Rabu, 03 Februari 2016

Pembuat Vespa Kaleng Bekas Bir Menjaga Lingkungan

Profil Pengusaha Herdian Sinung dan Ogifson Harianja


 
Menjadi pengusaha tidak harus mahal. Sebut saja kisah Herdian Sinung, pemuda 24 tahun yang memulainya cuma bermodal keprihatinan. Ia memiliki kepedulian akan sampah kaleng. Mereka tidak bisa diserap oleh tanah dan menjengkelkan kalau didaur ulang. Maka, ditambah sedikit kreatifitas, jadilah bisnis unik yang murah meriah.

Seorang seniman yang membuat aneka barang pajangan. Mulai berbentuk manusia, binatang, ataupun aneka motor. Terutama motor vespa buatannya menjadi paling diminati. Ia cukup memanfaatkan kaleng bir maka jadilah motor vespa Bir Bintang. Berkat kreatifitas itulah dia mendapat banyak untung, bahkan sampai jutaan.

Dia berawal dari rasa tidak nyaman karena sampah kaleng. Kaleng tersebut diinjak kemudian dibawah oleh pemulung didaur ulang. Padahal memang bahan kaleng memiliki fleksibilitas. Bisa dijadikan aneka hal seperti dilakukan oleh kawannya. "...liat teman bikin kerajinan dari kaleng, kok menarik," pungkasnya.

Sejak tahun 2011, mulailah dia mencoba membuat aneka kerajinan kaleng. Dia bersama kawan kemudian menjual melalui aneka kesempatan. Mereka berpikir keleng bekas minuman banyak, akan tetapi kebanyakan menjadi sampah. Tidak banyak mampu didaur ulang oleh warga. Berfikir kenapa tidak membuat sampah jadi berharga.

"Kita menghasilkan duit, buat lingkungan juga bagus," jelas dia.

Pemuda yang akrab dipanggil Herdian ini bersama mendirikan workshop di Kalimalang Jakarta Timur. Dia bersama Ogifson Harianja satu atap membangun bisnis. Tempat produksinya tersebut menghasilkan aneka kerajinan kaleng bekas. Produk miniatur kalengnya terlari yakni vespa, pohon natal, kapal phinisi, dan orang menari.

Hasil produk tidak terbayangkan karena detail. Untuk pewarnaan dibiarkan seperti biasanya tenpa diubah. Ini akan mempertegas bahwa produk tersebut daur ulang. Berkat aksi Herdian dan Ogi inilah menjadi daya tarik tersendiri pasar luar negeri.

Daur ulang



Kegiatan mendaur ulang memang bukan hal baru. Cuma berbeda dengan kegiatan mengepul sampah biasa. Apa yang dihasilkan oleh Ogi memang menghasilkan berkali lipat. Dalam perjalannya banyak kegiatan sudah diikuti guna mempromosikan. Utamanya Pekan Raya Jakarta, Ogi bahkan mampu menyewa stan sendiri.

"Sayang lingkungan... sayang lingkungan," slogan Ogi mempromosikan. Produk mereka juga makin variatif seperti asbak, aneka robot, dan lain- lain. Jika Herdian memulai sejak tahun 2011, maka Ogi sudah memulai awal sejak 2009 -an.

Dia berpikir seandainya bisa dijadikan sesuatu pasti menghasilkan. Memang sudah banyak kisah sukses di bidang bisnis lingkungan seperti ini. Dan nampaknya Ogi sadar betul akan potensi bisnis tersebut. Dia mulai memunguti kaleng minuman. Diubah sendiri menjadi aneka kerajinan. Banyak kegagalan telah dilalui oleh Ogi di awal.

Pria kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, memang dikenal suka menjaga lingkungan. Istilahnya pengepun tapi bukan pengepul semabarang: Lima belas kaleng diubahnya menjadi kerajinan miniatur vespa. Kemudian buat miniatur motor gede dari kaleng minuman dibutuhkan 30 buah kaleng. Untuk jenis kaleng bermacam- macam sampai kaleng bir jadi.

