Kamis, 03 Maret 2016

Pengusaha Pin Makassar Sukses Muda Meski Iseng

Biografi Pengusaha Andi Arham Bunyamin



Namanya pengusaha kadang iseng saja menghasilkan. Prinsipnya kerja apapun diseriusi meski sekedar kamu iseng. Itulah kisah Andi Arham Bunyamin, pemuda asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang mengaku memulai sekedar iseng. Bahkan modal bisnisnya cuma Rp.50 ribu ketika memulai usaha percetakan.

Pemenang kedua Wirausaha Mandiri 2011 ini, memang sangat beruntung dibanding orang lain yang ngotot tapi tidak menghasilkan. Mari kita mengikuti jejak suksesnya yang dimulai ketika masih dibangku SMA. Dia mengaku, di tahun 2006 silam, Andi diminta mendesain pin buat keperluan organisasi sekolah.

Ketidak sengajaan itu terbawa berlanjut diikuti kesuksesan. Waktu itu, memang Andi berhasil membuat satu desain bagus. Eh, dia malah ditambahi tugas baru yaitu membuat sekalian. Andi dengan enteng menyanggupi saja. Selepas membuat pin, eh, malah teman sekolah menyangkan Andi memiliki usaha percetakan sendiri.

Akhirnya makin banyak orang memasan aneka pin kepadanya. Mulai perorangan sampai organisasi sekolah menjadi langganan Andi. Ia menceritakan sebenarnya dia cuma memesankan. Maka ketika permintaan naik maka terbersit kesempatan. Pemilik toko tempatnya memesan lalu memberikan harga khusus buat Andi.

Pesanan berkah


Seorang teman meminta dibuatkan desain pin. Lantas berujung proyek pemesanan 50- 100 pin, yang diberi ke Andir beruang muka Rp.30 ribu. Disanggupi tanpa takut kalau gagal. Waktu itu, tahun 2006, Andi tanpa sengaja memerkan keahlian mendesain pin sendiri. "Saya saat itu belum tahu sama sekali mau mencetak di mana."

Satu minggu disusurinya hingga menemukan gerai kecil. Mereka menawarkan berbagai macam model pin. Ia tertarik berhenti lalu mengajukan desain buat dijadikan pin.

Pesanan pin sudah jadi seharga Rp.3.700 per- pin, dimana Andi menjual seharga Rp.4.700 per- pin. Maka sejak itu pemuda hobi main komputer itu makin kebanjiran orderan. Sebulan dia diminta membuat 200- 300 pin khusus. Hebat bisnis percetakan tanpa mesin cetak tersebut malah berjalan positif.

Maka sejak 2008 mulai serius mendalami bisnis percetakan pin. Ia menerima semua orderan mengumpulkan modal. Uang Rp.2,5 juta terkumpul selama dua tahun lantas dibelikan mesin pin sendiri. Maka sejak 2009 resmi berdirilah usaha bernama Kretakupa singkatan Kreasi tak kunjung padam.

Semakin ke sini, permintaan semakin banyak dari organisasi sekolah bahkan diluar sekolah. Andi makin giat berkat dorongan teman pula. Orderan dari sekolah maupun kampus asal Makassar. Ketika untungnya masih di Rp.1000 maka segera diberikan mesin.

Tujuan Andi adalah mendapat margin untung lebih besar. Untungnya naik seketika yakni Rp.3000 per- pin ketika sudah memiliki mesin sendiri. Pasar diperluas hingga kebanjiran orderan tidak cuma pin tetapi cetak lain. Untuk mengatasi kekurangan maka dia menggandeng percetakan yang tidak memiliki mesin pin sendiri.

Untung makin besar ketika Andi mulai menjual bahan. Dia menjual bahan pembuatan pin ke percetakan lain. Ia menyebut untung sampai naik 400% hingga dilirik oleh Wirausaha Muda Mandiri.

Tidak lekas puas


Sukses tidak membuat dia berhenti mengejar pendidikan. Dia masuk Universitas Hassanudin, Makassar. Ia tidak cuma fokus berbisnis. Aktifitas kuliah ternyata tidak membendung rasa tidak lekas puas Andi. Mulai ia membuat pecetakan kartu nama, stiker, plakat, sampai bendera kempenya digeluti.

Pelanggan mulai dari Makassar, bahkan beberapa kali dia mendapatkan pesanan dari Malaysia dan Brunei Darusalam. Andi dibantu lima karyawan. Orderan sudah meningkat sampai ribuan dengan nilai omzet Rp.60 juta sampai Rp.100 juta -an. Dibantu mentoring oleh Bank Mandiri, tidak terbayang usahanya sampai ke titik mana.

Berkat usahanya Andi menang lomba Juara II Kategori Mahasiswa Program Diploma dan Sarjana Bidang Industri & Jasa Wirausaha Muda Mandiri 2011. "Hingga akhir tahun 2011, target omzet saya sekitar Rp.250 juta," ujarnya optimis selalu.

