Senin, 01 Februari 2016

Travel Online Valadoo Pelajari Kegagalan

Profil Pengusaha Jaka Wiradisuria



Kenapa membukan jasa travel online. Tentu ini kan jamannya teknologi internet ada di genggaman kita. Inilah kisah tiga orang sahabat yaitu ada Jaka Wiradisuria, Aris Suryamas, dan Bondan Herumurti, yang berjaya memberikan layanan travel online. Pada Desember 2010, lahirlah Valadoo fokus melayani liburan domestik.

Tentu lewat jalur internet memudahkan kita semua. Salah satu pendiri, Jaka Wiradisuria, menjelaskan bahwa mereka bukanlah keturunan pengusaha. Terutama dia yang menyebut keputusan menjadi pengusaha gila. Dia tidak pernah membayangkan bahwa bisnis ini sukses.

Bahkan sejak awal pembuatan, Valadoo bukan disiapkan menjadi bisnis travel online. Mereka saat itu tengah keranjingan bisnis daily deal. Waktu itu memang bisnis online daily deal tengah naik daun alias booming. Jika dirunut munculnya Valadoo bersamaan Disdus dan Dealkeren asli Indonesia.

Untuk kasus lain Disdu dan Dealkeren masing- masing diakuisis oleh Groupon dan Livingsocial. Sementara itu mereka tertinggal beberapa saat -tetapi malah menjadi berkah tersendiri. "Kami kesulitan tanpa ada investor. Setelah empat bulan berdiri, perkembangan Valadoo cenderung stagnan," kenang Jaka.

Bukan bisnis biasa


Jaka sendiri selepas kuliah pernah bekerja di satu perusahaan asing. Hanya saja setelah 2,5 tahun mengalami kejenuhan. Sebelum berbisnis Valadoo pernah beberapa kali berbisnis. Jaka pernah berbisnis karet bersama teman tetapi ya gagal. Alasan Jaka adalah kehilangan fokus karena bisnis tidak penuh.

Perubahan bisnis daily deal menjadi travel online butuh pertimbangan. Mereka kemudian mengambil kiblat ke arah Wego, sebuah mesin pencari travel besutan Ross Veitch, eksekutif Yahoo dan sekaligus menjadi mitra bisnis Valadoo. Jaka melihat potensi pasar travel Indonesia besar sekali. Mereka akhirnya fokus pada bisnis travel domestik saja.

Pasar target adalah anak muda yang rindu tujuan domestik. Ukuran Sabang sampai Marauke memang dirasa menggambarkan bisnis Valadoo yang senilai Rp.5 miliar. Mereka menawarkan paket portfolio destinasi yang dikategorikan khusus, mulai gunung, olah raga menyelam, aneka pantai, kesenian dan budaya, romantis, dan banyak lagi.

Jaka menjelaskan menguatkan spesialisasi justru menjadi kunci. Istilahnya kalau menyasar tujuan luar negeri apa bedanya Panorama Tour. Dia sambil bercanda kalau itu sudah ada sejak dia lahir. Maka Valadoo harus memiliki perbedaan signifikan. "Jadi kami hanya fokus di traveling Indonesia saja," kata Jaka.

Dia sendiri meyakinkan bahwa Valadoo berbeda. Termasuk soal kemudahan, serta kelengakapan destinasi terbaik di Indonesia. Sebagai CEO Valadoo, meyakinkan kamu mendapatkan yang terbaik, sekaligu mudah mendapatkan tiket perjalanan. Bahkan kalau musim hujan maka tidak akan menampilkan liburan di luar.

Melengkapi pelayanan, perusahaan menyediakan blog travel bernama Jelajah. Memastikan kamu mendapat pengalaman review destinasi seapik mungkin. Tambahan lain yaitu adanya konsultan destinasi yang berasal dari kalangan selebriti. Ada 13 konsultan membantu berjalannya bisnsi Valadoo. Pendekatan akan melalui sosial media.

