Jumat, 22 April 2016

Pengusaha Muda Jago Nego Majukan Moodzystore

Profil Pengusaha Hadlan Feriyanto 



Tidak mempunyai modal sepeser pun. Itulah kisah Hadlan Feriyanto M, memulai modal tanpa sepeser pun di tahun 2011. Lelaki yang akrab disapa Feri ini kini telah meraup omzet sampai ratusan juta rupiah perbulan.

Hidup biasa saja sebelum kaya. Feri cumalah pegawai warnet. Fasilitas internet membuatnya bebas mencari inspirasi tanpa bayar. Lantas dimulai lah bisnis jasa pembuatan jaket seragam angkatan. Itulah seragam jaket yang dipakai anak kampus biar seragam dengan kata- kata unik.

Memang masih ngetren waktu itu. Mencari di internet, Feri menemukan cara mendapatkan barang. Ia lantas menjanjikan teman komisi jika mampu menggaet konsumen. Uang Rp.300 ribu dijanjikan dimana soal hal pembuatan diserahkan teman lainnya, seorang pemilik vendor di Malang, Jawa Tengah.

Pria asal Kalimantan Timur ini melanjutkan bisnis bermodal internet. "Saya hanya punya toko online. Pesanan awal itu 50 jaket," tuturnya. Untuk pihak konveksi meminta uang tanda jadi 50 persen dari berapa harga keseluruhan.

Tetapi dia tidak membayar. Ia mampu meyakinkan vendor bahwa dia tidak butuh itu. Feri meyakinkan orang bahwa dia mampu membayar itu dalam satu setengah bulan. Mahasiswa Fakultas Pertanian Unmul angkatan 2010 ini memang jago nego.

Usaha itu tidak selamanya mulus. Beberapa jaketnya hilang dicuri. Walhasil Feri harus mengganti uangnya dengan uang pribadi. Berjalan waktu bisnis bernama Moodzystore tersebut menarget tren anak muda asal Samarinda. Contohnya dia menjual pomade, kaus polos, kaus gildan, tas kamera, dan lainnya.

Online store menurutnya mempunyai kelemahan. Terutama bagi pembeli yang menikmati menyentuh langsung dan mencoba di tempat. Oleh karena itu dia mengajak kawan, Yudha, Dendy, dan Nirwan membuka toko fisik. Ia mampu meyakinkan temannya berhutang agar memodali bisnis mereka.

Memang tepat pilihan Feri membuka toko fisik. Berkat hutang teman- temannya yang puluhan juta, arus barang menjadi lancar dan orang bisa menemukan toko mereka. Tidak berhenti, dia mengajak seorang teman asal Bali berbisnis perlengkapan surving berharga miring.

"Pokoknya, kami menjual segala sesuatu yang berbau anak muda," Feri menjelaskan.

Lelaki kelahiran Palaran, 14 Februari 1993 ini, melakukan serangkaian ekspansi. Mulai membuka jasa kurir, usaha membersihkan sepatu, bahkan dia membuka jasa ojek modern terintegrasi. Tetapi terakhir ini belum lah sempurna masih mencari konsep matang dan modern lagi.

Artikel Terbaru Kami