Selasa, 08 Maret 2016

Bagaimana Rasanya Menjadi Pewaris Universitas Swasta

Profil Pengusaha Candice Gorianuy 


  
Menurut pengakuannya sendiri, dia terpaksa harus "menendang dan berteriak" coba menolak bisnis keluarga hanya beberapa bulan selepas dia lulus kuliah, Anteneo de Manila University di pertengahan 1990 -an.

Hanya saja hidup -dan ayahnya- memiliki rencana lain bagi Yvette Candice Gorianuy, yang pada akhirnya ia tidak bisa menolaknya. Dia sekarang dikenal sebagai sosok berpengaruh di Filipina.

Seorang entrepreneur maju berjiwa kepemimpinan kuat. Padahal, seingat Candice dulu, dia ingin menjadi pengacara dibanding menjadi pengusaha. Sudah masuk ke jurusan hukum, lulus, dan mencoba melanjutkan pendidikan lagi. Hingga, waktu itu, ketika sekolah hukum baru dimulai, ayah mengajaknya makan malam.

Ayahnya berkunjung ke Manila dan mengajaknya makan malam. Ayah Candice, Augusto Go, merupakan seorang businessman dan juga pemilik University of Cebu.

"Saya pikir dia takut saya akhirnya jadi gelandangan," tawanya renyah. "Jadi dia dudukan saya dan berkata ke saya "Aku membuka kampus baru dan aku mau kamu menjalankannya"," kenang Candice.

"Jadi sebagai hadiah kelulusan mereka, beberapa anak akan keluar negeri, atau orang tua mereka memberi mereka perjalanan ke Eropa, ataupun dapat mobil," ujarnya kepada Inquirer.net -terdengar penuh rasa iri jika didengar. "Saya... pergi bersekolah untuk berlari."

Pada awalnya dia berpikir akan menolak saja kesempatan menjalankan sekolah. Tetapi akhirnya tidak dapat dilakukan karena perasaan tanggung jawab.

"Pelajaran dipetik dari cerita diatas ialah: Jika seorang laki- laki datang -siapapun itu- mengajak kamu makan malam mewah, dia mau sesuatu dari mu," candanya lagi, disusul tertawa terpingkal. "Itu berlaku melampaui batas level."

Perjalanan panjang


Selama 14 tahun menjalankan karir di University of Cebu, bekerja menjadi education consellor, Candice bertanggung atas empat kampus yang terkenal di pusatnya, Visayan Island. Dia juga menjalankan kampus terpisah untuk institusi lain bernama Collage of Technology Science.

Candice semakin bertanggung jawab atas kampus swasta tersebut. Bahkan Candice malah mengambil gelar master di bidang pendidikan, di Harvard University.

Dia belajar banyak dari kampusnya orang sukses tersebut. Lalu membawa pengetahuan tersebut ke tempat dia bertugas. Memang reformasi dibutuhkan terkadang menyakitkan. Harus ada orang baru yang masuk dan orang lama keluar dari kampus.

Menurutnya, meskipun begitu, ketika seorang pemipin menggelindingkan "perubahan" dan "reformasi", maka kamu akan menemukan momentum.

Jika kamu memiliki passion tentang kualitas dan layanan terbaik, maka kamu harus percaya atas cara kamu membangun organisasi. Maka kamu akan menarik perhatian mereka yang memiliki sudah pandang sama. Ia menambahkan bahwa kamu harus tenang, karena kamu akan menarik orang bervisi sama dan akan merubah sistem.

Memang, berawal dari sekolah kampus kecil oleh sang ayah, pada 1964 lantas tumbuh besar. Semua orang berkata sekitar 44.000 mahasiswa belajar di berbagai kampus didirikannya. Mereka mulai dari mengambil jurusan kelautan, teknologi informasi, keperawatan, dan paling baru, teknik mesin.

"Kami merupakan kampus swasta terbesar di negara ini," aku Candice, "Tetapi saya maunya kualitas, lebih dari sekedar angka."

"Kami berinvestasi di fasilitas dan orang," tambahnya. Hal paling baru, Candice juga ditugaskan menjalankan rumah sakit St. Vincent General Hospital, rumah sakit level tiga yang memiliki 100 kasur, yang dia ingkan jadi rumah sakit terbesar dan layanan terlengkap di Cebu.

Sekali lagi, baginya situasi baru memberikan tantangan kembali bagi karirnya. Sebuah situasi komunitas yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam bisnis mereka. Untuk mengisi waktu luang dari kejenuhan akan rutinitas, maka dia memiliki satu hobi sekaligus passion lain; berkuda.

Bisnis sekolah


Jika waktu memungkinkan, dia akan bersekolah kuda di Lahug, Whistlejacket Farms, dimana dia mencoba menyempurnakan gaya berkudanya; dia menyukai berkuda bukan pamer lompatan.

"Itu salah satu hal mewah saya menikmati," jelas Candice. Berkuda sangat menarik, karena setiap sisinya itu memiliki kepribadian berbeda, kita tengah berbicara sifat sang kuda sendiri.

Menurutnya, berkuda mengurangi stress bekerja menjalankan kerajaan universitas miliknya, dan dapat jadi satu titik penyemangat di pagi hari.

Candice juga menyukai musik terutama menjadi fans band U2. "Band terbaik di dunia," tambah Candice lagi, mencoba meyakinkan kamu. Maka tidak salah jika dia memiliki semua DVD konser milik mereka. Dia juga masuk ke kelompok penggemar khusus, memberikan tiket konser awal dimanapun terutama New York.

Dia berkata bahkan dia dapat memasan dua tiket satu tahun kedepan. Jika event -nya sudah direncanakan selama satu tahun sebelumnya, maka Candice dapat duluan. Ia pernah sekali memesan dua tiket sekaligus. Dan ketika pewarta bertanya, Candice menjawab, untuk kemungkinan mendapat lelaki masa depannya.

Akhirnya Candice membuang tiket tersebut. "Tetapi itulah jalan hidup. Saya bisa menjadi impulsif, tetapi saya coba mencoba melanjutkan hidup, hidup untuk memenuhi diri sendiri."

Jadi dimana pelampiasan cintanya setiap waktu?

"Untuk kuda- kuda saya? Selalu," ujarnya sambi tertawa tetapi lantas berubah menjadi serius. "Ketika orang tepat datang, maka akan selalu ada waktu."

Bertanya tentang pencapaian paling membanggakan sejauh ini, maka tidak tentang suksesnya mengangkat kampus swasta miliknya. Ataupun tentang senangnya pemegang saham, ataupun tentang tantangan terbaru yaitu ia harus menjalankan rumah sakit.

Tetapi dia malah menunjukan kliping koran sebuah pristiwa. Yakni kecelakaan kapal tenggelam tahun 2008, dimana banyak orang terselamatkan berkat sang kapten. Dan perlu kamu tau nih, kapten kapal laut ternyata adalah mahasiswa University of Cebu. "Kami menjadi lebih terorganisir karena kami tau apa yang kami mau."

"Inilah momentum paling membanggakan," ucapnya. "Saya berpikir kami membuat perbedaan disini."

Artikel Terbaru Kami