Kamis, 19 Mei 2016

Kisah Nyata Anak Yatim Piatu Menjadi Pengusaha

Profil Pengusaha Abdulrochman 



Pengusaha yatim piatu begitulah julukan disematkan kepada Abdulrochman. Jika pengusaha lain hanya punya beberapa masalah maka dia memiliki lebih dari masalah. Namun, berjalannya waktu justru dia bisa dibilang adalah sosok paling pas untuk apa itu bekerja keras. Semangatnya berganda untuk dapat mencapai apa cita- citanya.

Siapa masa lalu bukanlah alasan masa depan kamu. Tetapi pilihan dimasa lalu akan berefek ke masa depan. Maka Arman atau Abdulrocham memilih tetap bekerja keras. Selepas SMA dia sudah bekerja dan darisana Arman belajar tentang membuat obat herbal.

Perjalanan hidup


Ia ingat samar seperti apa wajah ayah. Umur 3 tahun, dia sudah ditinggal sang ayah, dimana ibu pun sudah tidak ada. Arman tinggal bersama saudara. Samar- samar wajah sang ayah akan terkenang. Ia masih ingat pagi dimana ayah akan mengayuh sepeda ke Kota Pemalang. Sejak itu hidup mereka berubah drastis tanpa dia.

Keluarga harus hidup prihatin. Agar menghemat pengeluaran maka maka nasi aking. Nasi kering sisa yang kemudian dimasak lagi. Untuk lauk cukup urab dari daun pepaya, singkong, ataupun kangkung. Daun- daun itu diparut diberi partuan kelapa.

Dimana sang ibu?

Masuk kelas 3 SD, maka disusul lah ibu meninggal dunia menyusul sang ayah. Rasa sedih bercampur haru seketikan menyelimuti keluarga itu kembali. Arman bersama tiga saudara hidup bersama. Ia sejak kecil harus dipaksa mandiri.

Mau makan daging saja susah. Barang mewah bagi mereka berempat di rumah. Kalau makan daging maka harus dipotong kecil supaya dibagi semua keluarga. Senyum Arman jarang bahkan sampai memasuki umur 7 tahun. Urat kerja keras justru yang nampak baik di tangan dan wajahnya. Ia masih kecil tidak tau kematian itu apa.

Ia hanya tau rumah semakin sepi. Dia tidak lagi temukan peluk cium ibu. "Jika saya ingat ibu, saya cuma bisa menangis saat akan tidur," ucapnya.

Agar terbebas dari himpitan ekonomi Arman diadopsi. Oleh mereka keluarga bercukupan asal Kota Tegal. Sempat beberapa hari tinggal bersama mereka. Namun kakak- kakaknya membawa pulang Arman kembali ke rumah. Ketika mulai beranjak dewasa, rumah semakin sepi karena kakak- kakaknya mulai merantau.

Mereka bekerja ke Jakarta untuk menyekolahkan Arman. Meskipun saban bulan sudah dikirimi uang saku; hampa terasa tanpa keluarga. Arman hidup sendiri. Berhemat menjadi cara hidup ketika itu agar uang kiriman tidak terhamburkan. Menanak nasi sendiri bukan membeli. Makan telur tetapi cuma dua kali.

"Setiap hari cuma makan dua kali pagi dan malam," Arman menerangkan. Di siang hari terpaksa berpuasa saja untuk menghemat uang.

Semangat bekerja keras membawa Arman menemukan kemungkinan. Sedikit keberuntungan menghinggapi hidupnya yang dipandang kasihan. Ia menemuka tetangnya ternyata memiliki usaha jualan telur. Arman lantas ditawari ikut kerja bersama mereka. Ia mulai menjual telor dari kampung ke kampung.

Upah jerih payah Arman adalah telor tidak laku. Telor retak ataupun pecah yang layak makan akan diberi ke Arman. Jadilah hampir setiap haria dia bisa makan telor enak. Diberinya garam, digoreng, lalu dimakan pakai kecap. Telor menjadi hidangan istimewa Arman setiap kali makan malam.

"Sampai sekarang saya hobi makan telor untuk mengingat masa- masa sulit kala itu," tuturnya. Masa SMA pun datang dimana ia memutuskan bersekolah di Jakarta.

Ia ikut kakaknya yang sudah lama di Jakarta. Arman membantu kakak yang punya bisnis penerbitan dan juga obat herbal. Pekerjaan dia kedua adalah menjadi wartawan. Sekalian dia kuliah di Insitut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

Belajar banyak dari bisnis sang kakak. Arman memiliki kesempatan membuka usaha sendiri. Fokus bekerja ia mengumpulkan uang modal sedikit- demi sedikit. Berdirilah satu perusahaan bernama PT. Zonah Sehat Khatulistiwa, yang berkembang mulai dari bisnis klinik herbal, perikalanan, dan desain interior.

Ia sendiri condong ke klinik terapi herbal. Usaha semakin besar melahirkan Zona Group pada 2009. Dalam waktu relatif singkat usahanya melesat. Jujur dia merasakan betul bagaiman ditolak proposal bisnisnya oleh perusahaan- perusahaan besar sana. Pernah pula merasakan kalah tender dengan pesaing besar di sana.

Arman tidak minder. Justru ia semakin fokus berbisnis di bidang herbal. Pernah pula loh dirinya ditipu orang sampai puluhan juta. Tetapi dia tidak patah arang. Alhasil usahanya semakin banyak saja. Jangan salah ya, ia mampu menghasilkan puluhan juta dari semua usahanya.

Pegawainya sudah ada 50 orang. Mempunyai dua rumah seharga miliaran rupiah. Tidak cuma itu lima mobil mewah menghiasi garasi rumahnya. Kekayaan tidak membuat dia lupa. Melanjutkan pendidikan menjadi satu hal contohnya. Arman sempatkan melanjutkan jenjang S2 di bidang ekonomi dan masih akan terus belajar.

Artikel Terbaru Kami