Senin, 11 April 2016

Membuka Gym Sendiri Pengusaha Filipina

Profil Pengusaha Ricardo Marinduque 



Filipina tengah gencarnya memberikan bantuan modal. Terutama bagi Filipino yang bekerja di luar negeri jadi pengusaha di negeri sendiri. Berharap agar memberikan pilihan ekonomi terbaru bagi pekerja luar negeri. Nah salah satunya pengusaha sukses mendapatkan adalah Ricardo Marinduque, pekerja luar negeri.

Selama 15 tahun, dia bekerja menjadi buruh asing, Ricardo mantap memilih berbisnis gym sejak tahun 2005. Dia meminjam $4.500 dari Overseas Workers Welfare Administration.

Menjadi pengusaha tidak mudah. Ricardo membutuhkan waktu lama sampai mantap menjadi pengusaha. Ia juga membutuhkan dorong tidak cuma keluarga, tetapi pemerintah. Lulus sekolah menengah atas, ia langsung terjun ke dunia korporasi, dia langsung mencari pekerjaan tidak kuliah.

"Hidup itu susah," paparnya.

Bisnis untuk hidup


Dia mulai dengan menjadi pramusaji sebuah restoran. Pertama kali dia bekerja di daerah Malate, kemudian ke Manila, dan dan kemudian Makati. Tahun 1989, menurut wawancara bersama Enterepreneur.com.ph, ia melanjutkan bahwa dia lantas bekerja keluar negeri.

Menjadi buruh migram (TKI.red) menjadikannya pelayan buat rumah sakit militer, Saudi Arabia. Lantas dia masuk menjadi crew kapal mewah, bekerja menjadi bartender, penyaji wine, serta pelayan. Beruntung dia dapat menikmati perjalanan sampai ke tempat eksotis.

"Tujuan pertama adalah Tahiti," pungkasnya. Kemudian sampai ke Eropa, Amerika Serikat, bahakan sampai ke lautan Karabia.

Ketika umurnya sudah 40 tahun dunia terasa letih. Ia memilih kembali ke Filipina dan tingga menetap. "Itu sangat sukar bekerja jauh keluar. Anda harus jauh dari keluarga dan jam terasa sangat lama," kenangnya yang kini hidup tenang menjalankan usaha gym sendiri.

Bekerja di luar negeri membuatnya punya cukup uang. Banyak bisnis kecil- kecilan dilakukan mantan buruh migran ini; mulai dari apartemen sewa, tempat karaoke, minimarket. Tetapi mereka tidak mampu bertahan lama. "Saya tidak ada passion dengan mereka," Ricardo berdalih.

Tetapi hasratnya lebih ke arah olahraga. "Saya sangat suka ke arah olah raga, seni bela diri, ataupun angkat beban," jelasnya.

Tahun 2003 seorang kawan menawarinya mengambil alih bisnis. Membeli sebuah gym lama. Butuh waktu ia berpikir lama tapi melihat peluang. Benaknya waktu itu ialah akan susah jika membangun gym dari nol. Itu juga akan sangat mahal membeli peralatan baru. "Jadi saya mengambil kesempatan ini," ujar Ricardo.

Meski perlengakapan standar sudah ada. Dia merasakan butuh lebih dari peralatan tersebut. Jadilah keluar uang kembali senilai P200.000 untuk membeli peralatan memenuhi 200 meter persegi ruangan. Karena dia mempunyai passion, dia sudah menebak kebutuhan mendasar latihan harus dia miliki dan tambahkan.

Tentu saja, passion saja tidak cukup merubah bisnis tersebut sukses. Walau dia sudah menyediakan ruang bagi bela diri, karate, juga tekwondo sebagai latihan tambahan.

Tahun 2005, dia sempat patah arah, memutuskan untuk kembali gulung tikar berhenti berbisnis kembali. Itu semua karena penjualan melambat. Itu tidak berjalan baik. Dia sangat tergantung pengunjung mampir. Sama sekali tidak menarik perhatian klien tetap.

Untuk itulah dia mengikuti berbagai seminar tentang bisnisnya. Juga termasuk seminar manajemen termasuk yang diberikan oleh Overseas Workers Welfare Administration (OWWA). Dia serius belajar dari seminar yang diselenggarakan oleh University of the Philippines Collage of Human Kinetics.

Ricardo juga mempelajari tenteng nutrisi, anatomi, berbagai latihan dasar, penanganan kecelakaan, dan juga pelatihan lain spesifik. Dia juga belajar program kepemimpinan.

Lalu dia masuk menjadi anggota asosiasi pengusaha gym atau Association of Fitness Professionals of the Fililppines (AFPP). Melalui organisasi itulah ia menemukan channel bagaimana mengatasi masalah. Termasuk bagaimana menjalankan industri olah raga ini.

Pengusaha terus belajar


Dia hobi membaca banyak buku bisnis. Semua agar bisnisnya dapat naik terus, tidak malah gagal kembali. Kini kebanyakan kliennya merupakan pekerja kantoran. Bisnisnya mengalami kepadatan ya di pagi dan siang hari. Untuk meningkatkan kualitas dia menyewa pelatih berlisensi dan memberika pelatihan terprogram.

"Sebelum klien melakukan program pelatihan, kami mengadakan penilaian fitnes dan meneliti kesehatan," ia menyebut.

Jika perlu bahkan meminta catatan kesehatan dianjurkan. Ini agar Ricardo bisa menentukan sertifikasi tingkat kesehatan serta level pelatihan. Bisnis gym bernama Stamina Fitness Center ini semaki berkibar. "Itu sangat lah sukar. Akan ada waktu dimana saya selalu merasa akan gagal karena tidak tau lebih tentang bisnis saya jalankan."

"Karena ini hobi saya, saya mendatangi seminar untuk belajar lebih banyak," tambah Ricardo. Ia meyakinkan bahwa bisnis kecil dapat berkembang dan menjanjikan.

Berbicara tentang perjalanan bisnis, Ricardo berkata tentang kisah suksesnya, "ketekunan, kesabaran, dan pemahaman tentang bagaimana memadai."

"Bisnis adalah resiko anda ambil, satu hal yang kamu luangkan waktu dan kamu perjuangkan. Saya tidak bisa kuliah, tetapi saya belajar segalanya lewat pengalaman," tuturnya bijak.

Enam tahun kemudian Ricardo kembali meminjam uang. Tetapi, untuk kali ini, Ricardo sedang tidak akan menutup usahanya dan memulai kembali. Justru dia tengah berencana membuka cabang baru Stamina Fitness Center. Usahanya berjalan sangat baik, mungkin butuh waktu hingga bisa membuka cabang.

"Tidak ada bisnis akan gagal jika kamu memberikan perhatian," terangnya. Ricardo merupakan sedikit dari masyarakat Filipina yang mendapatkan kesempatan baru. Mendapatkan pinjaman lunak untuk memberikan lapangan pekerjaan baru.

Artikel Terbaru Kami