Kamis, 10 Maret 2016

Jual Kepiting Untung Miliaran Modal Awal Jutaan

Profil Pengusaha Heriansyah 



Menjadi pengusaha banyak jalannya. Asal kita menemukan bisnis tepat maka waktu akan menyesuaikan diri. Inilah kisah Heriansyah, pria kelahiran Balikpapan, 17 Agustus 1976 silam, yang menceritakan kisah awalnya bagaimana memulai bisnis kepiting.

Kota Balikpapan sudah dikenal sebagai penghasil komoditi ikan. Tetapi tidak lantas membawanya menjadi seorang pencari ikan. Perjalanan justru membawanya menjadi sopir carteran. Hanya dilubuk hatinya paling dalam ingin membuka usaha.

Mau usaha apa belum direncanakan. Hanya dia meyakinkan pekerjaan selama itu sebagai batu loncatan. Dia bukan terlahir dari keluarga nelayan. Bukan pula keluarga pengusaha ikan di Balikpapan. Hanya seorang sopir carter perusahaan. Jikalau sepi carteran, maka Heri -begitu panggilannya- akan bekerja jadi sopir taksi gelap.

"...latar belakang keluarga saya bukan nelayan atau pengusaha ikan," ujar warga Manggar, rumahnya Jalan Mulawarman, Balikpapan.

Dia tidak punya modal uang. Hasil bekerja dikumpulkan sampai menumpuk. Dengan sabar, hingga 1997, ia membuka bengkel motor menjadi usaha pertama. Namun, usahanya ternyata belu tepat, maka waktu itu ia bangkrut tidak bertahan lama.

Bengkel tertutup maka mau usaha apa. Akhirnya Heri menyadari sekitarnya bahwa ada potenis bisnis yang ia luput. "Saya sempat bingung ingin usaha apa," kenang Heri. Perlu diketahui memang di Pulau Kalimantan itu terkenal akan komoditas lautan.

Modal usaha 3 juta


Suami dari Rintih Dewi Astuti ini, melirik usaha komoditi lautan, kan di tempat tinggalnya sekitar merupakan para nelayan. Bisnis lauatan dipikirnya ada potensi. Ayah tiga anak ini lantas mencoba berbisnis ikan. Tepat di tahun 2008 dia mulai kulakan ikan jadi bisnis.

Menjalankan bisnis ikan ternyata tidak segampang dibayangkan. Pada akhirnya, Heri kembali tidak sukses berbisnis, kali ini bahkan sampai defisit keuangan. Bisnis Heri tidak mengalami perkembangan selama satu tahun berjalan. Sampai di 2001, ia menyasar bisnis udang, dan usaha bakul ikan ditinggalkan berganti lagi.

Kembali dia cuma bertahan selama setahun. Nampaknya bisnis udang masih juga belum menjadi bisnis tepat. Masih bertahan di bisnis perikanan, ketika melihat restoran menjajakan menu kepiting, otak Heri langsung terkoneksi dia harus berbisnis kepiting. "Saya coba berbisnis kepiting," tutur pria murah senyum ini.

Tahun 2002, dia memulai usaha binatang bercapit itu, dan hanya mempekerjakan satu orang rekan. Bersama mereka mengumpulkan kepiting kecil untuk dikirim ke Surabaya. Mulai dari menyasar pasaran kecil terlebih dahulu. Heri menjual perkilo kepitinganya seharga Rp.300 ribu. Keuntungan pertama diakui Heri tidak begitu banyak.

"Keuntungan waktu itu hanya beberapa juta per- bulan," imbuh Heri.

Lalu putra almarhum Aliansyah dan Aminah ini, mulai menempa dirinya dengan segala pengetahuan tentang kepiting. Hasilnya omzet usaha Heri naik, bahkan sampai menyentuh puluhan juta. Permintaan datang sampai ke orang kargo. Sampai di 2005, Heri tercatat sudah melakukan ekspor, mulai kepiting telur ataupun besar.

Terus berkembang


Perlahan namun pasti usaha dijalankan Heri mulai nampak. Kemajuan tercatat mulai awal 2008, dimana Heri setiap hari mampu mengirim berton kepiting ke daerah serta restoran di Balikpapan. Cuma bermodal uang tiga juta waktu pertama kali. Kini, omzet Heri menembus angka miliaran baik dari ekspor dan sebagainya.

Ia pun telah membuka harapan. Lapangan pekerjaan dibuka oleh Heri, terutama bagi para nelayan kepiting ataupun pembudidaya kepiting. Kalau sebelumnya cuma dua pegawai sekarang dia mempekerjakan puluhan orang. Meski begitu banyak aturan pemerintah sempat menggoyah keberlangsungan usaha Heri.

Sebut saja di tahun 2009, aturan maskapai yang hanya membolehkan satu lubang kecil. Satu tersebut dibuat untuk satu kerdus berisi beberapa kepiting segar. Alhasil banyak kepiting mati dan merugikan pihak pengirim tentunya. "Hal itu membuat banyak kepiting mati saat proses pengiriman," paparnya.

