Rabu, 10 Februari 2016

Valentina Nilai Pendidikan Dibalik Mainan Clay

Profil Pengusaha Michelle Valentina



Menjadi pengusaha bukanlah minat. Apalagi kalau berbicara tentang bisnis pendidikan. Secara tersirat itulah benak wanita yang merupakan pegawai perusahaan iklan. Ditambah lagi Michelle Valentina lulusan terbaik di universitasnya. Berbisnis clay mungkin terdengar sepele, tetapi ketika ia jalani ternyata mengejutkan.

Anak merupakan sumber kebahagiaan orang tua. Begitu pula Valentina melihat anaknya senang bermain clay. Itu loh mainan seperti tanah liat yang bisa dibentuk. Clay manfaat seperti membentuk rasa peka, kreatifitas bentuk, serta kemampuan motorik. Ia terinspirasi didukung oleh latar belakang pendidikan desain grafis jadi cocok.

Bersama ketika mereka berliburan ke Thailand semua dimulai. Waktu itu anaknya, Shania Rose Limardo, menemukan mainan barunya. Mainan berbahan polymer khusus bernama Jumping Clay, yang dapat dibentuk menjadi aneka bentuk.

Shania betah berjam- jam duduk membentuk karekter favortinya. Valentina nampak mengamati sang putri yang tengah asik. Clay ajaib itu dibentuk lewat imajinasi tanpa bantuan alat apapun. Valentina tertarik akan efek positif diatas. Ia mulai mencari tau segala tentang Jumping Clay, dan menemukan aneka manfaat.

Sebagai mainan ini juga baik buat pendidikan. Ia menemukan clay cocok bagi pendidikan anak usia dini. Ini melatih motorik halus anaknya. Putri Valentina sendiri memasuki berusia 7 tahun. Berkat bermain Jumpling Clay, diyakini dia sudah mampu membentuk benda. Perkembangan otak lebih optimal sehingga mendukung nilai akademis.

Jumping Clay mendorong kemampuan menyelesaikan masalah. Berpikir kreatif membentuk karakter anak lebih optimal. Yakni pembentukan fisik jari dan tangan, kemampuan kognitif, emosi ketika membentuk clay, dan kemampuan psikososial mendasar. Apalagi jika Shania dibarengkan teman seumuran bermain bersama.

Menjadi masa intimasi bagi anak usia dini 0-3 tahun, awal anak- anak 3-6 tahun, dan masa tengah anak usia 6-11 tahun, dimana kita sebagai orang tua bisa bersama bermain Jumping Clay. Mulai dari membentuk hal sepele sempai membentuk bentuk komplek seperti rumah. 

"Pendidikan seni diharapkan memberika solusi pendidikan bangsa agar menjadi manusia mandiri dan tangguh dalam perkembangannya," jelas Michelle Valentina.

Waralaba pendidikan


Menyusuri Thailand, Valentina mencari segala sesuatu tentang Jumping Clay. Sampai menemukan fakta tentang bisnis waralaba. Ya ternyata Jumping Clay merupakan waralaba berkonsep. Dan menurutnya lagi aslinya berasal dari Korea dan tersebar sampai 35 negara, termasuk Thailand, Singapura, Jepang, China dan Brazil.

Di Indonesia sendiri Jumping Clay belum dipegang siapapun. Dia lalu bernegosiasi dengan pemilik waralaba asal Korea. Hasilnya dia diperbolehkan memegang lisensi khusus pewaralaba. Maka lahirlah bisnis bernama Jumping Clay Indonesia.

Menurut Valentina mainan clay bahkan sudah masuk kurikulum Inggris, maka ada potensi. Bisnis ini memang seolah muncul tiba- tiba. Maka kini dimulailah perjalanan bisnis miliknya. Salah satu andalan bisnis clay milik Valentina adalah JumpingClay Academy. Sebuah program khusus bagi anak mulai usia tiga tahun bermain asik.

Ia menawarkan tempat bermain seperti PAUD. Cuma memiki kurikulum tersendiri seperti untuk usia dini umur 3-6 tahun, sekolah dasar 6-16 , kemudian umur 16 tahun lebih atau kelas instruktur. Memang produk clay tidak diperuntukan khusus buat anak- anak. Kita juga bisa memainkan atau untuk mengerjakan proyek tertentu.

Mainan clay juga dikenal membantu orang tua mengingat. Aneka bentuk membantu kita agar tetap cerdas ketika tua nanti, tidak mudah pikun. Sukses berbisnis membawa Jumping Clay Indonesia melebarkan sayap lewat aneka workshop orang tua.

Valentina juga memberikan sertifikat instruktor, jadi bisa menjadi guru dan juga dekorator seni. Gunanya ialah membantu mengajar di rumah, panti asuhan, mengkonsep kamar anak, mengajar komunitas, memotivasi di acara perusahaan, mengisi acara bridal atau baby shower. Valentina pun membuka peluang waralaba bagi kamu.

"...kami tidak sembarangan dalam pemilihan pewaralaba," ujarnya pasti. Pewaralaba haruslah mempunyai passion dibidang pendidikan. Dibutuhkan komitmen panjang agar mampu mengoptimalkan potensi anak. Selain itu butuh orang suka mendidik agar ikut memajukan pendidikan sesuai visi perusahaan.

Artikel Terbaru Kami