Kamis, 04 Februari 2016

Miliarder Wardoyo Kaya Berkat Kaligrafi Kuningan

Profil Pengusaha Kaligrafi Asal Grabak 



Enam tahun lebih memulai usaha kaligrafi Grabak. Apa itu? Ternyata penulis mengusut itu merupakan nama daerah di Magelang. Daerah Grabak dikenal sebagai daerah produktif. Nama tersohor menghasilkan aneka kerajinan sapu rayung ataupun ukiran tanduk. Selain itu adapula kerajinan kuningan yang berupa relief serta kaligrafi.

Inilah kisah Wardoyo, pria kelahiran 1960, yang memulai usaha kuningan asli daerahnya. Uniknya karena dia merupakan mantan kontraktor asal Bali. Selam tiga tahun pekerjaan itu tidak membuahkan. Ia mulai banting stir menjadi produsen kerajinan. Pasarnya tidak cuma lokal tetapi sudah mencapai internasional loh.

Dia tidak menyanggah mitos usaha butuh modal. Wardoyo mampu pula menyanggah bahwa usaha butuh pendidikan formal. Semuanya hanya mengikuti usaha tanpa henti lebih dari enam tahun. Untuk meyakinkan pembeli tanpa segan dia memberikan garansi.

Jaminan garansi 2 tahun meyakinkan produk tidak bakal rusak. Bila rusak dia siap memperbaiki kalau perlu ditukar barang atau uang. Ia meyakinkan produk kaligrafi kungingan buatannya mampu bertahan 20 tahun.

Cuma lulusan SMA semua usaha dijalankan Wardoyo hasil belajar sendiri. Otodidak lah istilahnya mulai dari jasa servis elektronik sampai menjadi kontraktor. Usaha kaligrafi kuningan didirikan Wardoyo telah lama dan menghasilkan miliaran. Ia mempekerjakan 730 orang karyawan, yang menghasilkan 1.700 kaligrafi setiap bulan.

Mereka bahkan digaji tinggi melebihi perusahaan ternama. Pasalnya usaha dibawah bendera CV. Sari Agung Perkasa ini telah menyebarkan produknya hampir ke seluruh Indonesia. Wardoyo bahkan membuat tim kerja bersifat agen. Ada 31 tim kerja berisi 12 orang per- tim mulai menyebar menjajakan kaligrafi.  Setiap tim sudah dipasrahi satu daerah buat diurus.

Usahanya tersebar mulai Bandar Lampung, Jambi, Palembang, Medan, Binjai, Bengkulu, Riau, sampai juga Banda Aceh. Kota besar di Sulawesi Utara hampir semunya dipegang oleh Wardoyo. Mantan tukang servis elektronik asal Pasar Rejowinangun mengaku usahanya laris manis, terutamanya kawasan Pontianak.

Padahal itu harga satu kaligrafi dibandrol murah yakni Rp.800 ribu sampai Rp.3 juta. Itu tergantung ukuran serta kualitas produk. Dia berani menjamin produk kaligrafi miliknya kuat 20 tahun. Kepuasan pelanggan itu utama agar tidak lari. Tiga pulau dikuasai, ketika ada komplain, tidak segan Wardoyo menemui langsung.

Dia menyiapkan nomor hp buat dihubungi 24 jam non- stop. Otodidak mampu mewujudkan kata mapan bahkan menghasilkan miliaran rupiah. Uniknya meski berhasil dia tetap menjadi sosok sederhana. Di rumah sederhana itu tidak ada mobil mewah layaknya pemilik perusahaan. Bahkan tanah didekatnya becek karena air hujan.

Hanya terlihat motor berjejer rapi milik pegawai Wardoyo. Motor mereka berjejer disela setumpuk bingkai kayu yang bertumpuk belum diselesaikan mereka.

Artikel Terbaru Kami