fokus usahanya lebih ke aneka souvenir serta mahar pernikahan. Kita sebut saja lukisan dari bahan uang logam atau kertas, kaca, toples fanel berbentuk kue tart, membuat toples kartun, serta bentuk lain yang cocok dijadikan hadiah.

Intinya dia cuma menyalurkan bakat melukisnya ke bisnis. Kamu pun dapat melakukannya tinggal mencari media tepat saja. "Dan ini harus diasah dan dilatih terus- menerus," katanya.

Berawal dari pengalaman kesulitan membayar uang sekolah. Keterpaksaan ini membuat hobi menjadi bisnis serius. Istilah terkenalnya adalah the Power of Kepepet. Dimulai sejak 2009 bisnis terus berkembang hingga ia melegalkan bisnis menjadi PT. Devri Art Production bersiap bersaing dengan kompetitor.

Dia hanya melakukan perubahan. Menaruh lukisan dalam media non- konvensional sampai dijual dan terjual menghasilkan jutaan.

Tahun 2013 memang menjadi titik awal perkembangan bisnisnya. Dia melihat prospek kedepan bisnis mahar. Dan ia langsung mengeksekusi dengan gayanya sendiri. Pengusaha muda asal JL. Jokotole G.III No.2 Kel. Kraton, Bangkalan Madura. Mampu mengembangkan bisnis mahar sampai tiga cabang.

Cabangnya meliputi Sumenep, Sampangan, dan Pamekasan.  Tetapi tetap pusat bisnis mahar miliknya ya di Bangkalan. Produk andalan Devria adalah mahar berbentuk masjid. Untuk produk satu ini sudah dipesan bahkan oleh orang Kalimantan Barat hingga Sumatra.

Ia membuat harga mahar terjangkau. Modelnya variatif dan motifnya menyesuaikan. Bisnisnya juga menjamin tidak akan butuh waktu lama pengerjaan. Harga mulai Rp.250 ribu sampai Rp.1 jutaan. Penjualan utama ya melalui penjualan online.

Peluang mahar


Kreatifitas tersebut berakhir ditempat yang tepat. Devrian kini dikenal sebagai pemilik usaha Raja Mahar. Ia memang bukan pemain baru di bisnis souvenir. Pengusaha muda asli Bangkalan ini telah mampu mengantongi omzet mencapai Rp.17 juta per- bulan. "...dan akan meingkat saat musim kawin," imbuhnya.

Raja Mahar fokus berpromosi online dan offline. Pengembangan bisnis offline melibatkan agen, yang sudah tersebar di empat kabupaten Madura. Promosi online meliputi website juga Facebook. Bentuk pelayanan optimal terus ditingkatkan agar Raja Mahar semakin terkenal.

Kunci sukses menurutnya adalah kejujuran dalam bisnis. Bentuk kejujuran contohnya kesanggupan suatu hari, Raja Mahar mendapatkan pesanan uang mahar Rp30 juta dengan uang pacahan Rp.100 ribu. Devrian mengaku sempat terkejut dan takut. Uang tersebut tergolong nominal besar selama dia mengerjakan mahar.

Kepercayaan memegang uang sebanyak itu bukan main. Bisa saja dia memanfaatkan bisnisnya buat mencari untung lebih. Bayangkan uang Rp30 juta tetapi jasa merangkainya cuma Rp.300 ribu. Meski begitu dia tetap senang karena Raja Mahar makin terkenal. Kedepan ia berharap penjualan mencakup penjuru Jawa Timur.

"Di Madura sendiri belum ada kompetitor, kami satu- satunya," akunya.

Geliat bisnis mahar Devri mulai terdengar. Menjual aneka mahar seperti mahar pernikahan berbahan dasar uang kertas atau logam bermotif Masjidil Haram, Mekah, ataupun minatur Suramadu, bentuk ikan arwana, atau kamu bisa memesan minatur kamu dan pasangan kamu, yang contohnya tertata rapi di etalase.

Paling menarik perhatian adalah lukisan siluet Walikota Surabaya, Tri Risma, dan juga Presiden RI, Jokowi, yang terbuat dari bahan uang logam. Menurut Devri untuk produk satu ini tengah hit. Membuat aneka siluet tokoh nasional menjadi pekerjaan sehari dia dan pekerjanya.

"...hanya membutuhkan waktu sehari," Devri berujar.

Musim nikah menjadi berkah, dibulanan Juli, maka ia bersama perusahaanya CV. Devri Art Production akan dicari. Julukan Raja Mahar -sekaligus brandnya- sudah melekat disosok pengusaha muda ini.Setiap hari 10- 12 pesanan mahar dikerjakan. Jika hari biasanya (diluar musim nikah) maka cuma bisa mengerjakan 1-2 per- hari.

September 2015, Devri melepas masa lajangnya, dimana maharnya ia menyebutkan mahar empat dimensi berbahan uang kertas. Promosi pun dilakukan bersamaan berupa panflet untuk Kantor Urusan Agama (KUA), Kantor Kecamatan, dan Salon.

Mulai berbisnis dengan sepatu lukis yang laris dijual di hari valentine. Agar tetap menghasilkan, Devri lantas putar haluan berbisnis toples flanel berbahan kain bludru bermotif bunga. Toples- toples tersebut lantas dia jual pas bulan Ramadhan 2011 lalu, sampai Idul Fitri. Disusul bisnis siluet wajah pada 2015 yang merembet ke mahar.

Melihat peluang di Madura ada. Maka dia mantap berbisnis mahar dan terbukti pesanan sudah setiap hari. Ia bahkan jarang tidur kalau musim pengantin. Berkat bisnis mahar, putra sulung empat bersaudara ini telah mempekerjakan empat orang, yang ternyata teman kuliahnya dulu.

"Kendalanya ya modal. Belum ada bantuan dari pemerintah," ia menyebut. Bantuan baru sebatas memberi tau kalau ada event atau pelatihan wirausaha. Disaat dia memanangkan lomba tingkat nasional dapat juara I tetapi ketika tingkat daerah cuma juara II.

Artikel Terbaru Kami