Kamis, 17 Maret 2016

Sepatu Kulit Batik Kulkith Agnes Tandia

Profil Pengusaha Agnes Tandia 


 
Jadi pengusaha tidak harus mahal. Di usia 22 tahun, Agnes Tandia sukses berbisnis padahal bermodal cuma Rp.300 juta. Dia bercerita awal memulai dari mencoba- coba. Keisengan membuat jaket kain batik ternyata berbuah usaha. Jaket tersebut dipakai ke kampus dan akhirnya teman- teman mulai menanyakan dia.

Kebetulan dia berkuliah Jurusan Kriya Tekstil Seni Rupa, Ilmu Teknologi Bandung (ITB), tahun 2008. Maka tak salah jika ide bisnis menjurus ke kain perca. Jika kain batik tulis makin lama makin mahal. Lantas apa kabar sisanya, cuma menjadi tumpukan limbah.

Agnes mencoba mengangkatnya kembali. Semenjak jaket batik tersebut dibawa, banyak teman yang tertarik untuk membeli. Pesanan sangat banyak bagi Agnes mencapai 100 buah, memakain uang modal tiga ratusan ribu. "Omzet pertama jaket saya mencapai Rp.3 juta sebulan," kenangnya.

Bisnis batik unik


Ditemui di toko batik miliknya, bilangan Sukamulaya, Bandung, maka Agnes bercerita kembali tentang apa perjalanan bisnisnya. Bermodal sedaanya dibuatlah empat jaket. Itu langsung ludes hingga uang untung dapat diputar kembali. Melihat kain perca batik menumpuk ide lain muncul, termasuk membuat sepatu batik.

Di tahun 2009, Agnes memamerkan sepatu batik tersebut ke ajang Inacraft. Respon positif kembali nampak dihadapannya. Waktu itu padahal cuma "nebeng" stand milik kakak kelas. "Saya juga menitipkan kartu nama sebanyak mungkin."

Ketika itu usia Agens masih 19 tahun. Sukses berbisnis jaket melebarkan sayap ke sepatu batik. Berbeda di jaket yang batik kesemuanya. Sepatu Agnes memakai sistem menaruh perca diatas sepatu. Atau lapisan luar sepatu ditempeli batik sisa produksi jaket. 

Semakin banyak peminat, Agnes merespon hal itu lewat menamai usahanya Kulkith. Lewat ajang pameran Incraft di Jakarta Convention Center (JCC), usahanya makin dikenal oleh publik dan batik Kulkith mampu mengantungi Rp.8 juta. Padahal modalnya membawa sepatu dua lusin ke Inacraft cuma Rp.2 juta.

Agnes makin mantap saja bahwa batik merupakan passion. "Dari dua lusin saya bawa, yang tersisa hanya lima pasang," lanjut Agnes. Terobosan terbaru dilakukan olehnya meliputi sandal batik, dan juga sepatu kulit berlapis kain batik.

Sepasang sepatu dibandrol Rp.325.000 ketika di Inacraft. Dengan entengnya dia mengaku "pasrah" kalau laku ya bersyukur tetapi kalau tidak, ya tidak apa- apa. Karena memang kala itu, ia sudah dikenal sebagai seorang pengusaha jaket batik. Begitu sepatu batik laku keras maka dia meninggalkan usaha membuat jaket.

Alasan utama karena respon pasar lebih kuat. Untuk menambah jenis sepatu digunakan berbagai referensi termasuk melalui internet.

Ya karena modal terbatas maka Agnes juga menjual di internet. Berbagai cara pemasaran dilakukan olehnya. Yang paling mengena ialah melalui perantara fashion blogger. Nama Diana Rikasari dijadikan brand booster melalui review. Dia mulai menjelaskan detail produknya ke Diana Rikasari. "...dia pakai dan dia review di blog."

Bisnis online


Tujuan usaha tidak selalu soal untung. Satu hal ingin dicapainya ialah menjadi trend setter yakni bagaimana ia mengajak kaum muda mencintai batik. Memang dulu batik terkenal tua tidak cocok dipakai dikesempatan di luar formal.

Langkah pertama ialah lewat membuat jaket batik. Bermodal minim target pasar cuma sebatas teman- teman di kampus. Agnes dengan bangga memakai jaket buatan sendiri. Jaket dengan capuchon dua sisi yang bisa dipakai bergantian. Ini dipakai sebagai tes pasar juga bagaimana tanggapan anak muda.

