Minggu, 28 Februari 2016

Biografi David Si Tukang Permak Jean JJH

Pengusaha Muda Muh. David Octavian



Menjadi muda jangan cuma foya- foya. Mulailah berbisnis mungkin dari hal paling sederhana. Ini kisah David atau nama panjanganya Muhammad David Octavian. Pengusaha muda dibidang permak jean. Usaha yang dinamainya Jakarta Jean House (JJH), merupakan salah satu usaha permak jean premiusm di Indonesia.

Sejak kecil rajin menabung memang untung. Itulah kunci sukses David. Dimana ia bermodal uang tabungan sejak dulu kala. Memiliki langganan kelas atas dimana menghasilkan Rp.35 juta setiap bulan. Memang sajak duduk di bangku sekolah dasar sudah terlihat jiwa wirausahanya.

Pemuda Betawi ini membiasakan diri menyimpan uang ketika itu. Putra dari pasangan Wawan Wahyudi dan Kokoh Rukoyoh ini, menyasar jean khusus milik brand ternama dunia. Bukanlah perkara mudah loh. Karena bisa- bisa nanti apa bedanya dengan permak biasa? Perjuangan dimulai ketika ia berjualan gelang rajutan.

Kemudian David pernah berjualan jaket sampai melayani jasa percetakan buku. Di masa sekolah menengah lah merupakan masa tersulit. Dimana dia menyadari pentingnya kesuksesan. Ia waktu itu merasakan minder ketika temannya berkecukupan. Bayangkan masa itu teman- temannya asik nongkrong minta uang mama.

"...pergaulan dengan teman- teman yang cukup tinggi taraf ekonominya. Kadang- kada saya ingin seperti apa teman- teman saya, ingin minta uang sama mama untuk jajan dan nongkrong bareng teman- teman," kenang David.

Tetapi dia menyadari bahwa harus bekerja keras. Hanya semakin bekerja keras, David menyadari bahwa meminta uang ke orang tua tidak baik. Makanya dia malah semakin asik berbisnis sendiri. Hasratnya lebih ke passion berwirausaha dibanding mencari uang buat bersenang- senang.

Maka dia bertahan tetap berbisnis membuat brosur, panflet, poster atau sepanduk. Bisnisnya menyasar acara yang diselenggarakan oleh sekolah.

Tidak mau kuliah


"Saya mulai belajar berbisnis sejak masih duduk di bangku SD," tutur David.

Dia tidak mau membebani orang tua. Sudah dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. David kecil yang mendapatkan uang saku Rp.700. Uang tersebut dianggap tidak mencukupi bagi kelas lima. Naik angkot pun butuh uang Rp.200. Dibanding teman- temannya yang punya uang saku Rp.1.200 setiap hari.

Ia tidak mau merengek. Maka mencari akal melalui barang bekas sekitar. David kecil mulailah menjual aneka barang bekas. Kebetulah nih, sang ayah, yang juga montir banyak mengepul barang- barang sisa mesin. Seperti kabel diutak- atik menjadi ornamen manik- manik.

"Itulah bisnis pertama saya, berjualan gelang di kelas," kenangnya. Maka gelang tersebut dijual Rp.200- 250 setiap gelang. Pertama kali mencoba ternyata langsung laku. Sejak saat itu, bisnisnya ekspansif sampai nanti ke sekolah dasar lain, disekitar Ciputat.

Untuk pemasaran kemudian diserahkan ke teman di SD lain. Ia memberikan bonus khusus bagi penjualan terbanyak. Entah disadari atau tidak David kecil menerapkan strategi bisnis kelas dewasa. Usaha itu ternyata terkenal dikalangan anak seumuran. Usaha gelang tersebut dijalani sampai enam tahun atau sampai kelas 6.

Semakin besar usahanya semakin besar juga. Dia mulai berbisnis garmen lewat almameter sekolah. Ia juga pernah menjadi tenaga pemasaran produk jam dan kacamata lewat online. Pengalaman didukung naluri alami sampai kesuksesan bisnis permak jean. David memiliki segudang pengalamana untuk membidik kesempatan.

Dia tidak berpikir akan kuliah. Selepas masa SMA, ia tidak mau menambah beban orang tua dan memilih berwirausaha. Namun, keinginan orang tua tidak terbendung, mereka ingin anaknya sampai ke jenjang yang tertinggi yaitu universitas. Demi memenuhi permintaan tersebua maka David mengiyakan maju kuliah.

Ayah David adalah seorang pekerja bengkel mobil, sementara sang ibu bekerja sebagai penjaga toko. Ibu David sangat menginginkan anaknya menjadi sarjana. Sebagai anak berbakti, David melihat jelas dimatanya tidak ada hal paling membanggakan selain gelar sarjana. Ibu David rela bekerja lebih keras agar dirinya bisa kuliah.

Akhirnya David berkuliah disalah satu universitas swasta mengambil jurusan IT. Ketika masuk semester 2, ia menyadari bahwa biaya kuliah merupakan hasil jualan gelang sang ibu. Buat membiayai kuliah ibunya rela menjual barang berharga turun- menurun. Maka semenjak itupula lah, David memutuskan harus lebih bekerja keras.

Bisnis cerdas


Menyadari ibunya berkorban banyak. Sejak berkuliah, dia mulai berpikir bekerja dan menambah uang saku sendiri. Mulailah dia menggunakan uang tabungan sejak kecil. Uang tersebut lantas dijadikannya pakaian yang dijual kepada teman- temannya. Total Rp.3 jutaan dibelikan pakaian pria maupun wanita ke Mangga Dua.