Menjadi pengusaha memang harus selalu bersaing. Pesaing makin banyak menyesaki pasaran Andi. Menurut Andi setiap satu kilometer pasti ada usaha percetakan. Namun bukan hal tersebut membuat sedikit gamang. Dia justru gamang karena tidak lagi mendapatkan dukungan teman sekolah maupun kuliah.

Ia mengakui memang kesuksesan miliknya tidak jauh dari teman. Sejak sekolah, mereka lah pendukungnya membantu kegiatan promosi. Lanjut di kuliah usahanya besar berkat teman sejawat membantu orderan. Dia tidak perlu mengeluarkan biaya promosi. Nampaknya keberuntungan seperti itu tidak dapat terus berlanjut.

Andi selalu berterima kasih kepada teman- temannya. Masuk perkuliahan, dia bisa dibilang merasa keteteran menjalankan bisnis sambil kuliah. Maka teman Andi datang memberi dukungan moril. Kretakupa harus jadi mandiri soal bisnis. Semenjak lulus kuliah, jurusan Hubungan Internasional, dia mulai berpromosi sendiri dari situ.

Selain itu juga menggiatkan pembaruan dalam layanan. Memanfaatkan sosial media, Andi berusaha memberi layanan baru sekaligus menekan biaya promosi. Dia menawarkan kerja sama dengan percetakan memberi bantuan pemenuhan pemesanan pin. Ia pun mulai rajin mengunjungi beberapa percetakan di Makassar.

Dia menemukan celah bisnis. Ia ikut membantu pemenuhan kebutuhan pesanan pin serta gantungan kunci usaha lain. Tidak masalah jika dia tidak mendapatkan nama. Asal tidak hanya pin, karena Kretakupa mulai menerima pesanan plakat ataupun lainnya. Pokoknya dia tidak mau menunggu bola jatuh dikakinya duluan.

Andi menjemput bola tetapi menawarkan sendiri layanan prima. "Sekarang, ada puluhan pemilik percetakan yang mempercayakan pembuatan pin di Kretakupa," ujar Andi. Bisnis percetakan sendiri memilik satu musim semi yakni ketika musim kampanye politik di daerah.

Contohnya ketika Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan, dimana Andi memerankan peran penting di kedua belah pihak calon memenuhi pesanan peraga kampanye. Omzet Andi bahkan naik dua kali lipat dibanding hari biasanya. Namun, kadang usahanya juga bisa sepi oderan, dimasa itu ada perasaan kosong di dalam dirinya.

"...saya jadi lebi sering mengunjungi kios percetakan lain, siapa tau mereka butuh bantuan," paparnya. Sulit dalam pemasaran menjadi kendala serius bisnis Kretakupa. Hal lain seperti SDM, mesin, peralatan sudah ia mampu atasi.

Ambisi besar


Dia tidak memilik latar belakang pendidikan desain atau bisnis. Maka Andi mengakalinya lewat mengikuti aneka pelatihan bisnis. Sikap tidak lekas puas dijadikan dorongan menjalankan bisnis. Bermula dari sekedar iseng rasa tidak puas mendorongnya ketitik kesuksesan makin tinggi. Ia terjun bisnis percetakan bermodal otodidak.

Pemuda 23 tahun ini mendapatkan pelatihan, coaching, branding, marketing, serta hal teknis lain. Berkat itu bisnis lancar hingga mampu memutar roda keuangan. Andi tidak kesulitan modal. Ada prinsip unik ketika ia menjalankan bisnis yakni menghindari hutang bank. Kalau terpaksa maka cepat- cepat dilunasinya jika ada uang.

Misalnya, ketika banyak orderan, dia terpaksa membeli alat cetak warna. Uang Rp.350 digelontorkan Bank kepadanya sebagai hutang. Dalam tiga bulan sudah dilunasi tenpa basa- basi. Andi optimis memegang teguh prinsip bisnis akan membawanya ke kesuksesan lain.

Ia bertekat menekuni usaha ini. Bahkan dia sudah ancang- ancang ekspansi ke bisnis lain. Khususnya sektor percetakan dalam sekala besar. Ia mengistilahkan bahkan anak baru lahir pun sudah butuh dicetak. Seperti hal pembuatan undangan Aqiqah.

"Sampai ketika ada orang yang meninggal pun butuh dibikinkan buku yasin," tuturnya. Permintaan akan selalu ada meski kecil hanya dia bisa mengakalinya menyasar pesanan besar.

Pokoknya prospek bisnis percetakan bagi Andi masih terbuka. Ia bahkan bertekat untuk membuka cabang Kretakupa di berbagai wilayah. Jangka pendekanya membuka cabang di penjuru Sulawesi. Menurutnya, dari membuka cabang lebih untung, dibanding menerima pesanan dari percetakan lain.

Target besar ialah memiliki cabang di ibu kota provinsi di Sulawesi. Meski tanpa cabang saja usahanya sudah punya untung besar, apalagi kalau bercabang. Awal 2008 saja, Andi mampu mengumpulkan omzet 50 juta per- tahun, terusa mencapai Rp.60- 100 juta.

Artikel Terbaru Kami