Sabtu, 13 Februari 2016

Anyaman Rumput Kering Aneka Tas Wanita

Profil Pengusaha Mawar 


 
Apa jadinya kalau rumput dijadikan kerajinan. Ternyata bisa, dan menghasilkan jutaan rupiah. Seperti halnya wanita bernama Mawar ini. Wanita 32 tahun asal Nusa Tenggara Barat, asal Dusun Ngurbaya Gawah, Des. Batu Mekar, Kec. Lingsar, Kab. Lombok Barat, yang menamai usahanya Mawar Art Shop.

Usahanya pembuatan aneka tas berbahan rumput. Awalnya masyarakat sekitar membuat menjadi tatakan piring, nampan, ataupun tempat perhiasan. Ditangan Mawar produk lokal merambah aneka aksesori wanita. Uniknya rumput tersebut tidak dimakan rayap tetapi kuat seperti rotan.

Alhasil dia mendapatkan penghargaan UNESCO Award, dari PBB, disaat mengikuti Trade Expo Jakarta tahun 2010 silam. Nama rumput ini adalah rumput ketak. Menurut Mawar sudah lama dikenal memang bisa digunakan menganyam. Meski begitu soal pemasaran warga lokal cenderung enggan dan abai marketing.

Maka Mawar bersama suami, Suhartono, merintih usaha mapan sendiri sejak 1999. Fokus membuat semua kebutuhan fashion wanita. Soal marketing diamati betul oleh pasangan pengusaha ini. Mereka merasakan kita tidak bisa menunggu pelanggan datang ke galeri seni kita.

Mawar berserta beberapa pengrajin lain membuka galeri sendiri. Meski terletak dikawasan pelosok tetapi itu tidak membuat mereka patah semangat. Meski begitu usaha lokal rumput ketak merambah penjualan sampai ke Bali. Setiap produk dipajang dijejerkan siap didatangi pembeli dipesan sampai manca negara.

Hingga, pristiwa bom bali 2002 terjadi, berjatuhanlah galeri kesenian kampung. Berguguran hilang pesanan dari Bali, lain hal Mawar Art Shop, dia dibantu kakaknya tetap mampu bertahan hingga sekarang. Semua karena Mawar tidak mau berdiam diri kehilangan pendapatan, tetapi menjemput bola pelanggan.

Promosi cerdik


Sejak awal Mawar menerapkan marketing langsuang. Salah satu andalannya ialah mengikuti aneka pameran. Dia ikuti saja dinas terkait ataupun bank pemberi kredit bisnisnya. Aneka pameran ternyata memberikan dorongan penjualan partai banyak. Atau juga penjualan secara eceran, laris manis diborong oleh pembeli.

Bahkan dia mendapat pesanan ekspor. Dua tahun berselang sudah mengirim ke Jepang, sampai 3.000 buah per- tiga bulan. Termasuk pesanan langsung Amerika, Kanada, dan Australia, di tempat. Ia mempertahankan strategi tersebut. Di kampung, yang dulunya ada 12 galeri, kini tinggal galeri Mawar Art Shop yang bertahan.

"Dengan jemput bola, justru lama- lama tamu yang mencari art shop kami di kampung," jelas Mawar.

Uniknya melihat bisnis Mawar awet, para perajin lain malah memilih tidak berbisnis. Padahal mereka masih berproduksi. Mereka memilih menyetorkan produk mereka ke Mawar. Inilah yang kita sebut sebagai satu kekuatan brand yang tidak bisa dibeli. Mereka juga menyetor ke toko lain tetapi terbatas di kawasan Bali.

Dia menjelaskan 75% produksinya merupakan tas aneka bentuk khusus perempuan, dikombinasi aneka kain tenun ataupun batik. Sisanya standar produk berupa aneka perelengkapan rumah tangga.

Mengikuti aneka pameran tingkat nasional membawa untunga. Menembus pasar ekspor, membawa nama Mawar sampai ke negara Jepang dan Korea. Tepatnya dia diajak mengikuti pameran Tokyo Gift Show dan Seoul Gift Show. Produk karyanya mendapatkan pendampingan khusus Japan External Trade Organization (Jetro).

Usaha yang didukung oleh ribuang pengrajian lokal daerah. Mawar mampu memenuhi permintaan ekspor yang tinggi. Dia dibantu oleh 30 orang pegawai giat melakukan promosi. Uniknya baik pengrajin maupun dari pegawainya kebanyakan perempuan. Menurut cerita sih mereka ibu- ibu yang ditinggal suami menjadi TKI di Malaysia.

Pekerjaan pun dapat dibawa pulang mempermudah produksi. Mereka cukup membawa bahan baku, yang dibayar sistem borongan, dibawah kordinasi 10- 15 orang kordinator.

Kalau dimisalkan produksi tas butuh waktu 3-4 hari, maka upah dibayar ialah Rp.100.000- 150.000 per- buah. Kebanyakan pegawai Mawar merupakan pegawai sampingan. Mereka nyambi sambi mengurusi anak atau memasak di dapur. "Banyak dari janda- janda Malaysia," pungkasnya. Tetapi mereka bukanlah janda sungguhan.

Itu sebutan bagi mereka istri ditinggal suami bekerja di Malaysia. Mereka baru mendapatkan kiriman enam bulan sekali. Ia menjelaskan bahwa sukar bagi mereka memenuhi kebutuhan, tentu sukar mengatur jumlah pengeluaran. Kerajinan ketak setidaknya memberikan penghasilan tambahan. Harga jualnya Rp.150.000- Rp.1,5 juta.


Semakin rapat rumput maka semakin mahal harga jual. Semakin lama pula pembuatan sehingga kualitas bisa terjamin. Pengolahan rumput ketak cukup dibelah dan diambil intinya. Mawar kemudian menyerut rumput itu disesuaikan ukuran. Rumput lantas dikeringkan diatas matahari sampai kering baru dianyam.

Meski terlihat sepele tetapi dibutuhkan kecekatan. Selain itu kondisi matahari sangat menentukan keringnya bahan baku. Ia menambahkan bagian luar jangan dibuang karena juga dapat dianyam. Mengerjakan usaha ini cukup bermodal pisau, pisau serut, dan kulit bekas baterai (untuk menyeragamkan ukuran).

Artikel Terbaru Kami