Kaleng sebelumnya didesain dulu sebelum disulap menjadi miniatur. Kalau kamu pikir ini mudah, cobalah maka kamu akan tau Ogi bukan sembarangan. Bahan aluminum di kaleng yang lentur dipotong, dibentuk jadi bagian- bagian motor seperti stang, jok, kap mesin, lampu, pokoknya mendetail.

Dalam sehari Ogi mengaku bisa menghasilkan 3 buah miniatur. Jika bengkel atau workshop motor beneran akan dipenuhi perlatan, apa yang dibutuhkan ia cuma gunting, lem, dan pisau potong. Butuh ketelitian ketika mengerjakan karena detailnya.

Bisnis hijau


Hal yang dilakukan mereka berdua merupakan kebaikan. Bayangkan kalau kaleng minuman sekali diminum akan langsung dibuang. Kalau sudah jadi minatur vespa? Kita bisa menjadikan itu pajangan atau juga media bagi anak belajar.

Harga jual miniatur vespa dibandrol Rp.100 ribu. Motor Harley akan dibandrol lebih mahal yakni 250 ribu. Lalu ia mengingatkan selepas membuat miniatur jangan lupa limbahnya. Setelah digunting- gunting memang ada sisa potongan alumunium yang tersisa."Jangan sampai mengolah lembah, kita masih membuat limbah," ujar ayah 3 anak ini.

Meski secuil kalau kita rajin dikumpulkan bisa dijual kembali. Berkat kecintaan akan lingkungan inilah, sikap gigih Ogi terbayar seperti suatu ketika, dalam waktu 4 jam, dia berhasil menjual ludes 70 miniatur vespa dan motor antik. "Silakan Kak, diliat- liat. Beli motor saya nggak pake BPKB dan STNK," promonya.

"Tapi dikasih kunci gak?" balas seorang wanita, yang kemudian diikuti darai tawa.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) tertarik akan kerja keras Ogi dan Herdian. Ini sangat menginspirasi orang dijelaskan. Sambil melambaikan tangan, Ahok menyapa Ogi seolah mereka telah akrab sekali. Ogi semakin bersemangat mempromosikan produknya. Memang seniman juga berarti pandai meraih hati pembeli.

Layaknya produk seni lain dinilai bukan karena uang. Tetapi semakin rumit layak diapresiasi kita seharga Rp.100 ribu bahkan jutaan rupiah. Herdian menceritakan pernah membuat pohon natal setinggi satu meter. Itu laku dijual sampai Rp.2 juta dan membutuhkan 20 kaleng alumunium.

Peminat pun datang dari luar negeri, seperti Asia sampai Eropa;Jerman, Prancis, dan Malaysia. Mereka itu biasanya peminat penghobi motor antik. Adapula sekedar kolektor karya seni jelasnya. Kegigihan dibuktikan lewat menjual lewat internet. Berkat itu produknya menyebar sampai diminati orang Perancis.

"...karena lihat di internet lalu pas datang ke Indonesia dia (orang Prancis itu) mau menyempatkan dateng ke workshop kita di Kalimalang," paparnya. Orang Perancis tersebut bahkan berminat membeli kembali sampai sehari bisa menghasilkan Rp.1- 2 juta.

Bahan baku mudah didapatkan cukup membeli dari pemulung. Dia akan menghargai Rp.12.000/kg. Nah, ia mengaku kalau tidak cukup, Herdian mengaku siap turun tangan. Pemuda 25 tahun akan siap turun tangan menjadi pemulung. Tidak malu menyisiri tempat sampah buat menemukan sekaleng bekas minuman.

Malu? Tidak lah, layaknya pengusaha sukses lain, baginya rasa malu bukan lagi penghalang sudah tidak ada gengsi melainkan memanfaatkan kesempatan.

Artikel Terbaru Kami