Minggu, 07 Februari 2016

Wirausahawan Sejak Muda Keripik Tahu Juara

Profil Pengusaha Didik Usmanto 



Jualan tahu bisa menjadi pilihan berwirausaha. Istilahnya seluruh masyarakat Indonesia pasti selera. Namun, Didik sempat tidak percaya diri, merasa minder ketika memulai berjualan. Dia merasa tidak percaya atas olahan tahu karyanya. Didik Usmanto perajin tahu asal Kajen, Kabupaten Pekalongan, yang ternyata cuma otodidak.

Pengetahuan akan tahu terbilang cekak. Dibandingkan tekatnya mungkin tidak setara. Maka Didik sangat berniat belajar sampai tidak takut lagi. Cuma lima tahun sudah cukup mengangkat namanya, hingga mencapai angka omzet Rp.10 juta per- bulan.

"Awalnya saya ikut pelatihan vokasi di desa saya, sekitar tahun 2009 silam," kenangnya. Pandangan pertama kali baginya tidak jelas, buram. Didik memulai ketika umur 22 tahun berbisnis tahu. Kemudian ia melangkah menjadi pengusaha keripik tahu.

Pendidikan formal seorang Didik adalah SMK Jurusan Akutansi. Meski begitu sejak awal dia memang mau menjadi pengusaha muda. Ingin membuat usaha keripik tahu terangnya. "Ndak nyambung ya," celetuknya beriring tawa ringan. Waktu 4-5 tahun dilalui oleh Didik sembari meyakinkan diri bahwa dia bertekat kuat.

Usaha mepet


Meski kepepet tetapi Didik tidak mau mundur. Dia tidak berhenti berbisnis dan memilih bekerja saja. Tekat kuat itu didukung oleh sang istri, Milasari, wanita asli Perum Griya Permata Indah, Desa Tanjung Sari, Kec. Kajen, Kab. Pekalongan. Sambil mengasuh putra semata wayangnya, bekerja bersama membangun usaha dari nol.

Ia memesan tahu kusus dari perajin. Dibutuhkan tahu putih spesial berserat lembut. Dia melanjutkan kalau tahu kuning tidak cocok.

Cara membuat keripik tahu menurut Didik: Tahun putih tersebut diiris sampai tipis. Selepas itu kita siapkan tepung beras kualitas bagus dan bumbu dapur. Seperti bawang putih, garam, dan ketumbar harus disediakan dulu. Aduk tepung beras tadi masukan bumbu semua ke dalam.

Irisan tahu dicelupkan satu per- satu ke adonan bumbu. Goreng langsung ke wajan yang telah dipanaskan. Tahap pertama penggorengan keripik harus benar kering. Sudah digoreng lantas diangkat disimpan selama seminggu. Tujuannya agar menghilangkan sisa minyak serta proses fermentasi. Hasilnya itu nanti renyah dan meresap.

Sukses disimpan sepekan barulah tahu digoreng kembali. Ingat proses penggorengan kedua cuma beberapa menit. Proses penggorengan kedua menurut Didik cuma memanaskan keripik saja. Tidak butuh waktu lama keripik siap dikemas. Itulah kiranya resep keripik tahu Pekalongan milik ayah dari Yusuf Fairus ini.

"Saya jual 200 gram seharga Rp.11 ribu," papar Didik. Ia menceritakan sekarang sebulan dia memproduksi keripik sampai 1.000 bungkus. Jajanan keripik tahu khas Pekalongan ini meraih omzet sampai Rp.10 juta per- bulan. "...tapi itu omzet kotor," jelasnya merendah.

Perjalanan keripik Didik tidak semulus membuatnya. Suami Mirna ini sempat frustasi karena gagal meramu resep pilihan. Tidak patah arah karena memang berwirausaha sudah dicitakan sejak dulu. Dia terus mencoba hingga keripik tahu Didik masuk ke supermarket sampai ke luar kota.

Keripik tahu bikinannya diklaim mampu mengurangi kolesterol. Didik memang menambahkan bumbu rahasia ke dalamnya. Keripik enak ini telah disetorkan merata di seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan. Makanan yang diklaim olehnya mengandung vitamin B, protein, rendah lemak, kerbonhidrat, kini telah merebak ke luar kota.

Tidak terbayang kalau dia sampai mengikuti perasaan mindernya. Tentu tidak akan tercipta keripik tahu khas Pekalongan. Untuk karyawan justru menjadi kendala terbesar. Permintaan yang terus meningkat terkadang tidak sesuai jumlah karyawan. Para karyawan baru sering mengundurkan diri. Ini karena meras kesulitan soal menggoreng.

Didik menjelaskan itu karena kalau kelamaan gosong, tetapi juga tidak boleh kurang matang, tidak akan bisa mengembang. Didik hanya dibantu istri mengerjakan semua sendiri.

Artikel Terbaru Kami