Strategi bisnis travel online: Engagement, newsletter, dan penjualan. Engagement dilakukan lewat sosial meda Facebook, Twitter, Pinterest. Kamu harus meyakinkan bahwa tidak cuma sekedar jualan. Soal newsletter berarti email yang dikirim ke email kamu. Tidak cuma berisi produk ditawarkan tetapi juga aneka tips dan review.

Total menurut Jaka berjumlah 26.000 pelanggan. Melalui engagement, kemudian newsletter sampai saatnya berjualan. Tambahan lain yakni melakukan branding lewat Malesbanget.com. Kamudian ditambah layanan Google Adword dan penerapan SEO (Search Engine Optimization) supaya relevan pencarian pengunjung.

Tiga bulan saja pengunjung situs naik 300% dan penjualan meningkat 500%. Karena mengandalkan tujuan wisata sendiri, Valadoo siap menggaet pengunjung luar negeri. Mereka bahkan menargetkan pendapatan bisa naik sampai Rp.1 miliar per- bulan.

Pembayaran paket wisata pun dibuat semudah mungkin. Yakni melalui kartu kredit, PayPal, atau ATM, dan lainnya yang mempermudah siapapun (wisatwan asing atau lokal). Paket wisata dijualnya variatif mulai dari Rp.100 ribu hingga Rp.10 juta. Valadoo sudah memiliki 80.000 orang hingga omzet mencapai Rp.5 miliar.

Bisnis tidak berarah


Sukses Valadoo ternyata tidak selamanya bertahan. Agustus 2014, menurut Techinasia.com, perusahaan Jaka mulai kehilangan arah dari tujuan semula. Biaya marketing membengkak sementara target pasar mereka lepas. Kerja sama dengan situs Malesbanget.com ternyata tidak berarti.

"Sebelumnya biaya marketing kami sangat tinggi. Salah satunya adalah ketika menjalani kerja sama dengan MaleBanget.com," tuturnya dalam satu sesi wawancara.

Dalam wawancara ini keputusan melakukan marger malah berakhir sia- sia. Padahal maksud awal dia adalah mengurangi biaya marketing. Marger dengan Burufly tidak berarti kerena perbedaan basis aplikasi: Valadoo menggunakan Drupal, sementara untuk Burufly menggunakan Drupal. Burufly sendiri merupakan sosial media sejenis Pinterest.

Bedanya Burufly fokus hal travel khususnya tanah air, "...maka kami memutuskan untuk melakukan merger," tuturnya.

Meski sudah didukung oleh Wego berupa pendanaan. Sayang, Jaka dan kawan- kawan setuju untuk segera menutup Valadoo. Meski berat sebagai CEO, kepercayaan staf ada ditanganya, keputusan menutup bisnis ini tidak terelakan. Menutup Valadoo berarti membuang aset berharga tetapi tidak dijelaskan berapa nilainya.

Situs Valadoo secara akses masih bisa diakses, tetapi tidak dapat berfungsi seperti halnya. Tidak dapat dia pungkiri bahwa berbisnis travel berat. Apalagi ternyata pemain terus bermunculan mengusung layanan yang hampir sama. Sebut saja Gogonesia, yang disarankan Jaka mempertajam arah bisnis mereka lebih tajam.

Gogonesia sendiri masih memiliki lima orang pegawai. Jadi tepat bagi mereka agar lebih membaca hal pasar agar tidak terulang kesalahan Valadoo. "...karena model layanan kami sangat mirip," kenangnya. Sementara itu pegawai Valadoo sebagian besar sudah berpindah. Sebagian mereka masuk Tiket.com atau industri travel lain.

Menjadi entrepreneur ada perasaan ego harus dilawan. Ini memukul telak bagi kehidupan seorang Jaka. Ia pun menambahkan kesalahan sudah sejak tiga sampai lima tahun lalu. Jaka sempat akan mendirikan startup baru. Teman dekat Jaka, Aldi Haryopratomo, sang CEO Ruma sempat menawarkan bergabung.

Egonya muncul karena harus bekerja untuk orang lain. Tetapi sudahlah, dianggap oleh Jaka bahwa ini akan menjadi S-2 baginya di dunia nyata.

Artikel Terbaru Kami