Jumat, 01 April 2016

Meyakinkan Orang Tua Tidak Mau Jadi Pegawai

Profil Pengusaha Bandi Simarmata 



Bandi bukan pengusaha pertama yang menolak keinginan orang tua. Sama halnya orang tua biasa, mereka cuma mau yang terbaik dirasa bagi anaknya. Itulah kenapa mereka berharap Bandi Simarmata akan jadi pegawai kantoran.

Mereka ingin Bandi menjadi pegawai ataupun PNS. Namun, ketika itu, matanya sudah tertuju di bidang lain yaitu otomotif. Ia mengingat kenapa gandrung terutama kepada motor. "Sejak kecil saya senang dibonceng di motor keliling desa oleh Bapak," kenang Bandi.

Suatu hari saja tidak diajak naik motor. Bandi kecil akan merengek minta naik. "Saya ingin diajak jalan- jalan," tuturnya.

Pria kelahiran Desa Batu Marta, Ogen Komering Ilir, Sumatera Utara, yang mana masuk SMA semakin dia menjadi berhobi motor. Diam- diam dia menabung mengumpulkan uang. Lantas dia belikan motor skuter biar masuk klub vespa Kota Palembang, King Blues Scooter (KBS).

Dia senang kumpul bareng teman. Mereka akan touring keliling beberapa kota. Pria kelahiran April 1980 ini mengaku gembira.

Bisnis pertama

Masuk kuliah hasratnya akan motor tak pupus. Lulusan SMA, dia langsung berangkat ke Palembang, masuk Universitas Muhammadiyah mengambil Jurusan Hukum. Sibuk kuliah tidak membuatnya lupa menikmati tiap hari bersama skuter.

Sampai lantas mulai bepikir bagaimana jika dijadikan bisnis saja. Waktu itu ia berpikir enak kalau membuka usaha bengkel di kampung. Bandi yakin karena kampungnya banyak anak muda suka motor tetapi sedikit bengkel perawatan. Tahun 2004, dia resmi lulus kuliah, dan memantapkan diri mengejar bisnis pertamanya.

Inilah inspirasi Bandi memulai usaha modifikasi, variasi, dan jualan aneka aksesoris. Ia bahkan merambah hal lain yang masih dalam lingkup bisnis otomotif. Pemuda berdarah Batak itu lantas menemui batu sandungan pertamanya, yaitu orang tua.

"Sampai lima kali saya memohon- mohon supaya bapak dan ibu mau merestui keinginan saya membuka usaha sendiri," utasnya.

Tidak sia- sia mereka setuju Bandi jadi pengusaha. Bahkan mereka memberi uang saku agar dia mampu jadi mandiri. Mereka memberikan suntikan modal Rp.13 juta. Uang tersebut tidak disia- siakan Bandi, langsung dia tancap gas.

Bandi lantas berangkat ke Jakarta. Dia membeli aneka kunci, aksesoris, segala keperluan bengkel kecilnya di kampung. Sebagai orang masih hijau, mata Bandi terpana melihat lautan barang- barang otomotif di depan mata. Mulai benda yang tidak tau kegunannya, sampai benda yang sama sekali belum lihat.

Ia mulai menyadari ilmu bekal dari teman klub tidak cukup. Tidak patah semangat, ia mulai dari nol belajar akan hal baru. Bandi menyambangi penjual di Jakarta. Mulai belajar tentang barang- barang yang dijual oleh mereka.

Singkatnya perjalanan di Jakarta membawa tidak cuma barang. Tetapi dia dapat ilmu hingga barang bawaan dia lebih variatif. Pertama kali buka orang bingung menebak jasa apa ditawarkan Bandi.

Bisnis bengkel hot


Nama bisnis Hot Variasi memberikan bukan sekedar memperbaiki sepeda motor. Dia menjadi pionir dalam hal variasi dan modifikasi. Ada pepatah kuno, "tak kenal maka tak sayang". Orang kampung menatap aneh apa dilakukan Bandi; mereka akhirnya mencemooh dia.

Butuh waktu sampai orang mampir ke bengkel kecilnya. Di daerah bernama Batu Marta, begitu jauh butuh waktu lama kalau mau ke Palembang. Pantas mereka tidak paham akan hal baru dipamerkan Bandi. Cukup menguras kesabaran memulai usaha bengkel di tempat kecil.