Beruntung berkat usaha bersama hal tersebut teratasi. Pihak maskapai menyetujui memberikan satu lubang besar di pesawat. Sampai terbitnya Permen (Peraturan Menteri) Kelautan dan Perikanan Nomor 1/Permen- KP/2015 dan surat edaran susulan nomor 18/MENKP/1/2015 membuatnya pusing kembali.

Ini menyangkut penangkapann lobster, kepiting, dan rajungan, yang membuat banyak pengusaha hasil laut di Balikpapan merugi. Namun Heriansyah mesih optimis mampu menjalankan usahanya. Masih mampu dia menafkahi karyawan serta keluarga.

Tidak surut


Berawal dari bermain kepiting BS atau sortiran. Kini, Heri tercatat memiliki aneka kepiting lengkap siap jual, seperti 16 jenis kepiting bakau. Mulai kepiting jantan, betina, kepiting soka, BS, dsb. Bermain kepiting super lebih menghasilkan. "...di kepiting jenis BS yang perkilonya hanya Rp.8 ribu."

Ketika ditemui perwarta di kediamannya, Jalan Mulawarman Manggar Baru RT. 15 No 20, Balikpapan Sel. ini, menyebutkan dari 16 jenis tidak semua memberi untung. Istilahnya ada kelebihan dan kekurangan soal mereka. Untuk mengurangi kerugian ditetapkan Heri sistem dibayar langsung. Semua agar tidak bertambah rugi.

"Saya terapkan habis timbang langsung bayar. Soalnya dulu saya pernah pengalaman soal uang macet itu," ia berujar.

Berbisnis kepiting punya resiko besar dibelakang. Oleh karenanya, Heri selalu ambil ancang- ancang lewat cadangan modal. Kalau dilihat keseluruhan penghasilan sampai miliaran, tetapi faktanya per- hari selalu saja ada biaya pengeluaran. "Ini bisnis resikonya juga besar," jelas Heri. Utamanya karena biaya sehar- hari buat oprasional.

Pendapatan besar setiap hari sebanding pengeluaran operasional. Menjadi titik rawan selalu dicermati Heri. Ia tidak mau kecolongan sebuah antisipasi saja.

Untuk kepiting bakau pasarnya meliputi restoran seafood dan pasar tradisional. Kepiting bakau Heri disebut merambah Dandito, Ocean's, dan Bondi (nama restoran). Untuk pasar tradisional kepitingnya dapat ditemui di Pasar Klandasan. Adapula pengiriman ke luar Jawa, seperti ke Kalimantan, Bali dan Surabaya.

Untuk pasar ekspornya?

Heri menjelaskan dia mengirim ke China. "Hanya saja melalui eksportir dari Jakarta," terangnya. Maka itulah biaya ekspor sebenarnya lumayan tinggi. Ada pengeluaran khusus dianggarkan. Maka jangan salahkan jika keuntungan dihasilkan sering naik- turun. "...disamping cost eskpor yang mahal juga. Harga juga ada yang mengendalikan."

Dikirim ke Jakarta, Heri mengirim sampai satu ton sampai ke China jika lautan tengah pasang. Ini berbanding terbalik kebutuhan lokal. Ia menyebut hanya mencapai 200- 400 kilo setiap hari. Harga perkilo relatif beda tergantung jenis kepiting dari Rp.25 ribu- 190 ribu per- kilo.

Meski besar di ekspor, semua tergantung akan kebutuhan. Pasalnya China memilik musim tertentu dimana ia mampu menjual lebih banyak dan menutupi biaya operasional. "Kalau ada perayaan ya ekspor bagus ada ya rugi," jelas Heri.

Meski begitu ia berharap agar pemerintah tetap memperhatikan nasib nelayan. Utamanya bagaimana cara agar harga stabil untuk ekspor ke luar. Ini dimaksudkan harga tidak turun mengikuti harga luar. Nah, selepas itu barulah mengatur penangkapan kepiting, udang, dll. "Jadi nelayan tidak sembarangan menangkap." tutur dia.

Prospek bisnis kepiting masih positif. Heri tak lupa memberikan tips bagi kamu pengusaha pemula. Yaitu ia mengingatkan jangan boros. Manajemen keuangan dari bisnis harus diorganisir diperkuat. Istilah dia pakai ialah pengeluaran sekecil apapun harus diperhitungkan.

Heri sendiri enggan menyebut angka pasti untung pribadi. Tetapi ia meyakinkan dari usaha kepiting dirinya sudah mampu menghidupi keluarga, dan 8 orang karyawan gudang dan dua karyawan di lapangan. Untuk kepiting asoka, Heri telah memenuhi kebutuhan pasar sampai 200 kilo per- hari.

Artikel Terbaru Kami