Rabu, 02 Maret 2016

Isi Ulang Toner Cartridge Printer Gaya Newton

Profil Pengusaha Wijaya Tanius 



Pengusaha banyak terlahir ketika masa krisis. Ini sudah penulis buktikan lewat banyak contoh. Penulis nanti akan menulis kisah mereka nama pengusaha lahir dari krisis moneter. Untuk sekarang, kita akan membahas kisah Wijaya Tanius, bagaimana dia menciptakan bisnis baru ketika krisis 1997- 1998.

Wijaya merupakan pemilik bisnis Newton Technology. Dalam definisi singkat majalan Kontan: Merupakan usaha dibidang office print solution. Masa itu ketika krisis ekonomi dollar naik drastis. Maka harga cartridge printer juga naik tinggi. Ketika itu ia tengah asik bergelut di bisnis ATK atau alat tulis kantor susah benar.

Wijaya merasakan betul susahnya waktu itu. Sukar memutar uang ketika masa krisis moneter kala itu. Ia berkata memang betul untuk besar ketika menjual cartridge besar. Hanya saja ketika menstok maka uang buat modal kurang. Dollar naik membuat untung besar tidak sebanding penurunan nilai tukar rupiah.

Harga tinggi maka barang palsu bermunculan. Ini malah merugikan konsumen karena kualitas sangat rendah. Padahal mereka menjual sama seperti harga aslinya. Sampai Wijaya menemukan celah diantara isi cartridge yaitu toner printer. Waktu itu menggelitik jiwa wirausahawan Wijaya. Ternyata kebutuhan toner menjadi lebih tinggi.

Disisi lain banyak konsumen merasa kemahalan membeli toner asli. Dia tergelitik mengganti isi dengan tinta. Ia pun mencari tau teknik bagaimana mengisi cartridge dengan tinta. Maka pria kelahiran 17 Agustus 1769 tersebut mencari teknisi agar mengajari. Tidak puas, dia juga berselancar di internet mencari tau bagaimana cara.

Anggapan bahwa bisnis ini akan menjanjikan kelak terbukti. Dengan aktif mencari tau segala teknik dalam teknologi cartridge maka dia semakin mantap. Apalagi bisnis sejenis sudah terbukti sukses di Amerika sana.

Pria 45 tahun ini akhirnya resmi berbisnis isi ulang cartridge. Bisnis refill tinta untuk cartridge dijalani dengan penuh semangat. Bahkan dia rela menutup usaha ATK miliknya yang sudah jalan 4- 5 tahun. Uang tabungan dijadikan modalnya sejumlah Rp.100 juta. Pria asli Pekanbaru, Riau, merasa biasa saja ketika harus berganti profesi.

Bisnis berani


Memang berani karena sudah teuji. Lewat perjalanan hidup mengajarinya tidak takut. Termasuk hal berbisnis sudah Wijaya melakoni lama. Terlahir sebagai keluarga pengusaha tidak membuatnya jadi merasa sombong pula. Ketika SMA, hidup merantau, jauh dari orang tua yang punya toko emas di Padang.

Mandiri membawanya mulai berbisnis sendiri. Wijaya yang merantau ke Bandung, mulai merintis usaha ATK sejak berkuliah di Universitas. Usaha ATK memang menjadi usaha pertama dan terbukti sukses. Agar lebih mantap dengan bisnis barunya. Wijaya bahkan membuka workshop serta kantor pemasaran refill di Kelapa Gading.

Tidak cuma mengisi ulang tetapi membuat. Usahanya tersebut memproduksi tinta isi ulang sendiri bermerek Newton. Tujuan memasang merek sendiri agar bersaing dengan barang palsa. Caranya yaitu memberikan layanan purna- jual serta back up printer. Memang sejak pertama Wijaya mengincar konsumen perusahaan.

Sebagai mantan pengusaha ATK membuat dia sadar. Ia sadar betul bahwa permintaan toner dari konsumen perkantoran memang tinggi. Menjadi yang asli alternatif pengisian cartridge orisinal, membuat nama Newton layak dipilih.

Sudah dua tahun bisnis pengisian ulang berjalan. Wijaya mulai menyadari harga murah saja tidak cukup. Ia lalu segera melakukan inovasi untuk kepuasan konsumen. Ayah dua anak ini menjalankan bisnis daur ulang. Mengembangkan produknya remanufacturing toner. Newton mencoba mempertahankan pertumbuhan bisnis miliknya.