Setiap harinya harus bangun pukul 5 pagi. Dia naik busway ke Mangga Dua, membeli pakaian pria maupun wanita. Pemuda kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1989 ini, maka saban hari mententang dua tas penuh berisi pakaian siap jual. Seorang pedagang yang akhirnya menemukan titik jenuh. David ingin jadi entrepreneur sejati.

Dia ingin punya tempat bisnis sendiri. Ingin membantu orang banyak, membuka lapangan pekerjaan, punya karyawan sendiri. Disaat itu, tahun Oktober 2009, ketika usianya 20 tahun mengalirlah masuk serbuah aneka brand jean asing; Lee, Levis, Tsubi, LeeCoper, Imperial, Ksubi, Cheap Monday, Truly Legend, April 77, Iron Heart.dll.

Banyak brand jean masuk tetapi sedikit permak jean. Meskipun banyak di jalanan tidak banyak yang khusus menangani brand khusus asing. Inilah pasar disasar oleh David ketika ingin punya usaha sendiri. Menyasar jean ukuran besar karena tidak sesuai badan orang Indonesia.

Selama itu sebenarnya banyak permak jean tersebar. Hanya, kebanyakan pemilik brand jean mahal itu tidak mau sembarangan mempermak jeannya. Sayang kan mahal- mahal ktalau hasilnya ternyata tidak memuaskan. Oleh karena itulah lahir Jakarta Jean House, menjawab kegundahan pemilik jean mahal impor tersebut.

Diibaratkan David bahwa jean mahal seperti mobil mewah. Kalau sampai pemilik salah mengganti oil maka akan berabe. Alumni Universitas Bina Nusantara tersebut akan meyakinkan hati pelanggan. Maka dia belajar keras soal jean impor mahal tersebut. Dia juga mendatangkan mesin chainstitch khusus jean dari Jepang.

Bayangkan jean berbagai merek tersebut harganya sampai Rp.3 juta- Rp.6 juta per- potong. Berkat niat tulus memperdalam pengetahun tentang jean itulah; David dipercaya pelanggan mampu. Hingga dia menggaet pelanggan dari pejabat, selebriti, mahasiswa, pengusaha, dan profesi lainnya.

Dia menggaet bahkan keluarga Cendana. Beberapa pemain bola nasional juga menjadi pelanggannya. Sudah dua tahun lebih berjalan, David telah memiliki dua gerai besar di mall terkemuka Jakarta. Pelanggan juga rela datang dari Yogyakarta, Medan, Pekanbaru, sampai luar negeri yaitu Singapura dan Australia.

Pelanggan datang langsung atau mengirim lewat ekspedisi. Permak ala Jakarta Jean House (JJH) mencapai Rp.15.000- Rp.120.000. Sehari pihaknya mampu mereperasi 50 jean impor. Bisnis ini juga telah merambah jin impor kustom Rp.538.000- Rp.688.000 per- potong. Kalau jasa baru ini David menerima tujuh pesanan sehari.

Anak montir


Otak bisnis pakaian sudah sejak kuliah. Dia menjual lewat memotret baju- baju di Pasar Tanah Abang. Tiap pagi rela mengantri membeli baju. Ke kampus maka kanan- kiri menenteng tumpukan baju. Bahkan sempat dia akan diskor lantaran berjualan. "Pak, bapak tahu enggak kenapa saya jualan? Untuk bayar kuliah," ujar David.

Dia lantas menambahi kalau dia tidak jualan maka tidak kuliah. Tidak kuliah berarti tidak membayar gaji para dosen. "Kalau saya tidak kuliah, bapak tidak bisa gajian karena gaji bapak berasal dari duit mahasiswa," ujar David menirukan.

Tren nudie jean memang tengah digandrungi. Selain karena brand tetapi juga karena mahal. Ini kesempatan tidak dibuang sia- sia. Kalau ayah David membuka bengkel otomotif, maka putranya membuka bengkel buat jean. Waktu itu ia sempat disepelekan teman- teman. Mereka masih asing menganggap kecil tukang permak jean.

Agar tidak disepelekan uang Rp.15 juta dikeluarkan sisa Rp.300 ribu. Uang hasil jualan pakaian selama berkuliah diputar kembali jadi bisnis. Memang permak jean dimana- mana tetapi bukan khusus jean mahal. Maka termasuk memberikan solusi menjaga kualitas jean.

JJH dibuka di Cipete berukuran 1,3 meter, membeli mesin, dan renovasi. Mesin permak impor dari Jepang tersebut menghasilkan jaitan berantai. Yang menghasilkan roping effect khas jean impor. Dia menyebutkan keasilian jean akan terjaga.

Ini membuat JJH menjadi permak jean terbaik se- Indonesia bahkan Asia. Enam bulan pertama perjalanan bisnis mampu membelik orang tua mobil.

"Saya cari tau masalah jean. Ketika dipotong ternyata tidak sembarangan dipotong," tuturnya. Omzet dapat dikantongi sampai Rp.35 jutaan. Berbeka keyakinan saja maka bisnis sepele mampu mendapatkan nilai jual lebih.

Strategi marketing terbaik tidak spesifik sih. Dia memanfaatkan sosial media, mulai dari Twitter, Facebook, Instagram, BBM, dan lainnya. Tidak ada terori khusus, seperti dana cadangan agar selama 3 bulan kemudian ada backup. Itulah David cuma bergerak berdasarkan insting akan sukses. Semua tinggal dijalankan sambil jalan.

Artikel Terbaru Kami