Agnes melihat disana ada peluang bagi pasar anak muda. Sukses membuat batik, limbahnya tercecer, maka kain perca tersebut dijadikan sepatu juga sandal. Limbah batik dari hasil produksi jaket memang terbilang banyak menumpuk. Dia memilih sandal serta sepatu karena kebutuhan batik tidak banyak.

Untung karena dia berada di Bandung, maka tidak sulit dia menemukan penjahit ahli. Sebagai wanita maka ia termasuk mengikuti trend; disaat musim model Gladiator maka dia ikut, musim flat shoes maka batik Kulkith tidak ketinggalan.

Dia tidak sulit mendapatkan penjahit bagus. Ditambah bekal ilmu dari kampus, serta pandangan kedepan akan batik menjadikan Agnes sang juara. Perpaduan antara estetik corak batik dan kulit sintetis. Soal bahan baku dikatakan Agnes mudah didapat. Bahan batik sendiri terbilang lengkap, dari Pekalongan, Cirebon, Solo.

"...Yogyakarta. Malah sampai kain tenun ikat pun ada," Agnes menjelaskan. Karena saking cinta akan batik, ketika bepergian dia sempatkan membeli batik di daerah.

Disaat bersamaan kemajuan sosial media mendukung. Selain melalui perantara fashion blogger, yang sudah punya banyak follower setia. Usaha lain dilakukan Agnes yaitu melalui Facebook. Waktu itu semua orang berlomba bersosial lewat Facebook. Berbeda dia malah menjadikan Facebook tempat dia berjualan.

Jangkauan Kulikith meluas layakan sosial media. Ia mampu merambah Malaysia dan Belanda. Tahun 2009 juga dia mengirim lima lusin ke Belanda. Target pasar sendiri dia memilih memproduksi cuma sepatu batik wanita. Pasalnya menurut Agnes wanita lebih peka soal desain.

Setiap bulan dia merilis tiga desain baru sesuai trend. Harga juga disesuaikan tidak terlalu mahal, tidak terlalu berat di kantong wanita. "Jika harganya murah, mereka akan sering berbelanja," lanjut Agnes. Meski murah dia tetap fokus akan menjaga kualitas bahan. Lanjut yaitu pemilihan corak batik yang cocok buat sepatu.

Keluhan datang justru masalah tenaga kerja berkualitas. Utamanya dibidang desain, dibutuhkan kreatifitas yang tinggi untuk bisnis tersebut.

Langkah ke depan


Kini dia mampu menggaji empat orang karyawan. Penjualan naik menjadi 300 pasang per- bulan cuma lewat sosial media. Agnes juga aktif mengikuti aneka pameran kewirausahaan. Agnes lantas merintis bisnis offline store merekrut saudara serta teman. Juga termasuk toko di Bali, Agnes masih mantap membesarkan usaha ini.

Kalau permintaan naik seperti kala Lebaran, Agnes mengakali lewat mengajak pegawai tambahan. Semakin hari nama Batik Kulkith semakin terkenal. Soal ekspor belum sampai kesana, karena diakui olehnya masih sukar soal perijinan ditambah masih ada keluhan di pembeli lokal.

Masalah seperti gambar tidak seperti sepatu dibeli. Hal lain masih berputar dalam hal ukuran sepatu. Tidak sampai menurunkan omzet sih. Namun hal kecil tidak dia nafikan, justru semakin diminimalisir agar usahanya makin ke depan. Agnes lalu memperbaiki sistem menejemen bisnis Batik Kulkith.

Agnes juga bereksperimen melalui aneka macam akesesoris. Masih diarea yang dia senangi yakni kain batik. Kenapa mengambil batik? Karena Agnes mencintai batik. Jika biasanya batik dipakai di acara pernikahan, maka ditangannya batik menjadi fashionable, bisa dipakai kapan saja. Tidak perlu ada acara khusus buat batik.

Meski membuat produk lain seperti membuat jaket kembali. Nama Kulkith kadung dikonotasikan sebagai brand sepatu batik. Ia tidak menolak kenyataan ini. Meski begitu menjadi bukti bahwa brand -nya kena di hati masyarakat luas. Namun persaingan semakin ketat membuat Agnes harus siap selalu berkreasi lagi.

Produk batik semakin banyak. Tidak sedikit meniru desain diluncurkan Kulkith. Agar bisa bertahan dia pilih memiliki identitas tertentu. Ciri pada produknya dianggap penting. Meski sama sepatu batik tetapi fitur yang dihadirkan berbeda. "Intinya kita harus terus melakukan inovasi," tambahnya.

Artikel Terbaru Kami