Tidak cuma mengisi ulang cartridge, tetapi sudah mengganti suku cadang cartridge. Newton memproduksi ulang cartridge memakai suku cadang asli. Kalau proses produksinya tidak mengalami kendala. Suplier nanti datang sendiri tetapi dia juga mencari di koran.

Untuk spare part dan tinta toner masihlah impor dari sejumlah negara, yaitu Korea Selatan, China, dan juga Amerika Serikat. Newton juga melengkapi aneka layanan seperti penyewaan unit. Termasuk aneka promosi jasa lain ke pelanggan. Ia menyadari penting menjaga pelanggan di bisnis tinta, maka permintaan akan terus berulang.

"Kualitas dan kecepatan menjadi pedoman kami," katanya. Klien perusahaan akhirnya bertambah seperti dari BNI, Mitra Adi Perkasa, Group Astra, Bank Mandiri dan B Braun. Perputaran bisnis Newton memang kencang dan Wijaya sungguh menikmati perannya.

Sampai dia menyadari lagi satu hal: Bisnisnya serasa terhenti ditengah- tengah. Berjalan ditempat tanpa lagi menemukan bagaimana cara berkembang. Pasalnya menurut Wijaya, Newton tidak memiliki perusahaan yang dapat menjadi pandangan. Menjadi yang pertama malah diikuti oleh banyak perusahaan baru.

"Sementara kami justru diikuti perusahaan lain," kenang Wijaya. Menghadapi itulah dia mulai membahas apa yang bisa dilakukan. Dia banyak berdiskusi dengan rekan bisnis, yang sekaligus istrinya di Newton. Ia juga rajin mengikuti aneka seminar.

Kesimpulan Wijaya ialah, "Kami akhirnya mendapatkan insight untuk bermimpi lebih besar, yaitu membangun brand." Penghobi buku ini lantas menyewa jasa konsultan. Merasa otodidak saja tidak cukup, maka butuh saran penengah dari ahlinya. Saran disampaikan konsultan memberikan peluang diantara kebuntuan.

Bisnis besar


Sukses mampu remanufacturing sampai 4.000 unit per- bulan. Newton melangkah memperluas misi menjadi office print solution. Mereka menawarkan jasa lebih lengkap seperti servis, rental printer, hingga jasa print yang berbayar per- lembar kertas. Agar mencangkup pasar lebih luas dibukalah depo- depo agar dekat ke konsumen.

Ia menyasar wilayah perkantoran. Dibangun kepercayaan bahwa mereka mampu dekat dan melayani. Inilah kunci sukses bisnis Newton Technology. Permintaan akan aneka layanan semakin meningkat karena aneka promosi gencar. Hingga ia merasakan "kwalahan", maka sang istri Veronica Wijaya langsung diterjunkan ke bisnis.

Mereka berbagi peran dalam bisnis. Wijaya yang sangat pendiam memilih hal teknis. Sepertihal soal produksi dan pengembangan bisnis. Sementara itu istri mengambil pemasaran serta kegiatan costumer care. Istri lah yang mengajari teknisi dan costumer service. "Setiap keluhan pelanggan bisa tuntas dan beras," katanya.

Meski keluhan sepele seperti printer macet ataupun minta dibersihkan, Wijaya meminta hal kecil agar selalu diperhatikan. Istilahnya kalau sampai kecewa mereka akan pindah ke tempat lain. Ini akan memberikan efek domino melalui pengalaman. Selain mengurusi pemasaran Veronica juga mengambil SDM dan opersional.

"Sejak awal pembagiannya memang begitu," tambah Wijaya. Menjalin kerja sama dengan pasangan hidup itu mempunya nilai tambah dan kurang. Nilai plus menurut Veronica ialah komunikasi mereka malah lancar. Tapi harus didukung kondisi memungkinkan.

Agar komunikasi tetap lancar begitu. Komunikasi saling melengkapi dan mengisi. Kalau terjadi kondisi tidak mungkin seperti badang terlalu capek; masalah dapat terjadi seketika. Mereka bisa terpancing konflik dalam pekerjaan maupun di rumah. Inilah kenapa jasa konsultan dijadikan cara penengah agar tidak terjadi konflik.

Artikel Terbaru Kami