Kamis, 24 Maret 2016

Keripik Pisang Kharisma Buzamar Optimisme Petani Pisang

Profil Pengusaha Buzamar


 
Sering kali panen pisang di Lampung terlalu banyak. Bahkan saking banyaknya sampai harga anjlok. Alhasil ia sebagai seorang petani menelan pill pahit. Harga pisang menurun drastis sampai- sampai pisang seolah jadi limbah. Walau harga murah malah sepi pembeli memborong pisang.

Dia, Buzamar, lantas memiliki ide membuat usaha hilirisasi, maksudnya agar mendongkrak harga pisang. Dia juga mengakali minat konsumen akan buah tropis ini. Pilihan untuk berbisnis pisang olahan memang tidak salah. Buzamar lantas merubah pisang menjadi keripik ketika harga pisang murah.

Sekarang ia mampu memproduksi sampai 240kg setiap minggu. Ketika kamu berkunjung di tempat produksi miliknya, maka bau harum semerbak menghampiri.

Bisnis pintar


Sebagai petani pisang Buzamar sendiri pusing. Tujuh keliling dia memikirkan panen pisang melimpah, tetapi pembeli tidak meningkat. Bahkan cenderung sepi membuat pisang terbuang. Warga asli Desa Sungairambi Utara, Kec. Pariaman Utara ini, melihat harga pisang jatuh anjlok.

Tahun 2006, ia memutuskan untuk merevolusi hidupnya, tidak dapat dibiarkan terus menerus harga pisang hasil panen anjlok. Uang Rp.150 ribu digunakan untuk mengolah empat tandan pisang jadi keripik. Lalu dia mengemasnya dalam plastik kecil dan menjualnya.

Untuk mempermudah penjualan dijualah kecil- kecil. Ia membungkus pisang kecil dijual Rp.500 -an. Yang lantas dia titipkan ke warung- warung. Awal berbisnis respon pembeli biasa saja. Hasilnya keripik buatannya banyak tak laku. Meski begitu suami wanita bernama Marniati ini, tidak mau menyerah seketika.

Pria 48 tahun ini memilih memperbaiki keripik pisangnya. Mulai bentuk keripik, rasa, sampai kemasan lantas diperbaiki olehnya.

Mengkoreksi bisnis memang benar adanya. Kesalahan itu diperbaiki hingga mendongkrak penjualan. Makin lama nama keripik pisanya mendapatkan tempat di hati. Usaha bernama Kharisma Flora tersebut tidak lagi tidak laku. Perlahan kemasan disesuaikan ke arah lebih modern agar menarik hati.

Keripik pisang Kharisma dijual seharga Rp.8000 per- bungkus isi 250gram. Produksi lalu melonjak menjadi 6kg per- minggu dan seterusnya. Pemasaran meluas sampai ke Medan bahkan ke Jakarta. Rasa keripik juga dibuat sagala macam seperti rasa cokelat, manis, dan keju.

Ia menaikan taraf hidup keluarga petani pisang asal Lampung. Dari bisa membeli sepeda motor sampai menguliahkan anak sampai ke Jakarta. Namun sayangnya, usaha Buzamar makin terkendala bahan bakunya yaitu pisang raja jantan.

Pasalnya banyak petani mengikuti jejak Buzamar. Adapula petani yang sudah menjual pisangnya meski saat itu belum panen. Maka jadilah dia tidak mendapatkan buah pisang cukup. Bahkan agar sukses, pengusaha- pengusaha yang meniru langkah Buzamar ini membeli dengan harga lebih tinggi dari pasaran.

Itu karena petani masih gampang tergoda bujuk rayuan. Terutama pembelinya bukan orang asal Sumbar. Dia yang asli Sumbar malah tidak kebagian. Dulu pisang jadi limbah maka berkat Buzamar, pisang menjadi satu komoditas mahal untuk olahan keripik pisang.

Artikel Terbaru Kami