Selasa, 01 Maret 2016

Pembuat Minatur Harley Dari Jam Bekas

Pengusaha Dewantoro Setyo Purnomo 



Dengan telaten jari- jari Wawan merakit karya seni. Ia merubah tumpukan jam bekas jadi lebih bermakna. Pemuda 21 tahun tersebut lantas menjual karyanya. Siapa sangka, mesin bekas jam tangan dapat diubah jadi Harley Davidson. Berawal sekedar iseng kini bisnisnya mampu menghasilkan jutaan rupiah.

Satu Harley Davidson dijual antara harga Rp.200 ribu sampai Rp.500 ribu. Berawal dari keisengan melihat jam arloji sang kakak yang rusak. Dalam benak pria bernama lengkap Dewantoro Setyo Purnomo ini sayang kalau diperbaiki. "Daripada servis mahal saya buat karya seni," jelasnya singkat.

Akhirnya jadilah miniatur Harley Davidson. Soal penjualan memanfaatkan banyak media. Seperti sosi media untuk menggaet pelanggan. Faktanya berhasil menjual sampai kelur Jawa, seperti Pulau Kalimantan dan juga Bali. Seiring waktu keisengan tersebut menjadi hasrat untuk menjual lebih banyak.

Bahkan hasil karyanya menghasilkan uang buat kuliah. Kendati demikian proses pembuatan yang susah jadi halangan tersendiri.

Pantang menyerah


Awal berbisnis barang karyanya belum diapresiasi. Sambil berjalan jemari Wawan semakin lihat merangkai jam bekas. Maka ketika dia sudah jago, pesanan mengalir sendiri sampai memasan aneka minatur lain selain Harley Davidson. Kebanyakan mereka memasan spesifik khusus seperti mobil, motor jenis lain, dll.

Konsistensi Wawan memang patut diacungi jempol. Dia tidak tergoda menekuni bisnis lain. Masa sulit diawal bisnis dianggap proses biasa. "Pasti ada masa sulit... asal kita konsisten aja dengan apa yang kita kerjakan," Wawan memberi semangat.

Soal bahan baku didapatkan dari pasar loak. Untuk lem dan bentuk dipelajari lebih dahulu hingga dia mampu menemukan. Wawan mengaku membutuhkan 2 jam sampai 5 jam mengerjakan satu miniatur Harley. Kalau bahan baku tidak ada maka dia siap berburu arloji bekas kemanapun.

Mulai dari mengoleksi jam tangan lantas mendaur ulang jam tangan. Namun sayangnya, ternyata tidak semua jam tangan dapat dirakit menjadi miniatur. Maka ketika ia mencoba jam tangan lalu, hasilnya tidak bisa jadi miniatur.

"Saya awalnya tidak tahu untuk apa jam- jam yang sudah mati ini," utas Wawan kembali.

Alumin Hukum Universitas Brawijaya ini memang pantang menyerah. Dalam sehari menggunakan bahan jam tangan Seiko tiga buah, dan dua jam tangan buatan Tingkok, hanya untuk satu David Harley Davidson. Lalu ketika sudah selesai tinggal diupload ke Facebook.

Nah ketika banyak yang nge- lika maka banyak pembeli. Ia yakin menekuini bisnis minatur tersebut. Sebagai pembeli pertama mereka kakak kelas Wawan di Jurusan Hukum. Mereka tertarik karena karya Wawan itu unik, langka, dan dikerjakan semirip mungkin.

Ruang pameran


Pria Kediri ini melanjutkan kisahnya kepada pewarta Surya Malang. Bisnis miniatur miliknya pasang surut, ia ingat pada awal berbisnis sempat menjual laptop miliknya. Padahal, kamu perlu tau nih data kuliah miliknya masih didalam.

"Ya, rela saja (menjual laptop). Sekalian mengisi waktu liburan," ujarnya lagi.

Uang tersebut lantas dibelikan banyak jam bekas. Jam bekas tersebut dibeli di Pasar Combrongan. Semua itu agar bisa memenuhi pesanan yang semakin banyak. Pembeli datang dari Bali, Surabaya, Bontang sampai Jakarta.

Kegiatan baru tersebut sangat didukung oleh pemilik tempatnya tinggal. Iwan, memperkenankan Wawan bisa menggunakan ruang tamu sebagai studio. Ditempat itulah pulalah dia menyimpan ribuan jam tangan bekas koleksi miliknya.

Tempat tersebut juga memajang aneka miniatur mulai Ducati Monster, Harley Davidson Street, atau Harley Davidson Iron.

Variasi produk serta tingkat kesukaran mempengaruhi harga jual. Tetapi tidak sampai menembus jutaan sih. Kebanyakan dijual dijadikan koleksi oleh pecinta motor gede. Hidup mandiri sekarang Wawan sudah bisa mengantongi penjualan Rp.1 juta per- bulan. Uang tersebut digunakan untuk menebus laptop yang digadai.

Ia sendiri tidak menyangkan bahwa produknya akan mendapat apresiasi. "Soalnya saya cuma iseng," celetuk Wawan.

Artikel Terbaru Kami