Tidak disangka ketika bengkel itu mulai berjalan. Justru bengkel dilalap api terbakar habis. Hancurlah pikir Bandi sesaat. Untunga dia segera bertidak menyelamatkan barang di dalam bengkel. Meski terselamatkan tapi tempatnya berbisnis ludes terbakar.

"...waktu dan kesuksesan tidak akan menunggu saya," batin Bandi. Dia lantas bangkit tidak mau terpuruk lama. Kesuksesan masih belum direngkuh dari bengkel Hot Variasi ini.

Kesuksesan Bandi menjadi pionir segera diikuti orang lain. Mulailah persaingan ketat antar bengkel variasi menawarkan layanan. Bahkan tidak sedikit bermain curang, mereka membajak pegawai Bandi dengan diberi iming- iming gaji besar.

"Buat saya, itu adalah momen paling buruk dalam usaha saya," ujarnya prihatin. Perang harga pun tidak dapat dihindarkan di kota kecil tersebut.

Tepatnya tahun 2008, dua tahun selepas usahanya berjalan, persaingan sengit membuat Bandi menelan pil pahit. Dari lima orang karyawan empat diantaranya mengundurkan diri. Mereka dibajak oleh pesaing Bandi. Maka praktis usaha Hot Variasi dikerjakan cuma dua orang.

Ia hanya yakin pada akhirnya konsumen yang menentukan. Siapa terbaik diantara bengkel variasi yang telah ada disana.

Bukan bisnis biasa


Semenjak kebakaran kios Bandi mulai bangkit. Dia lalu menyewa kios seluas 3 x 5 m dijadikan bengkel baru di tempat baru. Memutar otak dia mempekenalkan bengkel variasi lewat ajang kompetisi. Ajang bertajuk modifikasi sepeda motor itu ternyata berhasil.

Lambat laun usahanya dikenal dikalangan anak muda. Bandi juga aktif mengikuti ajang roadrace. Mencoba membuktikan eksistensi Hot Variasi. Lewat ajang balap motor terjalinlah koneksi diantara pecinta motor. Ia tidak segan bertanya -membaur dengan sesama pecinta sepeda motor.

Melalui mereka pulalah usahanya menghadapi pesaing. Berkat koneksi ke pecinta motor, Bandi menghimpun kekuatan mengajak mereka bekerja bersama. Bengkel Hot Variasi menampilkan cita rasa penuh passion tidak sekedar bisnis.

Nilai lebih dalam hal selera akan modifikasi memberi angin segar. Usahanya mampu bertahan meski banyak pesaing bermunculan. Kualitas perusahaan siapa paling baik mulai terlihat. Dalam tempo beberapa tahun kemudian usaha pesaingnya kelihatan kesukaran.

Tempat dimana empat mantan karyawannya mulai sibuk mencari pelanggan. Sementara HOT Variasi malah makin berkibar, pamor perusahaan Bandi menjalar tanpa marketing keras. Ini menjadi jalan pembuktian akhir dimana ia meyakinkan orang tua bahwa jalan hobi itu benar.

Membuktikan bahwa tidak salah dia memilih hobi menjadi bisnis. Menjadi pengusaha itu merupakan jalan lain selain pegawai. Kini usaha Hot Variasi telah menempati ruko dua lantai. Dimana Bandi mempekerjakan 16 orang karyawan. Hot Variasi -jika dalam bahasa Batak berarti "akan selalu"- tidak cuma memberikan modifikasi.

Mereka menawarkan tune- up, bubut, korter, dan lainnya. Omzet mencapai Rp.15- 20 juta per- hari. Bandi juga merekrut anak putus sekolah. Ia mendorong agar mereka mampu membuka usaha sendiri. Mereka jadi mitra binaan. Mereka tinggal mencari tempat. Selepas itu Bandi akan memberikan bantuan modal lengkap.

Obsesi Bandi ialah Hot Variasi jadi one stop modification. Bagaimana memberikan pelayanan terlengkap dan terpercaya semua jasa dibawah satu atap. Ia mengatakan orang nantinya tidak lagi mencari tempat berbeda buat berbagai perawatan motor.

Artikel Terbaru Kami